BERTUAHPOS.COM — Belum ada konsensus ilmiah yang membuktikan bahwa penggunaan atap seng yang memenuhi standar mutu secara langsung menyebabkan kanker paru-paru.
Ikatan Arsitek Indonesia menegaskan bahwa tantangan utama atap logam justru terletak pada kenyamanan termal, bukan risiko kesehatan.
Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia Georgius Budi Yulianto meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat pasca pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang atap seng.
Dikutip dari Kompas.com, Rabu, 5 Agustus 2026, ia meminta agar pembahasan material atap didasarkan pada kajian ilmiah dan karakteristik teknis, bukan semata persepsi publik.
“Terkait penggunaan seng, perlu juga diluruskan agar masyarakat memperoleh informasi yang proporsional. Hingga saat ini, tidak terdapat konsensus ilmiah yang menyatakan bahwa penggunaan atap seng yang memenuhi standar mutu secara langsung menyebabkan kanker paru,” ujar Boegar, sapaan akrab Georgius Budi Yulianto.
Pernyataan Presiden Prabowo sebelumnya memicu perbincangan luas di kalangan masyarakat awam. Anggapan bahwa material seng dapat memicu kanker paru-paru menyebar cepat tanpa verifikasi ilmiah yang memadai.
Boegar menegaskan bahwa pembahasan mengenai material atap sebaiknya dikembalikan pada fakta teknis. Setiap material memiliki karakteristik berbeda yang memerlukan pendekatan desain spesifik.
“Yang lebih sering menjadi persoalan justru adalah peningkatan suhu ruang akibat penyerapan panas yang tinggi. Kenyamanan termal menurun apabila desain bangunan tidak dilengkapi insulasi, ventilasi, atau sistem atap yang memadai,” kata Boegar.
Seng sebagai material logam memiliki kemampuan menyerap dan menghantarkan panas lebih tinggi dibandingkan material lain. Akibatnya, suhu di dalam bangunan dapat meningkat signifikan jika rancangan rumah tidak mendukung peredaman panas.
Kenyamanan sebuah rumah tidak hanya ditentukan oleh jenis material atap. Penerapan insulasi atap, ventilasi silang, hingga desain plafon dan rongga udara dapat membantu mengurangi panas meski menggunakan atap berbahan logam.
Material tradisional seperti ijuk dan rumbia memiliki keunggulan dari sisi kenyamanan termal. Kedua material tersebut memiliki konduktivitas panas yang rendah sehingga ruang di bawahnya cenderung lebih sejuk.
“Apabila berbicara mengenai ijuk atau rumbia, memang keduanya merupakan material tradisional Nusantara yang memiliki karakteristik termal yang sangat baik. Namun, bukan berarti atap logam tidak dapat digunakan dengan aman,” lanjut Boegar.
Seng sebagai material atap telah digunakan secara luas di berbagai negara tanpa bukti langsung memicu kanker. Isu kesehatan yang beredar di masyarakat perlu diklarifikasi agar tidak menimbulkan keresahan tanpa dasar.
“Pembahasan material atap harus dikembalikan pada data teknis dan standar mutu. Setiap material memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat diatasi dengan desain yang tepat,” ujar Boegar.









