BERTUAHPOS.COM — Memasuki musim penghujan, masyarakat di Provinsi Riau diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi perubahan cuaca yang dapat terjadi dalam waktu singkat.
Hujan dengan intensitas tinggi berpotensi memicu sejumlah bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor di Bumi Lancang Kuning.
Koordinator BMKG Provinsi Riau, Warjono, mengatakan kondisi cuaca di Riau mulai menunjukkan perubahan seiring masuknya musim penghujan.
“Memasuki musim penghujan, kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tetap diperlukan. Alhamdulillah, hingga 22 September, tidak lagi ditemukan hotspot di Riau. Kondisi tersebut juga didukung oleh hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah,” ujarnya di Kantor Gubernur Riau, Rabu, 23 September 2026.
Warjono mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan potensi ancaman lain yang muncul saat musim penghujan. Terutama ketika hujan turun dengan volume tinggi dalam waktu yang relatif singkat.
Kondisi tersebut, menurutnya, dapat memicu pertumbuhan awan-awan yang berpotensi menghasilkan cuaca ekstrem. Karena itu, seluruh pihak perlu memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan kondisi lingkungan sekitar.
“Perlu diwaspadai, akibat tingginya volume hujan dalam waktu singkat tersebut muncul awan-awan yang berpotensi menyebabkan cuaca ekstrem. Sehingga masyarakat harus mewaspadai ancaman banjir dan longsor,” jelas Warjono.
Potensi hujan dengan intensitas tinggi perlu menjadi perhatian, terutama di wilayah yang memiliki kerentanan terhadap genangan maupun longsor. Masyarakat juga diimbau lebih berhati-hati ketika beraktivitas di luar rumah saat terjadi hujan lebat disertai angin kencang.
Di sisi lain, masuknya musim penghujan bukan berarti ancaman Karhutla sepenuhnya berakhir. Kondisi atmosfer yang masih dipengaruhi fenomena El Nino dapat menyebabkan pola hujan tidak merata di seluruh wilayah Riau.
“Meskipun sudah masuk musim hujan, pengaruh El Nino diprediksi masih berlangsung. Hal ini menyebabkan adanya jeda waktu di mana curah hujan berkurang di spot-spot tertentu,” terangnya.
Jeda hujan tersebut dapat membuat sebagian wilayah kembali mengalami kondisi kering dalam waktu tertentu. Kondisi ini tetap perlu diantisipasi karena lahan yang mengering dapat meningkatkan kembali potensi munculnya titik panas, khususnya ketika tidak terjadi hujan selama beberapa hari.
“Kekeringan singkat di tengah musim hujan ini berpotensi memicu karhutla, terutama hingga bulan Oktober,” kata Warjono.









