• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Selasa, Oktober 6, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Membaca Apa yang Dirasakan Pelanggan: Tantangan Baru Bisnis Era Moderen

Oleh: Charly Sumanullang

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
26 Mei 2026
Menciptakan Makna Pasar Energi Bersih Melalui Strategi Diferensiasi Berbasis Nilai
156
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Dunia bisnis sedang mengalami perubahan yang jauh lebih besar dibanding sekadar perkembangan teknologi. Perubahan terbesar hari ini sesungguhnya terjadi pada cara manusia mengambil keputusan sebagai konsumen. Banyak perusahaan masih percaya bahwa persaingan bisnis modern tetap ditentukan oleh kualitas produk, efisiensi harga, atau agresivitas promosi. Padahal realitas pasar menunjukkan sesuatu yang jauh lebih kompleks yaitu konsumen modern berubah lebih cepat dibanding kemampuan sebagian perusahaan dalam memahami perubahan tersebut.Hal ini menjelaskan dunia bisnis memasuki era baru persaingan, yaitu Persaingan bukan lagi sekadar perang produk atau perang harga, melainkan perang relevansi pelanggan.

Selama beberapa dekade, konsep pemasaran modern dibangun di atas fondasi segmentasi pasar. Pemikiran Philip Kotler melalui pendekatan Segmenting, Targeting, and Positioning (STP) berhasil membentuk paradigma pemasaran global yang berorientasi pada pengelompokan konsumen berdasarkan usia, wilayah geografis, pendapatan, maupun karakter psikografis. Dalam era industri dan ekonomi konvensional, pendekatan tersebut terbukti sangat efektif karena perilaku konsumen relatif stabil dan perubahan pasar berlangsung secara bertahap. Namun disisi lain revolusi digital telah mengubah hampir seluruh struktur perilaku pasar.

Hari ini, pelanggan tidak lagi berada dalam pola konsumsi yang mudah diprediksi. Preferensi mereka dibentuk secara simultan oleh media sosial, algoritma digital, komunitas virtual, tren informasi, pengalaman personal, hingga dinamika emosional yang bergerak secara real time.Sebagai contoh  dua orang dengan usia, pekerjaan, dan tingkat pendapatan yang sama dapat memiliki perilaku konsumsi yang sepenuhnya berbeda hanya karena berada dalam ekosistem digital yang berbeda. Artinya, pelanggan modern tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai “segmen pasar”, melainkan mereka harus dipahami sebagai manusia yang dinamis. Di sinilah perusahaan menghadapi tantangan baru yang jauh lebih kompleks yaitu membaca apa yang sebenarnya dirasakan pelanggan.

Perubahan ini melahirkan pergeseran besar dalam dunia pemasaran, yaitu  dari mass marketing menuju hyper-personalization dan predictive customer engagement. Perusahaan tidak lagi cukup hanya mengetahui siapa konsumennya, tetapi harus mampu memahami apa yang sedang dipikirkan, diinginkan, bahkan dirasakan pelanggan pada saat tertentu. Karena itu, pertanyaan bisnis modern tidak lagi sekadar: “Siapa pelanggan kita?” Tetapi berubah menjadi “Apa yang sedang dirasakan pelanggan saat ini?”

Perusahaan-perusahaan digital global seperti Netflix, Amazon, Spotify, hingga TikTok memahami perubahan ini jauh lebih cepat dibanding banyak perusahaan konvensional. Perusahaan Digital tidak hanya menjual produk atau layanan digital, tetapi mereka membangun sistem berbasis artificial intelligence (AI) dan big data yang mampu membaca perilaku pelanggan melalui histori konsumsi, pola interaksi, preferensi konten, hingga ritme emosional pengguna secara real time. Dalam konteks ini Perusahaan digital didefenisikan  menjual relevansi.

Dalam perspektif pemasaran strategis, fenomena ini menunjukkan bahwa keunggulan kompetitif modern tidak lagi bertumpu semata pada produk, tetapi pada kemampuan perusahaan menciptakan pengalaman pelanggan yang terasa personal, kontekstual, dan relevan secara emosional, dengan kata lain konsumen modern tidak lagi hanya membeli fungsi produk, tetapi mereka membeli pengalaman, kenyamanan, kecepatan respons dan pengakuan social, serta rasa aman. Dan yang paling penting adalah  mereka membeli produk dari rasa dipahami oleh si penyedia barang atau jasa.

Atas dasar penjelasan diatas loyalitas pelanggan modern menjadi jauh lebih rapuh dibanding masa sebelumnya. Konsumen dapat berpindah merek hanya karena pengalaman digital yang buruk, layanan pelanggan yang lambat, komunikasi pemasaran yang terasa biasa, atau interaksi bisnis yang kehilangan sentuhan manusiawi.

