SEKTOR perikanan dan kelautan Provinsi Riau harus menjadi pemain utama dalam program ketahanan pangan nasional yang kini tengah dicanangkan pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Ketua Umum Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), Laksamana TNI (Purn) Sumardjono, sejak dulu Riau telah berkontribusi besar di sektor ini. “Bahkan potensi perikanannya dikenal dunia. Masih ada harapan untuk membangkitkan kembali potensi itu,” katanya saat berkunjung ke Pekanbaru akhir pekan lalu.
Tidak hanya perikanan tangkap, menurutnya, Riau juga sangat potensial di perikanan darat [budidaya]. Namun, masih perlu dikelola secara serius dan berkelanjutan.
Sumardjono menilai, bahwa potensi tersebut sangat penting dalam mendukung program ketahanan pangan nasional yang kini tengah dicanangkan pemerintah. Terutama untuk pemenuhan kebutuhan protein masyarakat.
“Dari program itu, salah satunya bisa dipenuhi dari sektor perikanan, terutama ikan sebagai sumber protein,” katanya.
Oleh sebab itu, kata dia, nelayan tak perlu merasa khawatir jika hasil tangkapan cuma digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. “Untuk konsumsi sendiri, silakan. Sisanya bisa dijual untuk menambah penghasilan,” ujarnya.
Sumardjono juga menekankan bahwa isu kelangkaan ikan seharusnya tidak menjadi kekhawatiran utama, selama pengelolaan dilakukan secara bijak dan berkelanjutan. Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga tata cara penangkapan ikan agar tidak merusak ekosistem perairan.
“Kita tidak boleh semena-mena dalam menangkap ikan. Kelestarian lingkungan hidup harus tetap dijaga,” tegasnya.
Dia menambahkan bahwa kualitas dan kuantitas hasil perikanan harus didukung dengan teknologi modern agar produktivitas nelayan meningkat tanpa mengorbankan kelestarian alam.
“Kalau kita ingin hasil yang maksimal dan berkelanjutan, tentu teknologi harus dilibatkan. Baik dalam budidaya, tangkap, maupun pascapanen,” tuturnya.***









