BERTUAHPOS.COM — Minuman berasa telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian masyarakat Indonesia. Sebuah survei terbaru Jakpat mengungkap kebiasaan konsumsi minuman berasa yang beragam, dengan kopi dan teh tetap mendominasi.
Research Lead Jakpat Septiana Widi Sugiastuti menjelaskan, survei terhadap 1.238 responden ini memetakan pola konsumsi minuman berasa terkini. Dia menyoroti adanya perbedaan preferensi yang signifikan antar generasi.
“Meskipun kopi dan teh digemari oleh berbagai generasi, perbedaan dalam preferensi minuman sekunder menunjukkan adanya segmen konsumen yang khas,” ujar Septiana, Senin, 7 Juli 2026.
Hasil survei mencatat lebih dari 70% responden mengonsumsi kopi dan teh. Sementara itu, matcha lebih populer di kalangan Gen Z (34%) dan Milenial (32%) dibandingkan Gen X yang hanya 17%.
Generasi yang lebih tua memiliki preferensi lebih kuat terhadap kopi, teh, dan jamu. Kombinasi preferensi antara minuman modern dan tradisional tampak khas pada setiap kelompok usia.
“Konsumen mencari kenyamanan, kepercayaan, dan pengalaman konsumsi yang tepat, bukan sekadar produk minumannya saja. Hal ini menjelaskan mengapa jamu umumnya dibeli dari pedagang kaki lima, soda sangat identik dengan supermarket, dan matcha lebih banyak dinikmati di kafe,” jelas Septiana.
Kopi dan teh paling sering dibuat sendiri di rumah, menunjukkan keduanya bagian dari kebiasaan sehari-hari. Sementara susu lebih banyak dibeli di supermarket.
“Temuan ini menunjukkan bahwa harga berfungsi sebagai penanda posisi kategori, bukan sekadar pertimbangan dalam pembelian. Matcha telah berhasil membangun citra premium sehingga konsumen bersedia membayar harga lebih tinggi, sedangkan soda dan jamu tetap lekat dengan kesan harga yang terjangkau,” tambahnya.
Dari sisi pengeluaran, sebagian besar responden menghabiskan kurang dari Rp25.000 untuk satu porsi minuman berasa. Keterjangkauan harga masih menjadi pertimbangan utama dalam memilih.
Teh menjadi kategori paling ekonomis dengan mayoritas konsumen mengeluarkan kurang dari Rp10.000 per sajian. Soda dan jamu juga identik dengan kisaran harga yang terjangkau.
Kopi memiliki rentang pengeluaran yang lebih beragam, meskipun sebagian besar konsumen tetap membelanjakan kurang dari Rp25.000. Hal ini menunjukkan fleksibilitas harga pada kategori kopi.
Matcha menjadi pengecualian karena konsumen bersedia merogoh Rp25.000 hingga Rp50.000 per gelas. Kategori ini membuktikan bahwa konsumen tak hanya membeli minuman berasa, tetapi juga nilai dan pengalaman yang melekat padanya.









