BERTUAHPOS — Banyak pelaku UMKM di Indonesia mampu menciptakan produk berkualitas, namun tidak sedikit yang tersendat di tahap penjualan. Masalah utamanya bukan pada produksi, melainkan pada kemampuan memasarkan produk secara efektif, terutama di era digital saat ini, atau digital marketing.
Praktisi digital marketing Fahmi Auditya menilai, perbedaan antara membuat produk dan menjual produk adalah dua hal yang sangat berbeda. Menurutnya, banyak pelaku usaha sudah percaya diri dengan kualitas barang, “tetapi belum memahami strategi mendatangkan pembeli,” ujarnya seperti dilihat Bertuahpos di unggahan video Youtube Pecah Telur, Selasa, 17 Februari 2026.
Dalam unggaran video itu, Fahmi bercerita banyak, memulai perjalanan iklan digital dari angka kecil, sekitar Rp30.000 per hari. Dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun, total belanja iklan yang pernah ia kelola dari berbagai brand, telah mencapai belasan miliar rupiah secara akumulasi.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa angka besar bukanlah fokus utama. Yang terpenting adalah memahami dasar-dasar digital marketing, terutama dalam hal pemasangan iklan dan penyusunan pesan penjualan.
Ia menyebut dua keterampilan dasar yang wajib dikuasai pemula, yakni kemampuan teknis memasang iklan di platform seperti Meta atau TikTok, serta kemampuan copywriting.
“Copywriting itu sangat krusial karena seluruh proses jualan pada akhirnya bergantung pada cara menyusun pesan yang menarik dan persuasif,” ujarnya.
Menurutnya, banyak orang bisa membuat website atau landing page, tetapi tidak tahu apa yang harus ditulis agar orang tertarik membeli. Di situlah peran copywriting menjadi penentu.
Terkait platform, Fahmi menyarankan pelaku UMKM tidak perlu langsung menguasai semua kanal sekaligus. Fokuslah pada platform dengan trafik besar seperti Meta (Facebook dan Instagram) atau TikTok, “lalu sesuaikan dengan karakter produk yang dijual,” jelasnya.
Produk dengan harga terjangkau dan bersifat impulsif, misalnya fashion atau aksesoris, dinilai lebih cepat berkembang di TikTok. Sementara Meta tetap kuat untuk berbagai kategori dengan pendekatan yang lebih tersegmentasi.
Soal risiko kerugian atau boncos saat beriklan, menurut Fahmi, itu hal yang tidak bisa sepenuhnya dihindari. Namun risiko dapat dikelola dengan manajemen yang tepat.
Ia menekankan pentingnya menggunakan “uang dingin” untuk beriklan, yakni dana yang memang siap dipakai untuk uji coba, bukan uang kebutuhan pokok. Jangan menggunakan uang makan atau dana darurat untuk eksperimen iklan.
Selain itu, ia menyarankan memulai dengan nominal kecil untuk testing, misalnya Rp200.000. Jika hasilnya kurang baik, hentikan sementara dan lakukan evaluasi sebelum menambah anggaran.
“Memasang iklan secara teknis sebenarnya relatif mudah dipelajari. Tantangan sesungguhnya ada pada kemampuan membaca data setelah iklan berjalan,” tambah Fahmi.
Jika klik tinggi tetapi tidak ada pembelian, kemungkinan masalah ada pada landing page atau penawaran. Jika banyak yang menghubungi tetapi tidak ada closing, bisa jadi masalah ada pada pelayanan pelanggan atau harga produk.
Karena itu, ia menyarankan pelaku usaha untuk terbiasa melakukan evaluasi secara berkala. Strateginya sederhana: tes kecil, lihat hasil, analisis data, perbaiki, lalu jalankan kembali.
Bagi bisnis yang sudah menghasilkan profit, alokasi anggaran iklan bisa disesuaikan dengan kondisi usaha. Brand besar umumnya mengalokasikan sekitar 7% hingga 10% untuk pemasaran, “namun untuk produk digital dengan margin besar, persentasenya bisa lebih fleksibel.”
Secara umum, Fahmi menekankan bahwa keberhasilan dalam digital marketing tidak hanya soal teknik, tetapi juga mental. “Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, melainkan karena menyerah terlalu cepat saat menemui kendala,” katanya.***









