ISNAINI sedang fokus. Tangan legamnya memegang setrika uap, di salah satu sudut ruang tengah kios Betuah Laundry.
Entah berapa ribu kali logam besi itu maju-mundur, merapikan ratusan lembar seragam kerja lapangan (wearpack) — milik karyawan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) II Dumai.
Demi kepercayaan pelanggan, pekerjaan ini harus dia selesaikan.
Sementara itu, Saka — anak perempuannya berusia sekitar dua tahunan — dari tadi merengek. Mungkin dia ingin sesuatu.
Karena sang ibu sedang ada kesibukan lain, terpaksa waktu kerjanya kali ini, dibarengi dengan mengasuh sang putri.
Di atas meja gosok, dia tampak begitu mahir menata setiap bagian dari pakaian merah, putih dan biru itu. Berdesis, menyeruak kepulan uap tipis, saat lempengan besi panas menyentuh kain.
Satu per satu seragam yang sudah dilipat, tertata rapi di tempatnya. Sementara di sudut lain, seorang rekannya tengah bergelut dengan plastik packing.
Di sela-sela kesibukan itu, sesekali mata Isnaini melirik, mengawasi gerak-gerik si bungsu.
Menjadi karyawan laundry, adalah pekerjaan baru bagi Isnaini. Di sini, penghasilan bulanan jadi lebih pasti, walau shift-nya cuma seminggu sekali.
Dia hanya satu dari 10 nelayan kokang di Kota Dumai yang beruntung.
Di luar sana, ada ribuan nelayan yang masih menggantungkan kebutuhan dapur, dari hasil tangkapan di laut.
Sekarang, jadi nelayan tak senyaman dulu. Hasil yang didapat tak selalu bikin orang rumah bersikap hangat.
Sejurus kemudian, Isnaini menarik napas lega. Selesai sudah pekerjaannya. Pria 45 tahun itu memanggil dan meraih Saka, agar selalu berada di dekatnya.
Maklum, namanya juga anak-anak. tingkah mereka kadang sulit ditebak.
Bisa jadi petaka baru jika sampai jari mungilnya, menyentuh logam setrika yang belum dingin itu.
Di kios Betuah Laundry, Jalan Makmur, Kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai itu, Isnaini bercerita, sudah 42 tahun dia bekerja sebagai nelayan kokang.
“Sejak usia saya 16 tahun, sampai sekarang,” katanya kepada Bertuahpos, Selasa, 14 Oktober 2025. Dulu, hanya itu satu-satunya pekerjaan andalan untuk menopang ekonomi keluarga.
Kata “kokang” — yang disemat pada pekerjaan nelayan di Dumai ini — bukan merujuk pada kelompok Etnis Han seperti di Myanmar. Juga bukan berarti “menyiapkan senjata”, seperti yang familiar di dengar. Mereka, juga bukan nelayan yang bawa senjata saat melaut.
Kokang yang dimaksud lebih kurang sama seperti ngasong. Bukan di lampu merah, tapi di tengah laut.
Meski ada kata “nelayan”, mereka tidak menangkap ikan. Melainkan jualan barang-barang harian atau kebutuhan pokok, seperti; buah, sayur, beras, mie instan, telur dan lain-lain, untuk awak kapal yang tak sempat mendarat.
Istilah “nelayan kokang” juga tak ada di KBBI. Kalau boleh merujuk dalam bahasa keseharian masyarakat Melayu pesisir di Riau, ada istilah “lokang” — khususnya di Indragiri Hilir. Maknanya “celah” atau “parit”.
Istilah itu sering dipakai untuk menggambarkan “peluang” untuk suatu pekerjaan. Misalnya “…ada lokang baru untuk kerja di kebun.” Mungkin, makna ini kurang lebih sama dengan istilah kokang yang dipakai oleh masyarakat di Dumai.
Sebab, menurut keterangan warga sekitar di Kota Dumai, jawaban mereka sama. Nelayan kokang itu, ya warga jualan sembako pakai perahu di tengah laut.
