BERTUAHPOS.COM — Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan rumah bambu tahan gempa dengan sistem bongkar pasang modular yang dapat dirakit seperti kepingan Lego. Inovasi ini memanfaatkan teknologi rekayasa bambu laminasi dari berbagai jenis bambu lokal untuk menciptakan hunian permanen yang kuat, fleksibel, dan ramah lingkungan.
Ketua tim peneliti dari Program Studi Arsitektur Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan ITB, Permana, menjelaskan bahwa pengembangan ini menjawab keterbatasan pemanfaatan bambu sebagai bahan bangunan bernilai tinggi. Sistem interlock antarkomponen memungkinkan bangunan merespons guncangan gempa dengan lebih baik.
“Rumah Bambu Modular ini dirancang dengan sistem knock-down yang memungkinkan komponen diproduksi secara terpisah, disimpan, dipindahkan, serta dipasang sesuai kebutuhan. Konsep ini membuat proses pembangunan menyerupai penyusunan kepingan Lego,” ujar Permana dikutip dari laman resmi ITB, Sabtu, 25 Juli 2026.
Tim peneliti mengeksplorasi pemanfaatan berbagai jenis bambu antara lain bambu surat, bambu tali, bambu ampel, dan bambu mayan. Teknik laminasi mengubah batang bambu menjadi bilah-bilah kecil yang direkatkan hingga mencapai ukuran dan ketebalan yang diperlukan.
Peneliti Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB, Dr. Rudi Dungani, menjelaskan bahwa proses produksi dapat dibawa lebih dekat ke kawasan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan atau lahan bambu. Pengolahan dilakukan menggunakan mesin manual yang ringan dan tidak bergantung pada listrik.
“Dengan pendekatan manufaktur vernakular, masyarakat tidak hanya menjual bambu dalam bentuk bahan mentah. Mereka berpeluang mengolahnya menjadi komponen bangunan permanen yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” kata Rudi.
Komponen hasil laminasi dibentuk menjadi profil dengan variasi panjang 30 dan 60 sentimeter. Pemasangan dilakukan secara berselang-seling untuk menghasilkan kuncian horizontal, sementara hubungan vertikal antarkomponen memanfaatkan gaya gesek.
Sistem modular ini memberikan potensi pemanfaatan sebagai hunian tetap yang dapat dipersiapkan sebelum bencana terjadi. Komponen bangunan dapat diproduksi dan disimpan sebagai persediaan, kemudian dikirim dan dirakit ketika dibutuhkan.
Tim peneliti menargetkan pengembangan ekosistem hunian berbasis bambu yang tidak hanya mencakup struktur bangunan. Berbagai kebutuhan di dalam rumah seperti tempat tidur, meja makan, dan perlengkapan lainnya juga dirancang menggunakan material bambu.
“Kami mendorong peningkatan tingkat komponen dalam negeri hingga 100 persen serta pengembangan konsep zero metal housing. Konstruksi diarahkan untuk menggunakan sistem sambungan dan pasak berbahan kayu atau bambu tanpa bergantung pada paku logam,” kata Permana.









