BERTUAHPOS.COM — Air di waduk PLTA Koto Panjang, Kampar, hanya beriak kecil. Tenang. Dari kejauhan, pancang-pancang sisa pepohonan mati, tegak berjejer. Bentuknya seperti pagar di tengah danau.
Yosvani menyipitkan mata tatkala hembusan angin siang menjelang sore itu, menerpa wajahnya. Tangan kirinya menggenggam tuas kendali mesin tempel di sebuah perahu yang melaju pelan, membelah tenangnya tirta hijau muda.
Bersama rombongan WWF Indonesia dan Rimba Satwa Foundation (RSF), kami bertolak dari Tepian Mahligai, membawa puluhan bibit pohon aren untuk ditanam di tebing sebuah pulau tak bernama, tapi secara administrasi, masuk dalam wilayah Desa Pulau Gadang, Kecamatan XII Koto Kampar, Riau.
Sabtu, 29 Agustus 2026, itu menjadi momentum penting sekaligus penanda awal aksi biodiversity safeguard di lanskap pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 114 megawatt (MW) itu.
Yosvani perlahan menurunkan kecepatan saat haluan mulai berbelok ke tepian. Pelan, perahu menyusuri celah-celah pancang, hingga benar-benar berlabuh di debing miring tanah kuning. Di sinilah, bibit-bibit aren itu ditanam.
Bukan tanpa alasan mengapa jenis aren yang dipilih. Sebelumnya, WWF Indonesia dan RSF sudah melakukan kajian terestrial dan akuatik. Aren merupakan salah satu jenis tanaman yang cocok dalam proyek percontohan biodiversity safeguard di lenskap ini.
“Salah satu yang menjadi prioritas itu di titik ini, karena merupakan titik terdekat juga dengan bendungan,” kata Git Fernando, Project Leader Program Biodiversity Safeguard di waduk itu.
Apa Itu Biodiversity safeguard?
Biodiversity safeguard adalah upaya perlindungan untuk menjaga keanekaragaman hayati agar tetap lestari di tengah pembangunan dan aktivitas manusia. Upaya itu meliputi; perlindungan habitat, spesies, keseimbangan ekosistem, mitigasi, hingga pemulihan dampak lingkungannya.
Penerapan biodiversity safeguard di PLTA Koto Panjang merupakan pilot project yang dikembangkan oleh RSF bersama WWF Indonesia, didukung oleh Uni Eropa (UE) dan berkolaborasi dengan PT PLN (Persero).

Proyek percontohan itu dikembangkan untuk melihat seperti apa dan bagaimana aspek keanekaragaman hayati perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan infrastruktur energi.
Cakupannya mulai dari pengelolaan di area sekitar proyek infrastruktur, sekaligus pengelolaan yang berkontribusi terhadap konservasi keanekaragaman hayati pada tingkat lanskap.
Jadi, prosesnya dimulai dengan memahami dulu kondisi keanekaragaman hayati lanskap Koto Panjang. Lalu, dilakukan identifikasi nilai dan risikonya, kemudian penilaian High Conservation Value (HCV). Setelah itu, disusun lah rekomendasi dan biodiversity management plan, baru lah diimplementasikan, dan di monitor secara berkala.
“Temuan dari kajian kemudian digunakan untuk menyusun rekomendasi pengelolaan dan rencana aksi yang dapat diterapkan oleh PLN bersama para pihak terkait,” ujar Git Fernando.
Apa yang Ditemukan?
Dari hasil kajian yang dilakukan WWF Indonesia dan RSF, diperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi biodiversitas terestrial dan akuatik di kawasan PLTA Koto Panjang—termasuk lanskap di sekitarnya—sebagai bagian dari upaya penguatan perlindungan keanekaragaman hayati dalam wilayah operasional pembangkit listrik tenaga air itu.
Kajian biodiversitas terestrial dan akuatik di kawasan ini ternyata bisa saling melengkapi. Pertama kajian biodiversitas terestrial yang mencakup tumbuhan, burung dan mamalia, termasuk kondisi habitat, distribusi spesies, status konservasi, serta penggunaan camera trap.
Kajian kedua, kajian biodiversitas akuatik yang melihat kondisi ekosistem perairan, terutama komunitas ikan, karakter habitat, spesies asli dan introduksi, spesies bernilai konservasi, serta tekanan terhadap ekosistem perairan.
Kedua kajian itu membantu untuk melihat daratan dan perairan sebagai bagian dari satu lanskap yang saling berhubungan satu sama lain.
Dalam kajian tersetrial yang dilakukan menemukan berbagai jenis tumbuhan, burung dan mamalia yang menggunakan lanskap Koto Panjang.
Salah satunya adalah kokah (Presbytis percura), yang dalam laporan kajian berstatus Critically Endangered (CR) dan disebut sebagai primata endemik Riau. Selain kokah, juga ditemukan owa ungko (Hylobates agilis) dan siamang (Symphalangus syndactylus) yang berstatus Endangered (EN). Sebagai primata arboreal, keberadaan keduanya berkaitan erat dengan tutupan dan konektivitas tajuk hutan.
