BERTUAHPOS — Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Meutya Hafid, mengaku menerima laporan masyarakat terkait provokasi di ruang digital, termasuk ajakan penjarahan, penyerangan, dan penyebaran isu SARA.
Lewat unggahan di instagramnya, Meutya Hafid, menyebut informasi keliru banyak disebarkan dengan kecepatan sangat tinggi hingga menenggelamkan konten positif, seperti masukan, kritik konstruktif, aktivitas pembelajaran, maupun kegiatan UMKM.
“Indikasi awal menunjukkan adanya upaya terorganisir untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana provokasi,” kata Meutya sebagaimana dilihat Bertuahpos, Selasa, 2 September 2025.
Kemkomdigi juga mencatat adanya aliran dana signifikan melalui platform digital. Beberapa akun menyiarkan konten kekerasan dan anarkisme secara langsung (live streaming) yang kemudian dimonetisasi lewat fitur donasi maupun gifts bernilai besar. Akun-akun tersebut terhubung dengan jaringan internasional daring.
Meutya menegaskan pemerintah menghormati masyarakat yang menyampaikan aspirasi dengan tertib. Namun, pihaknya juga menemukan kelompok yang secara sengaja menggerakkan massa melalui media sosial menuju titik tertentu dengan menayangkan konten provokatif secara maraton.
Kemkomdigi mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati, tidak mudah terpancing provokasi, dan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Biasakan melakukan pengecekan silang dengan sumber terpercaya, termasuk media yang memegang teguh kode etik jurnalistik,” ujarnya.
Dia menyebut, ruang digital adalah milik bersama yang harus dijaga agar tetap sehat, aman, dan tidak dimanfaatkan pihak-pihak yang ingin memecah belah.***









