Catatan Sejarah 17 Februari: Tsunami Raksasa 80 Meter Maluku

Senin, 17 Februari 2020 09:20
Catatan Sejarah 17 Februari: Tsunami Raksasa 80 Meter Maluku

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Tanggal 17 Februari, ada dua gempa dan juga dua tsunami yang disebabkan gempa melanda wilayah Indonesia.

Tanggal 17 Februari 1996, pada pukul 14:59 waktu setempat, gempa dengan kekuatan 8,2 Skala Richter (SR) mengguncang Biak, Papua.

Advertisement

Akibat gempa ini, terjadi tsunami setinggi 7 meter, yang menyapu pesisir Biak. Akibat gempa dan tsunami ini, menurut wikipedia, tercatat 166 orang tewas, 423 luka-luka, dan 5,090 lainnya mengungsi.

Tanggal 17 Februari juga menjadi saksi bisu terjadinya tsunami raksasa yang terjadi di Maluku pada tahun 1674. Sebagai perbandingan, tsunami Aceh yang menewaskan 280 ribu korban jiwa ‘hanya’ setinggi 24 meter.

Baca: Mengapa Kerajaan Melayu di Riau-Kepri Mudah Ditaklukkan Bangsa Barat

Tidak diketahui berapa kekuatan gempa yang menyebabkan tsunami raksasa ini. Namun, menurut catatan salah satu saksi mata, George Everhard Rumphius, ahli botani Jerman, dilansir dari Tirto.id, gempa ini menyebabkan tanah naik turun bagai lautan.

Rumphius, juga mencatat bahwa setelah gempa, gelombang air yang lebih tinggi dari atap rumah dan menyapu desa-desa di Maluku dan kepulauan sekitarnya. Korban jiwa diperkirakan mencapai 2,322 jiwa.

Berikut adalah catatan Rumphius:

“Lonceng-lonceng di Kastel Victoria di Leitimor, Ambon, berdentang sendiri. Orang berjatuhan ketika tanah bergerak naik turun seperti lautan. Begitu gempa mulai menggoyang, seluruh garnisun, kecuali beberapa orang yang terperangkap di atas benteng mundur ke lapangan di bawah benteng, menyangka mereka akan lebih aman. Tetapi sayang sekali, tidak seorangpun menduga air akan naik tiba-tiba ke beranda benteng. Air sedemikian tinggi hingga melampau atap rumah dan menyapu bersih desa. Batuan koral terdampar jauh dari pantai.”

(bpc2)