• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Selasa, Oktober 27, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Musim Kemarau Ekstrime, Kekeringan di Darat, Panen Melimpah di Laut

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
30 Maret 2026
Musim Kemarau Ekstrime, Kekeringan di Darat, Panen Melimpah di Laut
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS – Para peneliti iklim mendeteksi pola cuaca tidak biasa pada awal tahun 2026. Awan hujan terpantau menghilang lebih cepat dari siklus normal, menandakan musim kemarau akan menyapa Indonesia lebih awal pada April ini.

Meski kondisi ini mengancam sektor pertanian dengan risiko kekeringan, fenomena alam di bawah permukaan laut justru menjanjikan cerita berbeda bagi ketahanan pangan nasional.

Peneliti Ahli Utama Oseanografi Terapan dan Manajemen Pesisir di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Pranowo, mengungkapkan bahwa awal kemarau ini mengaktifkan “aktor utama” bernama Angin Timuran.

Angin yang berembus dari Australia menuju Asia ini mendorong massa air hangat di permukaan laut menjauh dari pantai, sehingga memicu fenomena upwelling—pengangkatan massa air dingin dari kedalaman menuju permukaan.

“Air laut dari kedalaman membawa nutrien penting seperti nitrat dan fosfat, unsur yang oleh para ilmuwan sering disebut sebagai ‘pupuk alami’ laut,” jelas Widodo. Munculnya nutrien ini memicu ledakan pertumbuhan fitoplankton yang menjadi fondasi rantai makanan bagi ikan-ikan pelagis besar seperti tuna, cakalang, hingga ikan lemuru.

Para peneliti kini memantau dinamika ini menggunakan teknologi Argo Float, robot penyelam otomatis yang mampu merekam data hingga kedalaman 2.000 meter.

Data terbaru menunjukkan indikasi naiknya lapisan thermocline, yang menjadi sinyal kuat bahwa fenomena upwelling sedang berlangsung intensif di sepanjang selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.

Widodo menjelaskan karakter unik di selatan Jawa yang dikenal dunia internasional sebagai RATU (Semi-permanent Java Coastal Upwelling).

Fenomena ini diproyeksikan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus 2026.

“Pertumbuhan fitoplankton pada 2026 diperkirakan mulai terlihat pada April hingga Mei, meningkat tajam pada Juni, dan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus,” prediksi Widodo.

Widodo menjelaskan ada ironi alam yang menarik pada tahun ini. Jika fenomena iklim global El Niño turut menguat, kekeringan di daratan memang akan semakin parah.

Namun, di sisi lain, El Niño justru memperkuat intensitas pengangkatan nutrien di laut. Hal ini memperluas wilayah laut produktif, menjadikan laut sebagai penyangga protein alternatif saat sumber pangan darat melemah akibat gagal panen.

Di berbagai daerah, nelayan tradisional sudah mulai bersiap. Di Selat Bali, kemunculan fitoplankton dipastikan akan diikuti oleh kawanan ikan lemuru. Sementara di Kampung Malaumkarta, Papua Barat Daya, para nelayan mulai membaca tanda-tanda alam untuk menyambut musim tangkap besar.

Widodo menegaskan bahwa di tengah ketidakpastian perubahan iklim, pemantauan laut secara berkelanjutan adalah kebutuhan strategis nasional.

Data oseanografi dan model iklim modern kini menjadi alat vital untuk memprediksi lokasi berkumpulnya ikan, sehingga nelayan dapat melaut dengan lebih efisien. Saat sawah-sawah di daratan menanti hujan, laut Indonesia justru sedang menyiapkan “panen raya” dari kedalamannya.***

Tags: kelautanlingkunganperikanan
Share5Tweet3Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Ini Penjelasan Ahli Mengapa Karhutla di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan
Berita Pilihan

Ini Penjelasan Ahli Mengapa Karhutla di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan

...

Read moreDetails
Listrik Tersedia, Alam Terjaga, Melihat Lebih Dekat Biodiversity Safeguard di Lanskap Koto Panjang

Listrik Tersedia, Alam Terjaga, Melihat Lebih Dekat Biodiversity Safeguard di Lanskap Koto Panjang

Jikalahari Kritik Kunjungan Perdana Prabowo ke Riau, Dinilai Cuma Pindah Lokasi Rapat

Jikalahari Kritik Kunjungan Perdana Prabowo ke Riau, Dinilai Cuma Pindah Lokasi Rapat

111 Tersangka Karhutla di Riau, Jikalahari Pertanyakan: Korporasinya Mana?

111 Tersangka Karhutla di Riau, Jikalahari Pertanyakan: Korporasinya Mana?

Warga Dihimbau Tidak Terbangkan Drone Saat Heli Kopter Waterbombing Beroperasi

Warga Dihimbau Tidak Terbangkan Drone Saat Heli Kopter Waterbombing Beroperasi

Polusi Akibat Karhutla Riau, Status Udara di Pekanbaru Berbahaya

Polusi Akibat Karhutla Riau, Status Udara di Pekanbaru Berbahaya

Next Post
Perebutan Sawit: Pangan vs Energi di Dapur Rakyat

Perebutan Sawit: Pangan vs Energi di Dapur Rakyat

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.