Penulis: Gilang Helindro | Communications Specialist Traction Energy Asia
PAGI di pinggiran Pekanbaru tidak pernah benar-benar sunyi. Mobil truk-truk besar melintas dengan deru berat, membawa tandan buah segar dari kebun-kebun sawit yang membentang sejauh mata memandang. Dari bak terbuka, aroma asam-manis khas buah sawit bercampur dengan debu jalanan dan sisa embun malam.
Di sebuah warung kecil beratap seng, seorang ibu berdiri di depan rak yang hampir kosong. Tangannya menggenggam botol plastik bekas. Ia tidak sedang mencari sesuatu yang mewah hanya minyak goreng. Di belakangnya, jalanan dipenuhi truk yang membawa bahan baku dari produk yang sama, kejadian itu 2024 silam saat kelangkaan minyak goreng.
Kontras itu terasa terlalu nyata untuk diabaikan dan tak dipungkiri bisa terjadi lagi dikemudian hari.
Riau adalah salah satu jantung ekonomi berbasis sumber daya di Indonesia. Dengan luas kebun sawit melampaui 4 juta hektare dan produksi Crude Palm Oil (CPO) yang diperkirakan mencapai 8 hingga 10 juta ton per tahun, provinsi ini menyumbang porsi signifikan terhadap pasokan nasional. Nilai ekonominya tercermin dalam angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang mendekati Rp1.000 triliun per tahun.
Namun angka itu, seperti banyak angka dalam ekonomi makro, tidak selalu mencerminkan apa yang terjadi di dapur rumah tangga. Lebih dari separuh struktur ekonomi Riau masih ditopang oleh sektor ekstraktif minyak dan gas bumi serta kelapa sawit. Dalam struktur seperti ini, harga domestik sangat rentan terhadap pergerakan global. Ketika harga CPO dunia naik, transmisi harga merambat cepat ke dalam negeri, termasuk ke minyak goreng sebagai produk turunannya.
Di titik ini, risiko kelangkaan tidak selalu berasal dari kurangnya produksi, tetapi dari ketidakseimbangan alokasi. Ketika permintaan global meningkat dan harga internasional lebih tinggi, pasokan domestik secara alamiah akan menyusut bukan karena tidak ada barang, tetapi karena barang tersebut mencari pasar yang lebih menguntungkan.
Inilah yang membuat kelangkaan minyak goreng di daerah produsen seperti Riau terasa paradok sekaligus logis. Dalam satu dekade terakhir, tekanan terhadap pasokan domestik semakin kuat. Program mandatori biodiesel menyerap volume CPO dalam skala besar sekitar 10 hingga 13 juta kiloliter per tahun secara nasional. Dengan dukungan dana dari BPDPKS yang mencapai puluhan triliun rupiah, sektor ini tidak hanya tumbuh, tetapi dipastikan tumbuh.
Dalam bahasa ekonomi, ini menciptakan demand shock yang bersifat permanen. Permintaan terhadap CPO tidak lagi hanya bergantung pada pasar pangan dan ekspor, tetapi juga pada kebijakan energi yang memiliki kepastian jangka panjang.
Masalahnya, sisi pasokan tidak selalu bisa merespons dengan kecepatan yang sama. Perluasan lahan semakin terbatas, produktivitas tidak naik secara instan, dan tekanan lingkungan semakin ketat. Dalam kondisi seperti ini, setiap peningkatan permintaan akan berujung pada satu hal: perebutan alokasi.
Ketika biodiesel menyerap lebih banyak CPO, ruang untuk minyak goreng otomatis menyempit. Dan karena minyak goreng berada di bawah kendali harga, respons pasar tidak terjadi melalui peningkatan produksi, melainkan melalui dua gejala klasik: kenaikan harga di luar kontrol dan potensi kelangkaan di tingkat distribusi.
Siang hari di Dumai, kapal-kapal tanker berjejer menunggu muatan. Dari sini, sawit tidak lagi sekedar komoditas lokal, tetapi bagian dari rantai pasok global. Setiap ton yang keluar mengikuti logika harga internasional.

Dalam ekonomi terbuka seperti Indonesia, harga domestik pada akhirnya akan “mengejar” harga global. Ketika selisih harga terlalu lebar, muncul insentif untuk mengalihkan pasokan ke luar negeri baik secara legal maupun melalui berbagai celah distribusi.
Di sinilah kebijakan seperti Domestic Market Obligation (DMO) diuji. Secara teori, ia dirancang untuk menjaga pasokan domestik. Namun dalam praktik, efektivitasnya sering bergantung pada seberapa besar selisih harga yang harus “dikorbankan” oleh pelaku usaha.
Semakin besar selisih itu, semakin tinggi pula godaan untuk menghindari pasar domestik.
Akibatnya, kelangkaan tidak selalu terjadi secara merata. Ia muncul secara sporadis di titik-titik distribusi tertentu, di pasar-pasar lokal, di warung-warung kecil seperti yang berdiri di pinggiran Pekanbaru itu.
