BERTUAHPOS.COM — Mahasiswa Agroteknologi dan Teknik Elektro UIN Suska Riau membangun teknologi smart farming berbasis Internet of Things di Desa Sungai Meranti, Kecamatan Pinggir, Bengkalis.
Proyek itu dikerjakan oleh M Dimas Ramadani dari Jurusan Teknik Elektro berkolaborasi dengan Arya Prayogi dan M Bayu Anggara dari Jurusan Agroteknologi. Ketiganya tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarig Kasim (UIN Suska) Riau, di desa tersebut.
Ini memang bukan hal baru. Namun berkat sentuhan teknologi dan digitalisasi, warga tidak lagi kesulitan untuk melakukan petawatan kebun.
“Sebenarnya di desa ini juga sudah pernah membangun apotek hidup di beberapa titik. Sayangnya menjadi tidak terawat setelah mahasiswa KKN meninggalkan desa. Sehingga kebun terbengkalai dan tanaman obat akhirnya mati,” kata Dimas kepada Bertuahpos, Senin (24/08/2026).
Keberhasilan itu juga tidak lepas dari respon positif warga dan dukungan dari pemerintah desa terhadap program ini. Bagi masyarakat, kehadiran mahasiswa KKN UIN Suska Riau itu telah membawa harapan baru di sektor pertanian skala kecil, dengan pemanfaatan lahan pekarangan rumah lewat sentuhan teknologi digital.
Dimas bercerita, awalnya tim mahasiswa KKN UIN Suska Riau ingin membuat apotek hidup berisi tanaman obat keluarga. Mereka mengajukan proposal ke SMK Pertanian untuk memperoleh bibit tanaman. Setelah disetujui, tim mulai berkoordinasi dengan perangkat desa.
Gagasan itu kemudian dikembangkan dengan memanfaatkan peluang teknologi penyiraman otomatis. Bahkan, sensor penyiraman otomatis ini bisa dikontrol dari ponsel. Teknologi smart farming berbasis Internet of Things (IoT) menjadi jawaban atas kendala tersebut.
Cara kerjanya sederhana, yakni menggunakan alat sensor tanah yang dipasang di lahan lalu dihubungkan ke WiFi. Sensor itu kemudian membaca kelembaban tanah dengan batas minimum 20 persen.
Ketika kelembaban turun di bawah angka tersebut, sensor mengirim sinyal ke mesin pompa. Pompa kemudian menyala otomatis untuk mengalirkan air ke tanaman secukupnya.
Pada alat ini, kata dia, terdapat dua sensor utama, yaitu; sensor udara dan sensor kelembaban tanah. Kedua sensor itu mengirim data secara langsung ke aplikasi selama tersambung WiFi.
Dimas menjelaskan, selama alat terkoneksi ke WiFi maka warga mengoperasikannya melalui aplikasi di smartphone. Pengguna dapat memantau kondisi lahan secara realtime, bahkan dari jarak jauh. “Jika pemilik berada di luar kota pun, mereka tetap bisa mengontrol dan menyiram tanaman di pekarangan rumahnya,” ujar Dimas.
Untuk luas kebun apotek hidup yang kini telah mereka kerjakan sekitar 5 x 5 meter. Satu unit alat dan beberapa meter selang sudah cukup untuk menjangkau seluruh area tanam.
Adapun jenis tanaman di antaranya, lengkuas, jahe, ginseng, tanaman katarak, temulawak, dan tanaman herbal lainnya. Semua jenis itu membutuhkan kelembaban tanah yang stabil.
Total biaya pembuatan dan perakitan sensor hingga berfungsi sekitar juga tergolong murah. Saat ini alat sudah selesai dibuat dan tinggal tahap pemasangan. Sistem masih dalam masa percobaan untuk memastikan seluruh komponen bekerja optimal.
“Beberapa kali juga sudah kami uji coba dan hasilnya cukup memuaskan,” katanya.
Adapun sasaran yang ingin dicapai oleh kelompok KKN UIN Suska Riau itu, tidak lain untuk mempermudah masyarakat dalam perawatan kebun, khususnya tanaman obat di pekarangan rumah. Petani atau warga tidak lagi perlu menyiram tanaman secara manual setiap hari.
Mereka berharap, program ini bisa menjadi percontohan metode berkebun yang lebih maju dan teknologi smart farming diharapkan dapat berkembang di desa ini dan desa lainnya.
Terlebih, teknologi smart farming, basis Internet of Things, selama ini telah menunjukkan potensi besar untuk mendukung pertanian modern di tingkat desa. Kini masyarakat di Desa Sungai Meranti, Kecamatan Pinggir, Bengkalis, tidak lagi terbebani rutinitas menyiram tanaman secara konvensional, dan skalanya masih bisa dikembangkan sesuai kebutuhan.









