BERTUAHPOS — Inovasi dan semangat gotong royong berhasil membuat Kelompok Wirausaha Wanita (Wirani) Rejosari di Kota Dumai, memanfaatkan lahan sempit di pekarangan belakang rumah menjadi kebun hidroponik dan kolam ikan patin serta lele.
Menariknya, hasil panen dari kebun dan budidaya ikan itu bukan untuk meraup keuntungan, tapi menjadi sarana untuk mendukung gizi anak dan Lansia di posyandu sekitar, sekaligus menggerakkan ekonomi kader posyandu dan ibu rumah tangga setempat.
Tanaman pakcoy itu tumbuh subur di atas pipa paralon horizontal. Sepintas, bentuknya seperti tunas-tunas muda yang baru tumbuh. Di bagian bawahnya ada dua bak sebagai kolam ikan. Meski sederhana, hasil panennya cukup membantu program posyandu setempat untuk asupan gizi balita dan Lansia.
Saat ini, sistem hidroponik di kebun ini memiliki 390 lubang tanam yang selalu disesuaikan siklus panennya agar berkelanjutan. Sekitar 70 lubang aktif digunakan untuk tanaman pembesaran dan bibit baru.
Salah satu strategi yang mereka terapkan yakni menyesuaikan jenis sayur dengan musim. Kalau musim hujan mereka tanam pacoy. Ketika kemarau tiba, mereka menanam selada dan pakcoy secara bergantian agar suplai sayur tidak terputus.
Penyesuaian jenis tanaman ini dilakukan agar panen tetap stabil dan pasokan makanan tambahan balita ke posyandu tidak terhenti.
Karena bercocok tanam tanpa tanah, mereka mengandalkan siklus pergantian air yang ditenagai mesin pompa. Kebutuhan listriknya tak lagi mengandalkan energi dari PLN, tapi disuplai dari panel surya.
Saat siang mereka sepenuhnya mengandalkan tenaga matahari, saat malam pakai energi yang tersimpan di baterai. Kalau dua hari mendung, barulah memanfaatkan listrik PLN.
Sebelum mendapat bantuan panel surya, mereka menggunakan listrik PLN dengan biaya sekitar Rp50 ribu per bulan untuk 88 lubang tanam. Kini, sistemnya jauh lebih hemat dan ramah lingkungan. Perawatan panel surya juga sangat mudah, cukup dibersihkan dua kali setahun.

“Setiap bulan hasil panen kami digunakan untuk makanan tambahan balita di posyandu,” kata Ketua Kelompok Wirani Rejosari, Jummi Sulistiani, saat Bertuahpos mengunjungi kebun hidroponik itu, Selasa, 14 Oktober 2025.
Dari hasil panen hidroponik, kelompok ini memperoleh pendapatan sekitar Rp1 juta per bulan. Sebagian hasil panen sayur — sekitar 20–30 kilogram — dijual untuk menambah modal. Keuntungan dari penjualan itu digunakan untuk membuat makanan tambahan, seperti bakso patin.
Selain menyediakan bakso patin, kelompok ini juga mengganti menu sesuai selera anak-anak, seperti sayur, bayam, atau tempe.
Adapun Kelompok Wirani Rejosari didirikan tahun ini (2025), setelah sebelumnya mereka bernaung di bawah Kelompok Sehati — program binaan PT Pertamina Kilang Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) II Dumai — yang terdiri dari 13 posyandu di Kelurahan Jaya Mukti dan Tanjung Palas.
Program pembinaan itu telah selesai pada 2024 lalu, dan dilanjutkan dengan Kelompok Wirani Rejosari. “Sekarang kami bentuk kelompok baru agar kegiatan tetap berlanjut,” jelas Jummi.
Melalui kelompok baru ini, kegiatan tidak hanya fokus pada ibu dan anak, tapi juga mencakup kelompok rentan seperti Lansia. Selain memberi makanan tambahan, mereka juga rutin mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis untuk Lansia di posyandu.

Dalam waktu yang relatif singkat, kelompok ini kini berkembang menjadi unit UMKM produktif, dikelola oleh kader posyandu dan ibu-ibu sekitar. Produk unggulannya berasal dari tepung sorgum, yang dibeli dari kelompok petani binaan Pertamina bernama Alam Tani di Kelurahan Tanjung Palas — kelompok yang mengembangkan sorgum di lahan gambut pertama di Riau.
“Jadi bahan baku sorgumnya kami ambil dari petani binaan sendiri. Sorgum itu kami olah menjadi biskuit, brownies, dan keripik,” kata Community Development Officer (CDO) PT KPI RU II Dumai, Audina Reihan.
Kelompok Wirani Rejosari merupakan kelanjutan (exit group) dari Kelompok Sehati, hasil dari pelatihan; Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) yang kini mencakup seluruh siklus hidup — ibu hamil, balita, hingga Lansia.“Sebagian besar anggota Wirani Rejosari adalah kader aktif yang dulu tergabung di Sehati.

Adapun fokus kegiatan mereka terbagi dua: hidroponik dan UMKM. Hasil panen hidroponik dan budidaya ikan patin digunakan untuk PMT di posyandu, sedangkan hasil UMKM bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi ibu-ibu anggota kelompok. “UMKM ini membantu ibu-ibu keluar dari garis kemiskinan,” ujar Audina.
Produk olahan sorgum seperti biskuit dan keripik pernah diuji coba pada anak-anak stunting yang didampingi kelompok sebelumnya. Hasilnya positif.
Dari 39 anak stunting dan BGM (Bawah Garis Merah), sekitar 15–16 anak sudah kembali normal. Ini menunjukkan makanan berbasis sorgum sangat membantu dan efektif dalam pemulihan gizi anak. Kini, kasus stunting di wilayah itu sudah menurun drastis.
Kata Audina, karena stunting sudah tidak ada lagi di sekitar sini, fokus pendampingan kami kini beralih ke Lansia. Sedangkan untuk pemeriksaan kesehatan Lansia, kelompok ini menyediakan alat cek darah secara mandiri. Mereka beli strip tes darah sendiri. Karena masih terbatas, mereka hanya mampu melakukan pemeriksaan rutin untuk 10 orang Lansia.

Keberhasilan kelompok ini menjadi bukti bahwa ibu-ibu kader posyandu, sebenarnya mampu untuk mandiri secara ekonomi dan berperan aktif dalam menjaga ketahanan pangan keluarga.
Lewat inovasi hidroponik, budidaya ikan, dan produk olahan sorgum, Kelompok Wirani Rejosari menjadi model pemberdayaan perempuan berbasis komunitas yang berkelanjutan di Riau.***