Penelitian Rubio-Andrés., et all dalam International Entrepreneurship and Management Journal tahun 2024 memperlihatkan bahwa strategi diferensiasi, inovasi, dan kemampuan pemasaran memiliki pengaruh signifikan terhadap market performance perusahaan. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa inovasi hanya akan efektif apabila didukung oleh marketing capability yang mampu menerjemahkan inovasi menjadi pengalaman pelanggan yang relevan.  Temuan ini memperlihatkan bahwa teknologi saja tidak cukup.

Banyak perusahaan memiliki AI, big data, automation system, dan kemampuan digital yang sangat canggih, tetapi gagal membangun hubungan emosional dengan konsumennya. Akibatnya, perusahaan waluapun terlihat lebih efisien, tetapi tidak selalu menjadi lebih dekat dengan pelanggan. Dalam Faktor inilah  paradoks besar bisnis modern muncul yaitu ketika teknologi semakin maju, konsumen justru semakin membutuhkan pendekatan yang lebih manusiawi.

Fenomena ini mulai terlihat jelas dalam praktik digital marketing kontemporer. Banyak pelanggan mulai merasa “dikejar algoritma” melalui iklan yang terlalu invasif, rekomendasi berlebihan, hingga komunikasi digital yang terasa mekanis dan tidak empatik. Konsumen mulai mengalami digital fatigue akibat relasi bisnis yang terlalu didominasi mesin. Padahal pelanggan bukan sekadar data analytics, melainkan manusia dengan emosi, pengalaman, kecemasan, harapan, dan kebutuhan untuk dipahami secara personal.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Hermawan Kartajaya mengenai human centric marketing, yakni pendekatan bisnis yang tidak lagi hanya berorientasi pada transaksi, tetapi pada pembangunan hubungan emosional dan nilai kemanusiaan dengan pelanggan. Perspektif ini juga sejalan dengan arah pemikiran terbaru Philip Kotler dalam Marketing 5.0 yang menempatkan teknologi sebagai alat untuk menciptakan pengalaman pelanggan yang lebih manusiawi, bukan menggantikan manusia itu sendiri.

Tantangan ini menjadi semakin penting karena banyak perusahaan masih terjebak pada paradigma product oriented dan sales oriented. Strategi bisnis masih terlalu fokus pada target penjualan jangka pendek tanpa memahami perubahan psikologis konsumennya. Padahal transformasi bisnis yang sesungguhnya bukan terletak pada seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi pada seberapa besar perusahaan memahami manusia sebagi konsumen di balik data tersebut.

AI dapat membaca perilaku pelanggan dengan tingkat presisi yang sangat tinggi, tetapi sikap empati tetap dibutuhkan dalam melayani manusia sebagai konsumen. Kecanggihan Teknologi yang digunakan dapat membantu perusahaan mengetahui apa yang dilakukan pelanggan, tetapi kemampuan untuk memahami mengapa pelanggan merasakan sesuatu adalh dari sikap empati dalam pelayanan

Karena itu, masa depan bisnis akan dimenangkan oleh perusahaan yang paling mampu mengubah data menjadi pemahaman manusiawi dengan layanan empati yang disajikan, sebab di tengah era perkembangan teknologi  hari ini  pelanggan mungkin tertarik oleh teknologi,tetapi dibalik semua itu mereka tetap loyal kepada empati. Dan ketika perusahaan kehilangan kemampuan membaca apa yang dirasakan pelanggannya, maka perlahan perusahaan sedang kehilangan relevansi, kepercayaan, dan masa depan Perusahaan itu sendiri.

*Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Eknomi dan Manajemen Bisnis, Universitas Riau

Tags: Opini
Share4Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Ketika Viral Menjadi Komoditas, Kredibilitas Menjadi Kelangkaan Baru
Opini

Ketika Viral Menjadi Komoditas, Kredibilitas Menjadi Kelangkaan Baru

...

Read moreDetails
Ekonomi di Tengah Tekanan Lingkungan

Ekonomi di Tengah Tekanan Lingkungan

Percaya pada AI Boleh, Menyerahkan Pilihan? Jangan

Percaya pada AI Boleh, Menyerahkan Pilihan? Jangan

Jaringan Gas Rumah Tangga dan Tantangan Penerimaan Masyarakat

Jaringan Gas Rumah Tangga dan Tantangan Penerimaan Masyarakat

Era Teknologi Maju, Engagement Pelanggan Turun, Saatnya Bangun Kepercayaan

Era Teknologi Maju, Engagement Pelanggan Turun, Saatnya Bangun Kepercayaan

Ketika Algoritma Mengarahkan Pilihan

Ketika Algoritma Mengarahkan Pilihan

Next Post
Dorong Kerja Ekstra Dongkrak PAD, Ini Kata Plt Gubernur Riau usai Lantik 238 Pejabat Eselon III dan IV

Dorong Kerja Ekstra Dongkrak PAD, Ini Kata Plt Gubernur Riau Usai Lantik 238 Pejabat Eselon III dan IV

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.