Tekanan ini belum mencapai puncaknya. Di horizon, ada permintaan baru yang perlahan mendekat: Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Berbeda dengan biodiesel, SAF memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Di pasar global, harganya bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat bahan bakar konvensional. Ini menciptakan insentif yang bahkan lebih kuat untuk mengalihkan bahan baku ke sektor energi.
Jika biodiesel sudah menciptakan tekanan pada pasokan minyak goreng, SAF berpotensi memperdalamnya.
Dalam skenario tertentu, kombinasi antara permintaan biodiesel, ekspor, dan SAF dapat menciptakan kondisi yang dalam ekonomi dikenal sebagai tight supply ketika pasokan relatif terhadap permintaan menjadi sangat terbatas. Dalam kondisi seperti ini, harga menjadi sangat sensitif terhadap gangguan kecil, dan volatilitas meningkat tajam.
Bagi konsumen, ini berarti satu hal: harga yang sulit diprediksi, dan dalam beberapa kasus, kelangkaan yang berulang.
Di sebuah desa di Siak, seorang petani sawit duduk di beranda rumahnya. Ia berbicara tentang panen, tentang pupuk, tentang harga TBS. Lalu ia menyebut minyak goreng, seolah itu bagian dari cerita yang sama. “Kadang ada, kadang tidak,” katanya. “Kalau ada, harganya beda-beda.”
Apa yang ia alami bukan kebetulan. Dalam rantai pasok yang panjang dan terfragmentasi, gangguan kecil di tingkat hulu atau kebijakan di tingkat nasional dapat berujung pada ketidakpastian di tingkat paling bawah.
Petani seperti dirinya menghadapi dua risiko sekaligus. Sebagai produsen, ia terpapar fluktuasi harga global. Sebagai konsumen, ia menghadapi volatilitas harga domestik. Dalam ekonomi, ini disebut sebagai double exposure terpapar risiko di dua sisi pasar.
Dan dalam konteks ini, minyak goreng menjadi indikator yang paling nyata.
Sore hari di Pekanbaru, warung kecil itu kembali ramai. Rak minyak goreng mulai terisi, tetapi harganya naik dibanding minggu lalu. Seorang ibu membeli lebih sedikit dari biasanya. Ia menyesuaikan, seperti yang dilakukan banyak orang lain.
Dalam ekonomi rumah tangga, penyesuaian seperti ini jarang tercatat dalam statistik besar, tetapi dampaknya nyata. Konsumsi berubah, pola makan bergeser, dan beban hidup perlahan meningkat.
Di sinilah persoalan ini melampaui angka produksi dan ekspor. Ia masuk ke dalam ruang yang lebih sunyi: dapur, meja makan, dan keputusan sehari-hari.
Di balik semua ini, sebenarnya ada ruang untuk mengurangi tekanan tersebut. Limbah sawit seperti Palm Oil Mill Effluent (POME) dan minyak jelantah menawarkan sumber bahan baku yang tidak bersaing dengan pangan.
Dari sisi ekonomi, ini berarti memperluas pasokan tanpa memperketat alokasi.
Potensinya signifikan. Dari jutaan ton limbah yang dihasilkan setiap tahun, terdapat peluang untuk menghasilkan lebih dari satu juta ton minyak residu. Jika diarahkan dengan tepat, ini dapat menjadi bantalan terhadap tekanan permintaan dari sektor energi.
Namun tanpa kebijakan yang jelas, potensi ini bisa tetap menjadi potensi tidak cukup kuat untuk mengubah arah pasar.
Malam turun perlahan di Riau. Truk-truk masih bergerak, pabrik masih menyala, dan aliran sawit terus berlangsung. Di langit, mungkin ada pesawat yang terbang dengan bahan bakar yang sebagian berasal dari tanah ini.
Di sebuah rumah sederhana, seorang ibu menyiapkan makan malam. Minyak goreng mendidih di wajan, sedikit lebih hemat dari biasanya.
Di antara perut rakyat, tangki mesin, dan sayap pesawat, ekonomi tidak lagi sekadar soal produksi, tetapi soal ketahanan. Ketahanan terhadap harga, terhadap pasokan, dan terhadap pilihan kebijakan yang menentukan ke mana arah aliran sumber daya.
Riau telah lama menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Namun di balik kelimpahan itu, tersimpan kerentanan yang tidak selalu terlihat: bahwa dalam sistem yang semakin kompleks, kelangkaan bisa muncul bukan karena tidak ada, tetapi karena tidak diprioritaskan.
Dan ketika itu terjadi, yang paling dulu merasakannya bukanlah pasar global, melainkan dapur-dapur kecil yang bergantung pada satu hal sederhana ketersediaan dan keterjangkauan minyak goreng.***
Simak tilisan Opini menarik lainnya