Isnaini mengakui, jadi nelayan kokang itu berat. Laut kadang-kadang sulit ditebak hanya dari riak air. Sering juga langit mendadak gelap, diiringi gemuruh yang saling bersahutan.
Apalagi saat musim angin timur. Ombak jadi lebih tinggi. Butuh kepiawaian dalam mengemudi. Jika salah membelah gelombang, kapal bisa berguncang, terombang-ambing, bak perahu tanpa nahkoda.
Risiko karam di tengah laut sudah biasa. Termasuk Isnaini dan para nelayan kokang lainnya.
Kendati demikian mereka sadar dengan bahaya itu. Tapi, apa mau di kata. Kondisi ekonomi yang kembang-kempis memaksa mereka harus berdaya.
Ancaman itu tak dianggap sebagai rintangan. Asal kompor rumah menyala, mereka bak pura-pura lupa, betapa berharganya sebuah nyawa.
Hasil dari jualan di laut juga tak selalu untung. Apalagi untuk jenis barang yang cepat busuk; buah dan sayur, misalnya. Jika tidak laku, langsung dilarung.
Cara dagang seperti ini bukan jenis usaha yang cepat putarannya. Kadang, stok sembako para awak kapal masih banyak. Makanya, butuh perkiraan waktu yang tepat, kapan perahu harus merapat.
Waktu terus berganti. Mereka semakin sadar bahwa hasil dari bekerja sebagai nelayan kokang itu, seperti mengharapkan “rezeki harimau”. Jika mujur, bisa merapat ke kapal asing. Bayarannya dolar. Untungnya berlipat ganda. Tapi, peluang itu jarang sekali ada.
“Masalahnya, kita sering apes,” kata Surya, karyawan Betuah Laundry lainnya, yang juga menggeluti pekerjaan sebagai nelayan kokang seperti Isnaini.
“Buah-buahan malah sering busuk karena tak laku. Selain risiko bahaya di laut, kerugiannya juga besar,” ungkap pria 35 tahun itu.

Layanan Cuci Pakaian Ramah Lingkungan
Tahun 2023 lalu, mereka berserikat untuk membentuk Kelompok Barter Jaya — sebuah kelompok yang beranggotakan 10 nelayan kokang di Kelurahan Tanjung Palas, Kota Dumai.
Kelompok ini kemudian mengajukan semacam program pemberdayaan untuk pengembangan usaha ke PT KPI RU II Dumai.
Awalnya, mereka ingin beternak lele. Atas berbagai pertimbangan, pihak KPI menawarkan ide untuk jenis usaha lain; green laundry. Pola bisnisnya sederhana. Tapi menjadi unik karena mengusung konsep zero waste.
Sabun untuk kebutuhan laundry tidak dibeli, melainkan diproduksi sendiri dan ramah lingkungan, karena terbuat dari bahan baku tumbuhan liar yang banyak ditemukan di sekitar pekarangan rumah. Namanya rumput teki (Cyperus rotundus L).
Menurut jurnal yang diterbitkan oleh Universitas Negeri Surabaya (2020), rumput ini memiliki kandungan flavonoid. Fungsinya sebagai antibakteri dan antioksidan. Rumput teki juga mengandung senyawa aktif berupa saponin. Jadi, jika dikocok dengan air, akan lebih cepat dan banyak mengeluarkan busa.
Selain itu, segmentasi pasarnya pasti; seragam kerja para karyawan KPI dan pakaian dari warga sekitar.
Seluruh sarana dan prasarananya disediakan oleh pihak pemberi bantuan, seperti; kios, tiga unit mesin cuci, satu unit mesin pengering pakaian, dan seperangkat setrika uap, lengkap dengan panel surya berkapasitas 6,6 kW.
Karena jumlahnya ada 10 orang, mereka dibagi dalam lima shift. Sehari dua orang. Satu orang bertugas sebagai juru cuci, satu lagi sebagai juru setrika. Artinya, setiap satu orang hanya bekerja empat sampai lima hari dalam sebulan.