Sementara itu, dari survei mamalia secara keseluruhan mencatat 280 individu dari 12 jenis dan empat famili. Untuk melengkapi pengamatan langsung, sebanyak 15 kamera trap digunakan di sejumlah grid pengamatan, dan berhasil merekam pergerakan beruang madu, kijang muncak, kancil dan landak. Beberapa satwa tersebut relatif jarang terekam, tetapi keberadaannya tetap penting dalam memahami kondisi habitat yang masih digunakan satwa liar.
Kajian burung juga menemukan spesies dengan nilai konservasi penting, termasuk cica-daun besar yang berstatus Endangered, serta tiga spesies burung berstatus Vulnerable menurut IUCN.
Dengan begutu, keberadaan primata, burung dan mamalia tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kondisi habitat, konektivitas vegetasi, dan ruang yang masih digunakan satwa di dalam lanskap Koto Panjang.
Sedangkan pada temuan kajian akuatik, menunjukkan bahwa ekosistem perairan Koto Panjang juga memiliki keragaman ikan yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil survei, sebanyak 47 spesies atau sekitar 92 persen merupakan ikan asli Indonesia, sementara empat spesies merupakan ikan introduksi.

Survei mendapatkan Ikan kapiat (Barbonymus Schawanafeldii) menjadi populasi ikan di PLTA yang paling dominan. Populasinya menjadi sangat besar karena habitat yang baru dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan itu.
Selain itu kapiat, ditemukan juga ikan belida (Notopterus notopterus), yang kini menjadi salah satu spesies dilindungi—berdasarkan Kepmen Kelautan dan Perikanan Nomor 83 Tahun 2024.
Survei juga menemukan ikan baung (Hemibagrus planiceps), lelan kopu (Lobocheilos scapularis) dan klari (Lobocheilos falcifer) yang berstatus Vulnerable menurut IUCN.
“Tidak hanya berapa jenis ikan yang ditemukan, tetapi juga bagaimana kondisi habitat dan aktivitas manusia di sekitar perairan dapat memengaruhi keberadaan spesies tersebut,” ujar Git Fernando.
Mengapa Desa Pulau Gadang?
Desa Pulau Gadang masuk dalam dalam lanskap Koto Panjang dan memiliki konteks ekologis serta sosial yang saling mendukung. Itulah alasan mengapa desa ini dipilih sebagai salah satu lokasi implementasi awal di pilot project biodiversity safeguard ini.
Secara ekologis, lokasi implementasi mempertemukan daratan, tepian perairan dan perairan. Karena itu, vegetasi yang ditanam di zona tepian dapat memberikan fungsi bagi ekosistem terestrial sekaligus akuatik.
Secara sosial, masyarakat Pulau Gadang merupakan bagian dari sejarah dan lanskap Koto Panjang. Masyarakat juga memiliki hutan adat yang berada dalam lanskap Koto Panjang dan masih diupayakan untuk dijaga.
Bagi WWF dan RSF, konteks ini menjadi penting, karena biodiversity safeguard tidak hanya berbicara tentang kondisi ekologis, melainkan bagaimana pengetahuan, praktik dan upaya masyarakat, dapat menjadi bagian dari pengelolaan lanskap ini.
Desa Pulau Gadang juga punya hutan adat Kenegerian Pulau Gadang. Hutan itu mereka lindungi dengan menerapkan aturan adat secara ketat. “Perdes untuk memperkuat aturan adat itu sedang kami susun,” ujar Kepala Desa Pulau Gadang, Syofian.
Hutan adat itu mencakup wilayah dua desa, yakni Desa Pulau Gadang dan Desa Negeri Sembilan. Luasnya sekitar 23 ribu hektare. Adanya potensi dijamah oleh aktivitas perambahan, membuat Perdes dan aturan penguat lainnya, menjadi kian mendesak.

Syofian berkata, hutan itu memiliki fungsi penting. Pertama, menjaga kehidupan flora dan fauna di dalamnya. Kedua, menjaga kelestarian ekosistem Danau PLTA Koto Panjang.
Bagi masyarakat Pulau Gadang, hutan adat itu bukan hanya soal nilai ekologis. Potensi ekonomi yang terkandung di dalamnya berkontribusi besar terhadap asap dapur warga sejak dulu kala.
Sebut saja di kawasan Batang Ulak I dan Batang Ulak II. Gaharu, manau (sejenis rotan) dan beragam hasil hutan pernah jadi penopang penghidupan warga setempat.
Sejalan dengan konsep biodiversity safeguard yang dilakukan WWF Indonesia dan RSF, Sofyan ingin hutan adatnya menjadi lumbung aren di masa depan dengan konsep tumpang sari. “Kami sudah memulainya dengan menanam di pinggir-pinggir danau,” ujarnya.
