Adab berjalan dan berbicara dalam Islam ternyata memiliki tuntunan tersendiri yang sering luput dari perhatian. Dalam kajian Islam, hal-hal yang tampak sepele ini justru menjadi cerminan kualitas akhlak seorang muslim di hadapan Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا قْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَا غْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَ صْوَا تِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ
“Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman 31: Ayat 19).
Ayat tersebut mengajarkan agar setiap muslim berjalan dengan wajar, tidak tergesa-gesa maupun berlagak sombong. Suara pun hendaknya dijaga agar tetap lembut, sebab nada yang meninggi tanpa alasan justru disamakan dengan suara keledai yang dinilai paling buruk.
Perintah untuk bersikap sederhana ini sebenarnya berkaitan erat dengan larangan menyombongkan diri dalam segala aspek kehidupan. Cara berjalan dan bicara yang berlebihan kerap menjadi tanda tersembunyi dari kesombongan yang bersarang di dalam hati.
Peringatan tentang bahaya kesombongan ini juga ditegaskan Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau bersabda:
“Jauhilah sikap sombong, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (HR. Abu Dawud, no. 4089; dinilai shahih oleh Al-Albani)
Hadis ini menegaskan bahwa kesombongan, baik dalam ucapan maupun tingkah laku, termasuk sifat yang sangat dibenci Allah. Seorang muslim dituntut untuk senantiasa merendahkan hati meski memiliki kelebihan dalam berbagai hal.
Kualitas akhlak seseorang bahkan dijadikan tolok ukur kesempurnaan iman dalam ajaran Islam. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi, no. 1162; dinilai hasan shahih)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa akhlak mulia, termasuk cara berjalan dan berbicara yang santun, bukan sekadar etika sosial biasa. Semua itu merupakan bagian dari buah keimanan yang tertanam kuat dalam hati seorang hamba.
Ketenangan dalam bersikap pun dianjurkan Rasulullah ﷺ, termasuk saat berzikir kepada Allah. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ketika kami bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu perjalanan, para sahabat mengeraskan suara dalam berzikir, lalu Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Wahai manusia, tenangkanlah diri kalian! Sesungguhnya kalian tidak menyeru Tuhan yang tuli atau jauh, tetapi kalian menyeru Tuhan yang Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Dekat.'” (HR. Bukhari, no. 2992; Muslim, no. 2704)
Kisah tersebut mengingatkan bahwa kesungguhan ibadah tidak selalu harus ditunjukkan lewat suara yang keras. Menjaga ketenangan dalam berjalan, berbicara, hingga berzikir justru mencerminkan kedekatan hati seorang hamba dengan Allah yang Maha Dekat.