Adapun sistem upahnya, bagi hasil. Berapapun keuntungan yang didapat perbulan, dibagi rata.
Kedua belah pihak pun sepakat. Seluruh anggota Kelompok Barter Jaya diberi pelatihan dasar, seperti; manajemen usaha, operasional, keuangan dan lain-lain. “Kurang lebih, sekitar dua bulanan kami ikut pelatihan,” kata Surya.

Per Oktober 2023 lalu, Betuah Laundry resmi dibuka, dan menjadi green landry pertama di Kota Dumai.
Tak ada filosofi khusus di balik nama itu. Namun, bagi orang Melayu pesisir, nama ini sangat kuat. Kata “Betuah” (bahasa Melayu) artinya “sakti” dalam konteks kesultanan atau kerajaan Melayu. Dalam konteks sosial kebudayaan, bermakna “nasib baik” atau “keberuntungan”.
“Sesuai dengan nama itu (Betuah Laundry) kami berharap ada keberuntungan nasib di bidang usaha yang kami jalani saat sekarang,” kata Sekretaris Kelompok Barter Jaya, Syafrizal.
Pria berusia 57 tahun itu mengaku, awalnya mereka ragu dengan usaha ini. Selain tak familiar dengan pekerjaan mencuci, menjemur dan menyetrika, aktivitas seperti itu identik dengan ibu rumah tangga.
“Ini kan pekerjaan perempuan. Jadi, di awal-awal itu agak canggung, kami,” ujarnya. Maklum, selama ini mereka lebih familiar dengan ombak, dan lebih akrab dengan hujan-panas di tengah laut.
Kendati demikian, mereka sadar bahwa bekerja sebagai nelayan kokang selalu berhadapan dengan risiko bahaya. Sulit membayangkan apa yang akan terjadi kepada anak dan istri, jika sewaktu-waktu nasib buruk menimpa.
Kata Syafrizal, ada banyak pengalaman baru setelah menjadi karyawan laundry. Selain harus mengakrabkan diri dengan mesin cuci, dan membuat sabun sendiri, ada banyak karyawan kesulitan menyetrika pakaian perempuan. Terutama untuk jenis pakaian yang banyak renda dan rempel.
“Namanya baju ibu-ibu, tahu sendiri lah. Banyak betul renda-rendanya. Kami semua bingung, gimana cara nyetrikanya? Tapi sekarang semuanya sudah terbiasa,” ujarnya.
“Ya, mau tak mau ini harus kami jalani. Karena ini lah pekerjaan lebih nyata, yang selama ini diimpikan, ada usaha dengan penghasilan yang pasti,” tambah Syafrizal.
Dalam perjalanannya, ada banyak hal lain yang juga membuat mereka bimbang untuk mengembangkan green laundry ini.
Warga sekitar dan teman sejawat meragukan kalau Betuah Laundry bisa maju. Rata-rata dari mereka meramalkan usaha ini akan mati dalam hitungan kalender.
Terlebih, saat usaha ini baru meniti, rata pendapatan mereka cuma Rp250 per bulan. Nilai yang jauh dari kata cukup bagi mereka yang sudah berkeluarga.
Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, pelan namun pasti, buah dari jerih payah itu mulai bisa dituai. Kerja keras mereka boleh dikatakan impas. Grafik dari omzet Betuah Laundry, pelan-pelan meroket.
Per September 2025, total pendapatan kotor dari Betuah Laundry kurang lebih Rp10 juta, dengan rata-rata pendapatan per orang mencapai Rp1 juta.
“Jujur, kami banyak terbantu oleh segmen pasar dari seragam kerja karyawan KPI. Persentasenya hampir 70%. Sisanya pakaian dari warga sekitar,” ujarnya.
Selain itu, peluang pendapatan menjadi lebih besar karena beban biaya operasional bisa ditekan seminimal mungkin.
Misal, untuk kebutuhan sabun cair. Dalam sebulan, Betuah Laundry membutuhkan setidaknya 25 liter sabun untuk keperluan mencuci pakaian.
