BERTUAHPOS — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit perbankan yang belum disalurkan atau undisbursed loan mencapai Rp2.500 triliun per November 2025. Angka itu mencerminkan masih besarnya komitmen kredit yang belum ditarik oleh debitur.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan tingginya undisbursed loan menunjukkan adanya kelonggaran penarikan kredit di masa depan yang berpotensi dimanfaatkan pelaku usaha untuk ekspansi.
Besarnya komitmen kredit tersebut membuka peluang peningkatan realisasi kredit apabila kondisi ekonomi membaik dan kepercayaan dunia usaha meningkat.
“Dengan kondisi ekonomi yang lebih kondusif, pencairan kredit berpotensi meningkat dan mendorong pertumbuhan sektor riil,” kata Dian dalam keterangan tertulisnya, dikutip Senin, 22 Desember 2025.
Dian memperkirakan undisbursed loan akan mengalami moderasi seiring penyesuaian strategi bisnis perbankan. Meski demikian, sektor perbankan nasional dinilai masih memiliki ruang besar untuk mendukung pembiayaan produktif.
OJK menilai dukungan kebijakan fiskal dan moneter, serta pemulihan sejumlah sektor ekonomi, akan memperkuat efek pengganda terhadap konsumsi rumah tangga dan investasi dunia usaha.
Beberapa faktor yang diperkirakan mendorong pertumbuhan kredit antara lain membaiknya transmisi kebijakan moneter, tren penurunan suku bunga pinjaman, serta percepatan belanja pemerintah dan investasi swasta.
Aktivitas ekonomi juga menunjukkan tanda perbaikan. Indeks PMI Manufaktur Indonesia pada November 2025 tercatat di level 53,50, meningkat dibandingkan Oktober 2025 sebesar 51,20, menandakan fase ekspansi.
Bank Indonesia (BI) mencatat nilai undisbursed loan pada November 2025 mencapai Rp2.509,4 triliun atau setara 23,18 persen dari total plafon kredit yang tersedia di perbankan.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan permintaan kredit masih belum kuat akibat sikap wait and see pelaku usaha, optimalisasi pembiayaan internal korporasi, serta penurunan suku bunga kredit yang masih berjalan lambat.***









