BERTUAHPOS.COM — Sri Lanka berencana mengolah air asin dari laut sebagai antisipasi jika krisis air tawar akibat El Niño terus memburuk. Rencana ini muncul di tengah kekeringan terburuk dalam satu dekade yang melanda negara tersebut, dengan lebih dari 160.000 orang kini menghadapi kekurangan air minum karena sejumlah waduk utama mengering.
Pusat manajemen bencana Sri Lanka tengah mempersiapkan diri menghadapi skenario terburuk, yaitu lenyapnya pasokan air tawar. Seorang pejabat menyebut kondisi tersebut sebagai situasi tanpa jalan keluar lain selain mengandalkan air laut. “Jika sumber air mengering, tidak akan ada cara alternatif untuk mendapatkan air,” kata pejabat tersebut dikutip dari The Guardian, Jumat, 18 September 2026.
Kolombo kemudian akan terpaksa mengolah air asin dari laut jika skenario itu terjadi. Namun, mengandalkan satu-satunya pabrik desalinasi yang dimiliki negara tersebut dinilai tidak layak untuk memenuhi kebutuhan air dalam skala besar.
Dampak kekeringan tidak hanya dirasakan manusia. Para pejabat terpaksa menutup area wisata Taman Nasional Yala, rumah bagi macan tutul, gajah, buaya, dan rusa tutul, sekaligus mendatangkan truk tangki air untuk mengisi kolam agar hewan-hewan di dalamnya tidak mati.
Di laguna Mullaithivu, wilayah timur laut Sri Lanka, ribuan ikan ditemukan mati akibat kekurangan air tawar. Kondisi ini menggambarkan betapa parahnya dampak minimnya curah hujan terhadap ekosistem di negara tersebut.
Krisis air di Sri Lanka merupakan dampak paling intens dari fenomena El Niño yang melanda kawasan Asia Selatan. Kurangnya curah hujan dan suhu tinggi yang berkepanjangan menjadi penyebab utama memburuknya kondisi sumber daya air di negara itu.
El Niño juga menimbulkan kerusakan di negara tetangga, India, meski dengan tingkat keparahan berbeda. Di beberapa wilayah India, kekurangan curah hujan monsun mencapai hampir 50% pada bulan September, berdampak luas pada tanaman utama seperti padi, kacang-kacangan, kapas, dan jagung.
Kekhawatiran meningkat bahwa hasil panen bisa berkurang dalam beberapa bulan mendatang. Kondisi ini berpotensi menaikkan harga pangan yang sebelumnya sudah memberatkan keluarga miskin dan kelas menengah ke bawah.
Pemerintah India merespons ancaman tersebut dengan pendekatan yang sangat waspada. Menteri Pertanian India, Shivraj Singh Chouhan, menggambarkan langkah pemerintah sebagai upaya membangun “perisai pelindung bagi para petani”.
Di lebih dari 350 distrik yang rentan, pihak berwenang India meningkatkan infrastruktur konservasi dan pemanenan air. Petani juga didorong menanam tanaman yang membutuhkan sedikit air dan berumur pendek, seperti kacang-kacangan dan millet, guna mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan.