Jika rata-rata per liter sabun di harga Rp15 ribu, maka butuh sekitar Rp375 ribu per bulan. “Itu baru untuk beli sabun,” kata Tim CSR KPI RU II Dumai, Fajar Julian Santosa.
Karena kebutuhan sabun cuci diproduksi sendiri — dengan memanfaatkan rumput teki — untuk keperluan 25 liter per bulan, mereka cuma mengeluarkan biaya Rp90 ribu hingga Rp100 ribu. Artinya, ada penghematan sekitar Rp275 ribu per bulannya.
Selain itu, pengeluaran untuk biaya listrik juga dapat ditekan berkat adanya bantuan fotovoltaik (panel surya) dari PT KPI RU II Dumai.
Jika sebelumnya mereka harus mengeluarkan biaya antara Rp250 ribu hingga Rp400 ribu per bulan, kini Rp0. Semua kegiatan operasional sudah tertutupi dengan adanya pembangkit listrik tenaga surya itu.
Lagi pula, kegiatan operasional hanya dilakukan saat siang hari. Sehingga energi listrik full mengandalkan cahaya matahari. Bahkan, cadangan energi yang tersimpan di baterai hampir tidak pernah dipakai.
“Untuk rata-rata biaya operasional per bulannya sekitar Rp1,5 jutaan, dari total omzet Rp10 juta yang diperoleh. Sisanya itu lah yang dibagi rata menjadi pendapatan bulanan mereka di sini,” jelas Fajar.
Selain dari penghematan biaya operasional, potensi omzet Betuah Laundry sangat mungkin bisa meningkat berkat limbah sisa mencuci pakaian.
Karena terbuat dari bahan-bahan ramah lingkungan, limbah ini bisa dijadikan bahan baku Pupuk Organik Cair (POC).
Saat ini, upaya pengembangan ke arah itu sudah dilakukan. Fajar menegaskan, POC belum bisa diproduksi dalam skala besar untuk keperluan bisnis karena berbagai perizinan sedang diurus.
Namun, POC sudah diujicobakan ke tanaman cabai di rumah-rumah mereka. “Untuk pertumbuhan tanaman sangat bagus, tapi kalau untuk pembuahan kayaknya masih belum,” kata Isnaini, yang sudah menggunakan pupuk itu untuk beberapa polybag tanaman cabai di rumahnya.

“Kami Punya Tanggung Jawab Kepada Mereka”
Green laundry ini hadir berangkat dari kepedulian PT KPI RU II Dumai, lewat Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Perusahan merasa punya tanggung jawab terhadap berbagai kondisi masyarakat sekitar, terutama dari sisi keselamatan kerja. Adapun program TJSL ini, menyasar langsung sisi kesejahteraan para nelayan dengan menghadirkan lapangan usaha baru dengan risiko lebih rendah.
Itulah mengapa usaha layanan cuci ramah lingkungan ini menyasar kelompok nelayan kokang, karena risiko kerjanya tergolong tinggi. Bukan hanya soal keselamatan di laut, tapi pekerjaan seperti itu juga berpotensi disalahgunakan untuk aktivitas yang melanggar hukum.
“Kami punya tanggung jawab untuk membantu mereka. Maka, dibuatlah semacam program alih profesi. Meskipun sekarang mereka masih bekerja sebagai nelayan kokang, setidaknya aktivitas di laut jadi berkurang karena ada pekerjaan di darat,” ujar Area Manager Communication, Relations, & CSR Kilang Dumai, Agustiawan, kepada Bertuahpos, Selasa, 14 Oktober 2025, di Kota Dumai.
Adapun bisnis ini, dikelola dengan mengedepankan prinsip-prinsip ramah lingkungan. Mulai dari sisi suplai energi listrik lewat tenaga surya, sabun yang diproduksi dari rumput liar, pengelolaan air limbah sisa pencucian yang dijamin aman bagi lingkungan sekitar, hingga potensi pengembangan produk baru berupa POC.
