Makrifat Burung Surga (13) : Nabi Sulaiman & Burung Puyangan

Jumat, 26 Mei 2017 12:45
Makrifat Burung Surga (13) : Nabi Sulaiman & Burung Puyangan

BERTUAHPOS.COM (BPC), PEKANBARU - Mendengar pertanyaan Nabi Sulaiman itu, Sang Puyangan perlahan menjawab. "Duh Gusti, walaupun begitu bagus sangkar yang mengurungku, tapi itu bukanlah tempatku. Tempatku adalah di alam bebas. Walaupun di sana serba kekurangan dan penuh kesulitan, dan di sini bersangkar emas dengan segala yang aku perlukan tersedia tanpa aku bekerja, namun aku lebih suka di alam bebas."

Nabi Sulaiman mengerti apa yang dimaksud Puyangan. Nabi lalu memanggil 20 burung Jaga dan berkata: " Aku panggil engkau semua agar membuka sangkar si burung Puyangan. Sesudah itu engkau antar Puyangan ke tempat asalnya," perintah nabi kepada 20 burung Jaga itu.

Baca: Makrifat Burung Surga (12) : Dialog Tasauf Bayan & Menco

Burung Jaga segera memenuhi perintah Nabi. Puyangan pun menyembah pamit dan segera terbang tinggi ke angkasa. Dia diikuti burung Duta di belakangnya, melintas awan dan lautan.

Tidak lama kemudian dilihatlah sebuah bongkah batu selebar meja yang timbul dan tenggelam di tengah lautan. Ketika ombak mereda, Puyangan segera hinggap di atas batu itu dan terbang lagi di saat ombak menerpa. Terus demikian silih berganti, tetapi Puyangan lebih betah di tempatnya itu.

Burung-burung pengantar pun segera kembali menyampaikan apa yang dilihat kepada Sang Maha Raja. Kanjeng Nabi menjadi terharu. Itulah keunikan hidup bagi masing-masing makhluk yang tak bisa diubah-ubah lagi. Sangkar emas bagaikan hidup duniawi yang indah dan nikmat. Tapi jika salah letak akan membuat seseorang menderita, bahkan lupa kepada dirinya sendiri.

Itulah yang menyebabkan sebagian ahli makrifat memandang hidup duniawi itu sebagai penjara yang harus hati-hati dijalani sesuai kebutuhannya. Bagaikan orang kota yang harus hidup di gunung atau sebaliknya orang desa hidup di ibu kota negara, pasti tidak kerasan, pikirnya.

Baca: Makrifat Burung Surga (1) : 99 Burung Bayan Hijrah

Mendengar kisah itu, burung Bayan berseru keras. "Pantas, jika ada orang desa yang tidak bisa hidup di tengah priyayi di kota, karena tidak tahu tata krama, mandinya pun setahun sekali. Pada hari raya memakai baju baru pergi ke kota, lalu menjadi tontonan orang banyak. Suka membakar petasan, kalau diingatkan dikira membenci, karena hatinya telah membatu. Puyangan amat sangat bodohnya. Ia tidak mengerti nasehat Qur'an ati'ulla-ha wa'ati'urrasu-la (taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul). Nabi Sulaiman itu kan utusan Tuhan, mestinya Si Puyangan tidak mementingkan kehendaknya sendiri. Itulah suatu perumpamaan bagi hidup manusia di dunia yang seperti sebuah sangkar emas yang bisa dilebur, ada baik ada buruk, ada yang manut kepada Nabi ada pula yang ingkar." (bersambung/jss)

Klik tombol Like jika Anda suka dengan Berita ini

TRAVELLING

Berita Terkini

Setelah Polda dan Kantor Gubernur, Giliran Kantor DPRD Riau yang Digeruduk Massa Masyarakat Sakai
Senin, 19 Pebruari 2018 12:45

Setelah Polda dan Kantor Gubernur, Giliran Kantor DPRD Riau yang Digeruduk Massa Masyarakat Sakai

Setelah melakukan aksi demo di Polda dan kantor gubernur, giliran Kantor DPRD Riau yang digeruduk massa aksi demo masyarakat Sakai.

Status Siaga Darurat Karhutla Ditetapkan Hingga 31 Mei 2018
Senin, 19 Pebruari 2018 12:40

Status Siaga Darurat Karhutla Ditetapkan Hingga 31 Mei 2018

Status siaga darurat Karhutla sudah ditetapkan. Itu dimulai dari Februari hingga 31 Mei 2018. Status siaga darurat karhuta ditetapkan karena sejumlah daerah di Riau sudah terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Pendemo Suku Sakai Jalan Kaki ke Kantor DPRD Riau
Senin, 19 Pebruari 2018 12:33

Pendemo Suku Sakai Jalan Kaki ke Kantor DPRD Riau

Usai melakukan demo di depan kantor Polda Riau, Senin (19/2/18) ratusan mahasiswa dan masyarakat Suku Sakai, mulai bergerak menuju Kantor DPRD Provinsi Riau.

Spanduk Lukman Edy Masih Terpajang di Jalan Hang Tuah
Senin, 19 Pebruari 2018 12:25

Spanduk Lukman Edy Masih Terpajang di Jalan Hang Tuah

Spanduk Paslon dengan jargon Gubernur Zaman Now masih terpajang jelas di Jalan Hang Tuah, Pekanbaru.  

Puncak Musim Kemarau Terjadi di Juni hingga Agustus
Senin, 19 Pebruari 2018 12:15

Puncak Musim Kemarau Terjadi di Juni hingga Agustus

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Juni hingga Agustus 2018 nanti. 

Masa Kampanye Pilgub Riau, 1 Desa Hanya Boleh 1 Posko
Senin, 19 Pebruari 2018 12:00

Masa Kampanye Pilgub Riau, 1 Desa Hanya Boleh 1 Posko

Komisioner Bawaslu Riau, Neil Antariksa menyebutkan 1 desa/kelurahan hanya boleh didirikan 1 posko pemenangan oleh Paslon Gubri.

BMKG: Februari Riau Masuk Musim Kemarau Pertama
Senin, 19 Pebruari 2018 11:43

BMKG: Februari Riau Masuk Musim Kemarau Pertama

Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru Sukisto mengatakan pada bulan Februari 2018 ini, Riau sudah masuk pada musim kemarau pertama.

Demo Mahasiswa dan Masyarakat Suku Sakai, Jalan Gajah Mada Ditutup 1 Ruas
Senin, 19 Pebruari 2018 11:28

Demo Mahasiswa dan Masyarakat Suku Sakai, Jalan Gajah Mada Ditutup 1 Ruas

Akibat demo ratusan mahasiswa dan masyarakat Suku Sakai di depan Kantor Polda Riau, Senin (19/2/2018), satu ruas Jalan Gajah Mada Pekanbaru ditutup satu ruas.

Mahasiswa dan Masyarakat Suku Sakai Serbu Polda Riau
Senin, 19 Pebruari 2018 11:20

Mahasiswa dan Masyarakat Suku Sakai Serbu Polda Riau

Ratusan mahasiswa dan masyarakat Suku Sakai menyerbu kantor Polda Riau, Senin (19/2/2018) pagi.

Dilaporkan ke Bawaslu, KPU Riau: Kami Transparan Sejak Awal
Senin, 19 Pebruari 2018 11:00

Dilaporkan ke Bawaslu, KPU Riau: Kami Transparan Sejak Awal

KPU Riau menyatakan proses pendaftaran dan penetapan cagub Riau telah transparan sejak awal.