BERTUAHPOS — Nilai tukar mata uang rupiah kembali berada di zona merah pada awal perdagangan Jumat, 6 Maret 2026. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas membuat pelaku pasar global meningkatkan kewaspadaan, sehingga mendorong penguatan dolar Amerika Serikat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Berdasarkan data Bloomberg, pukul 09.11 WIB di pasar spot exchange, rupiah tercatat melemah 8 poin atau sekitar 0,05 persen ke posisi Rp16.913 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif pada perdagangan sebelumnya, setelah rupiah ditutup turun 11 poin di level Rp16.903 per dolar AS pada Kamis, 5 Maret 2026.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS menunjukkan penguatan. Indeks dolar tercatat naik 0,34 persen dan berada di level 98,97. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh memanasnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi semakin tegang setelah Iran meluncurkan gelombang serangan rudal ke wilayah Israel pada Kamis pagi, yang memaksa jutaan warga mencari perlindungan di tempat-tempat aman.
Sejumlah analis pasar menilai konflik yang telah memasuki hari keenam tersebut menimbulkan kekhawatiran baru di pasar keuangan global. Ketegangan geopolitik tidak hanya memicu volatilitas pasar, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia.
Dikutip dari Investor.id, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen konflik Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir. Menurut dia, pelaku pasar cenderung mengalihkan asetnya ke dolar AS ketika risiko global meningkat.
“Perang antara AS-Israel melawan Iran membuat pasar keuangan global menjadi sangat sensitif. Investor lebih memilih menempatkan dananya pada aset yang dianggap aman seperti dolar AS,” ujar Ibrahim.
Pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan penutupan Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak mentah dunia.
“Jika Selat Hormuz sampai ditutup, maka distribusi minyak mentah global bisa terganggu. Kondisi itu berpotensi mendorong lonjakan harga energi dan memperburuk sentimen di pasar keuangan,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi lebih rentan terhadap tekanan eksternal. Investor global biasanya mengurangi eksposur terhadap aset berisiko ketika ketegangan geopolitik meningkat.***