Agus meyakini, hadirnya green laundry menjadi simbol perubahan cara pandang masyarakat pesisir di Riau. Lewat dorongan dan kolaborasi yang kuat, masyarakat setempat dapat diberdayakan agar ikut berkontribusi terhadap kondisi lingkungan lestari, tanpa harus mengorbankan dampak ekonominya.
Selain itu, Betuah Laundry menjadi unik karena seluruh karyawannya adalah laki-laki yang biasa melaut. “Biasanya pekerjaan seperti ini dijalankan para ibu-ibu kan? Dan laundry ini telah menjadi proyek percontohan CSR Pertamina RU II Dumai,” tambahnya.
Agus menyebut, program ini mendapat dukungan dari internal Pertamina dan kini tengah dijajaki kerja sama dengan berbagai pihak, sebagai upaya untuk perluasan pasar.
Harapannya, mereka tidak lagi menggantungkan ekonomi sebagai nelayan kokang, karena sangat berbahaya, dan akan lebih banyak green laundry lain bermunculan.
Dia juga menegaskan, bahwa program TJSL PT KPI RU II Dumai akan selalu selaras dengan isu perubahan iklim, sebagai komitmen perusahaan untuk mewujudkan target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Hampir semua program TJSL yang dijalankan, selalu dikolaborasikan dengan prinsip-prinsip ramah lingkungan, seperti pengolahan limbah hingga penerapan energi ramah lingkungan sebagai penunjang kegiatan operasional.
Yang Tak Ternilai
Ada banyak hal bisa dipelajari dari secuil kisah para nelayan kokang di Kota Dumai ini. Berpuluh-puluh tahun mengarungi laut, tentu ada banyak cerita dan pengalaman berharga yang dapat dipetik dari perjalanan hidup mereka.
Pandangan Isnaini sejenak menerawang. Pikirannya sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang mungkin tak ditemukan selama dia menjadi nelayan kokang.
Berbagai kata muncul di benaknya, dan terangkai dalam satu kalimat pasti. “Jauh lebih enak kerja di sini,” tuturnya berhias senyum.
Sesibuk apapun bekerja Betuah Laundry, dia masih bisa menyisihkan waktu barang sebentar untuk pulang ke rumah, melihat Saka bermain, dan menikmati masakan sang istri yang masih hangat di bawah tudung saji.
Momentum seperti ini, bahkan tak pernah dia dapat selama bekerja sebagai nelayan kokang karena harus melaut berhari-hari.
Di usianya yang mulai beranjak ke kepala lima, Isnaini semakin sadar, bekerja itu bukan soal berapa hasil yang didapat, sebab bicara uang pasti selalu kurang. Dia yakin, ada hal yang tak ternilai dalam mengarungi hidup bersama keluarga kecilnya, yakni; waktu, dan itu tak dapat diukur dengan materi apapun.
Seluruh cita-citanya yang mungkin pernah ada di masa lalu, cukup lah sebatas angan yang kian meluap seringin hari berjalan. Biarlah harapan itu tumbuh subur di jiwa keempat anaknya yang masih punya kesempatan di masa depan.
Di ujung hayatnya nanti, dia juga tak berharap menjadi kaya dan meninggalkan banyak warisan harta. Dikenang sebagai ayah dan suami yang bertanggung jawab, itu sudah lebih dari cukup. “Semua ini pasti lah ujung-ujungnya untuk keluarga,” ujarnya.
Mungkin, dia sempat luput memberikan cukup waktu kepada istri dan ketiga anaknya — yang kini mulai beranjak dewasa. Tapi, masih ada kesempatan baginya untuk memperbaiki, dengan memberikan perhatian lebih banyak kepada si bungsu; Saka. Sangat mungkin bagi Isnaini berhenti melaut suatu saat nanti, dan dia menaruh harapan itu, di Betuah Laundry.
Jika ada waktu, duduk santai lah sejenak. Renung, apakah kita masih kurang beruntung?***





