Mengapa Harus Aren?
Kata Git, bukan cuma aren yang cocok ditanam di landskap Koto Panjang, meranti rawa juga bisa. Termasuk tegakan pohon asli setempat. Untuk jenis vegetasi ukuran lebih kecil, rumput kumpeh, melati air dan kiambang cocok untuk dikembangbiakkan di sini.
“Pemilihannya mempertimbangkan fungsi ekologis zona tepian, yang menjadi ruang pertemuan antara ekosistem daratan dan perairan,” jelasnya.
Aren dan meranti rawa memiliki daya tahan tinggi terhadap kondisi sekitar perairan dan dapat membentuk kanopi yang menyediakan area teduh bagi ikan.
Sementara rumput kumpeh, melati air dan kiambang dapat menjadi bagian dari habitat mikro bagi ikan untuk mencari makan, berlindung dan beraktivitas.
Dari sisi terestrial, vegetasi tepian juga diharapkan dapat membantu menahan laju sedimentasi dan menyediakan struktur vegetasi yang dapat dimanfaatkan oleh burung, primata dan satwa lainnya.
Dengan demikian, penanaman diarahkan untuk memperkuat fungsi ekologis tepian dengan mempertimbangkan hasil kajian terestrial dan akuatik.
Dari hasil kajian yang dilakukan, ketimbang meranti rawa dan tegakan pohon setempat, aren punya fungsi ganda sekaligus. Selain dari sisi ekologi, nilai ekonominya bagi masyarakat sangat tinggi. Hampir dari seluruh bagiannya bisa dimanfaatkan dan bisa menjadi tanaman nafkah (livelihood) berbasis konservasi.
“Tentu, tidak hanya sekali. Berdasarkan rencana yang disusun, akan ada tiga kali kegiatan penamanan aren dalam satu rangkaian pilot project,” kata Git.
Langkah Awal untuk Perkuat Ekosistem Koto Panjang
Pihak PT PLN (Persero) Unit PLTA Koto Panjang, yakin bahwa pilot project biodiversity safeguard dapat menjadi langkah awal yang lebih baik bagi kelangsungan waduk pembangkit itu.
Adapun lokasi penanaman aren, ditentukan berdasarkan hasil kajian kondisi vegetasi serta tingkat urgensi konservasinya. Ada beberapa grid yang tersedia.
Di kawasan PLTA Koto Panjang, terdapat sejumlah grid yang kondisinya boleh dikatakan kritis karena vegetasinya telah mengalami penurunan. Jika dibiarkan, tentu berbahaya terhadap keberlangsungan biodiversitas di sekitarnya.
Namun, beberapa lokasi memiliki kendala akses karena berada cukup jauh dan sulit dijangkau. Karena itu, PLN memilih kawasan yang berada paling dekat dengan area bendungan sebagai titik awal pelaksanaan program.
“Untuk yang paling mudah dan cepat adalah grid ini—salah satu grid yang bisa dikatakan kritis dan mudah kita laksanakan bersama,” kata PLN NP ULPLTA Koto Panjang, Yauma A.
Bagi PLN, program ini bukan sebatas percontohan. Mereka berharap lebih dan tidak berhenti hanya pada penamanan aren. Yumna menegaskan, ini adalah langkah awal mereka dalam upaya konservasi yang lebih luas dan berkelanjutan, lewat kolaborasi bersama WWF Indonesia dan RSF.
Peluang kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan juga masih terbuka lebar. Tujuannya untuk memperluas kegiatan perlindungan biodiversitas di kawasan itu. Ini menjadi bukti nyata bahwa kebutuhan energi, bisa berdampingan dengan kelestarian alam.

“Semoga ini juga bisa menjadi titik awal. Kedepannya bisa kita bekerja sama dengan lebih banyak stakeholder untuk program seperti ini,” kata Yauma.
Dalam konteks pilot project, bagi WWF Indonesia, RSF dan PLN, aspek ini dapat menjadi ruang pembelajaran lebih lanjut soal bagaimana manfaat konservasi dan penghidupan masyarakat dapat berjalan seimbang dan saling beriringan.
Penanaman puluhan bibit aren itu menjadi langkah awal untuk mendorong keterlibatan banyak pihak dalam menjaga kawasan PLTA Koto Panjang.
Dari sini kita bisa memahami satu hal, bahwa kebutuhan akan energi dan kelestarian alam bukanlah dua kutub yang harus saling meniadakan.
Energi itu menghidupkan peradaban, alam itu menjaga kehidupan, dan masyarakat di tingkat tapak, harusnya tidak selalu menjadi korban. Ketika dikelola dengan bijak, keduanya dapat tumbuh berdampingan. Itulah keseimbangan. Dengan begitu, listrik tersedia, alam pun terjaga.









