BERTUAHPOS.COM — Polusi akibat Karhutla membuat kualitas udara Pekanbaru jatuh ke level berbahaya pada Selasa, 25 Agustus 2026. Kabut asap pekat menyelimuti kota sejak dini hari akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terus meluas di berbagai wilayah di Riau.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mencatat konsentrasi PM2.5 melonjak drastis pada dini hari. Puncaknya terjadi pukul 01.00 WIB dengan angka 510 mikrogram per meter kubik, jauh melampaui ambang batas kategori berbahaya bagi kesehatan manusia.
Konsentrasi PM2.5 tetap bertahan di kategori berbahaya sepanjang pukul 00.00 hingga 07.00, dengan rentang angka 290 hingga 485 mikrogram per meter kubik. Kondisi ini menunjukkan paparan polusi akibat karhutla berlangsung lama dan konsisten tinggi, bukan sekadar lonjakan sesaat.
Memasuki pukul 08.00, konsentrasi PM2.5 turun menjadi 225 mikrogram per meter kubik, meski udara Pekanbaru masih berstatus sangat tidak sehat. Penurunan tersebut belum cukup mengembalikan kondisi udara ke ambang aman bagi aktivitas warga di luar ruangan.
Skala karhutla di Riau turut menjelaskan mengapa polusi akibat karhutla begitu parah tahun ini. Luas lahan terbakar di provinsi tersebut telah mencapai 16.231 hektare (Januari-Agustus), dengan ratusan titik panas terpantau tersebar di sejumlah kabupaten.
BMKG mendeteksi ribuan hotspot di wilayah Sumatera, termasuk titik panas berkepercayaan tinggi di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan. Arah angin dari tenggara menuju selatan turut mempercepat penyebaran asap dari kawasan tersebut hingga mencemari langit Pekanbaru.
Dampak polusi akibat karhutla dirasakan langsung oleh warga, terutama kelompok anak-anak dan lansia yang rentan gangguan pernapasan. Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru bahkan mengalihkan kegiatan belajar mengajar siswa TK hingga SMP menjadi daring guna menghindari paparan asap pekat.








