BERTUAHPOS.COM — Harga CPO diproyeksi bertahan pada level tinggi hingga 2027 seiring menguatnya kebutuhan biodiesel di Indonesia dan potensi gangguan produksi akibat fenomena El Niño. Kedua faktor itu diperkirakan memperketat pasokan serta menopang harga minyak sawit di pasar global.
Hong Leong Investment Bank (HLIB) mempertahankan proyeksi rata-rata harga CPO Malaysia sebesar RM4.450 per ton untuk 2026 dan RM4.500 per ton pada 2027. Proyeksi tersebut bertumpu pada perkiraan semakin ketatnya keseimbangan antara pasokan dan permintaan minyak sawit.
Lembaga riset itu juga mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor perkebunan. HLIB memberi preferensi kepada perusahaan yang memiliki eksposur lebih besar di Malaysia.
HLIB menilai sejumlah emiten perkebunan berpeluang mencatatkan kinerja keuangan yang lebih baik. Peluang itu muncul seiring peningkatan produksi musiman dan penguatan harga produk sawit.
Perusahaan perkebunan dalam cakupan riset HLIB diperkirakan membukukan peningkatan laba pada kuartal III 2026. Kenaikan tersebut ditopang produksi yang secara musiman lebih tinggi, penguatan harga produk sawit, serta kontribusi bisnis hilir yang relatif terjaga.
Produksi tandan buah segar perusahaan-perusahaan dalam cakupan analisis HLIB meningkat antara 6% hingga 35,6% pada kuartal III 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya. Perusahaan yang lebih berfokus pada perkebunan di Malaysia mencatatkan pertumbuhan produksi kuartalan yang lebih kuat.
Perusahaan tersebut antara lain Hap Seng Plantations Holdings Bhd, IOI Corp Bhd, dan Jaya Tiasa Holdings Bhd. Pertumbuhan produksi ketiganya melampaui sejumlah perusahaan yang beroperasi di Indonesia.
Sebagian besar perusahaan memperoleh manfaat dari peningkatan hasil panen setelah menjalankan program peremajaan tanaman pada periode sebelumnya. Jaya Tiasa menjadi pengecualian karena produksinya tertekan percepatan program peremajaan yang mengurangi luas areal panen.
Tekanan pada Jaya Tiasa bertambah oleh kelembapan tanah berkepanjangan yang berdampak terhadap produktivitas tanaman. Kondisi itu membedakan posisinya dengan emiten lain dalam cakupan riset.
Aktivitas pengisian kembali persediaan secara proaktif diperkirakan menopang permintaan. Langkah tersebut berlangsung di tengah ketidakpastian geopolitik dan persiapan penerapan Regulasi Antideforestasi Uni Eropa atau European Union Deforestation Regulation (EUDR).*









