BERTUAHPOS.COM — Bank Indonesia (BI) menilai ekonomi hijau merupakan salah satu strategi untuk mengatasi defisit pangan Riau di tengah pertumbuhan ekonomi 4,89 persen. Potensi bonus demografi dan sumber daya alam yang melimpah perlu diarahkan pada pembangunan berkelanjutan.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau Panji Achmad, dalam Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Riau Triwulan I 2026 di Aula Lancang Kuning BI pada Selasa, 28 Juli 2026.
Dia menyebut, saat ini ketergantungan Riau pada daerah lain untuk kebutuhan pangan cukup besar. Oleh sebab itu, transformasi menuju ekonomi hijau dapat memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi kerentanan daerah.
“Kita daerah yang kaya tapi defisit pangan. Jadi bergantung pada beberapa daerah lain untuk pangan, dan saat daerah yang menjadi pemasok mengalami permasalahan, kita juga kesusahan, seperti saat terjadi bencana alam di provinsi tetangga,” katanya.
Panji melihat, Riau masih menjadi penopang utama perekonomian di Pulau Sumatera dengan potensi sumber daya alam besar. Sekitar 70 persen penduduk Riau berada pada usia produktif yang menjadi modal penting mendorong pertumbuhan.
“Dengan posisi strategis, 70 persen penduduk kita produktif. Dari sisi inflasi kita dalam rentang yang baik, sedangkan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,89 persen, meski masih melandai dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,9 persen,” jelas Panji.
Selain itu, dia menyebut bahwa transaksi tunai di Riau masih menunjukkan tren kuat dengan jumlah uang keluar dari brankas BI lebih besar dibandingkan uang yang kembali. Meski demikian, transaksi digital melalui QRIS juga mengalami pertumbuhan signifikan.
“Transaksi tunai di Riau masih kuat. QRIS sangat berkembang pesat, namun nilai transaksinya memang tidak sebesar tunai karena batas maksimal QRIS hanya Rp10 juta,” kata Panji.
Ketergantungan pangan dari daerah lain menjadi risiko yang harus segera diatasi melalui pengembangan pertanian berkelanjutan. BI mendorong sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis ekonomi hijau.
“Kita harus segera mengarahkan potensi besar yang kita miliki ke sektor-sektor berkelanjutan. Ekonomi hijau bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga memastikan daerah mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri,” kata Panji.









