Maulid Nabi, Pemuda dan Spirit Perubahan

Rabu, 28 Oktober 2020 11:20
Maulid Nabi, Pemuda dan Spirit Perubahan

Oleh: H. Sofyan Siroj Abdul Wabah, Lc, MM*

PEKAN ini ada 2 peristiwa besar yang kita peringati. Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober disusul hari berikutnya 12 Rabi’ul Awal bertepatan dengan 29 Oktober memperingati Maulid Nabi. Dua momen istimewa penuh makna. 

Advertisement

Meski punya konteks berbeda, yang mana sumpah pemuda merefleksikan sejarah perjuangan kemerdekaan membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan, sementara Maulid Nabi hadirnya sosok Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pribadi yang membawa risalah perubahan ke seluruh pelosok dunia, membebaskan manusia dari praktik-praktik yang merendahkan kemuliaan, dan membebaskan dari belenggu kebodohan yang menghantarkan manusia ke jurang kebinasaan, namun kedua peristiwa punya kesamaan. 

Melepaskan manusia dari belenggu penjajahan, perbudakan secara pikiran dan tindakan serta menuju kehidupan yang merdeka sebagai bagian dari fitrah. 

Baca: Ekonomi yang Memanusiakan Manusia

Refleksi tak hanya itu. Sumpah Pemuda merupakan manifestasi kesungguhan niat dan kebulatan tekad para pemuda terhadap tanah air. Ikhlas berkorban bagi kepentingan bangsa dan kemanusiaan. Inilah bentuk kesalehan sosial, muncul bukan seketika tapi ditempa, dipupuk di atas keyakinan kepada Sang Pencipta. Dalam konteks Maulid Nabi, risalah inilah yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Ketauhidan yang berbuah akhlak dan perilaku serta kepedulian akan nilai kebenaran. 

Jadi, seseorang yang memahami Islam secara paripurna harusnya punya kepekaan terhadap lingkungan, bukan abai dan cuek ketika menyaksikan kezaliman, kesewenangan, ketidakadilan dan berbagai bentuk penyimpangan. Tingkatan menyikapinya dalam Islam paling tinggi dengan aksi nyata dengan memberdayakan potensi dan kapasitas yang dimiliki, mengingatkan secara lisan hingga paling lemah berazam untuk tidak mengikuti atau membenarkan perbuatan keliru. Dalam peristiwa Sumpah Pemuda, para pemuda dulu mengambil level tertinggi: menyatakan dalam bentuk tindakan dengan memerangi penjajahan.

Integritas

Kaum muda identik dengan jiwa yang bersemangat dan tubuh yang selalu energik. Di fase ini banyak potensi untuk melakukan perubahan. Masa muda simbol sesuatu yang baru, menantang adrenalin, kreatif dan inovatif serta berpikir kritis. Tak heran dalam sejarah dunia pemuda kerap dicatat sebagai aktor utama dan punya keterlibatan aktif dalam suatu peristiwa penting. Termasuk aktor dibalik Sumpah Pemuda, kemerdekaan Indonesia, era reformasi dan tuntutan diantaranya paling hangat protes UU Omnibus Law beberapa waktu belakangan akibat tidak berpihak kepada kepentingan rakyat, penyusunannya terkesan ugal-ugalan dan tidak transparan serta minim partisipasi unsur masyarakat.

Ada pemeo bahwa idealisme merupakan unsur penting bagi kaum muda. Ini benar tapi tak sepenuhnya tepat. Idealisme bukan faktor tunggal yang perlu ada dalam diri seorang pemuda. Selain itu harus ada integritas. Ketika ini absen maka memunculkan pemuda yang rela menggadaikan akal sehat dan nuraninya. Bukannya buzzer bagi kepentingan bangsa dan rakyat tapi justru buzzer bagi yang bayar dan punya kuasa. Integritas jualah muncul di masa muda Nabi Muhammad SAW. Julukan Al Amin telah tersemat kepada beliau sejak usia 17 tahun. Sifat Al Amin tidak hanya membuat beliau sukses dalam perdagangan tapi juga secara sosial dan politik. Kisah paling fenomenal saat suku-suku berkonflik memutuskan siapa yang pantas meletakkan hajar aswad kembali ke tempat. Saat itu hampir berujung pertumpahan darah. Setelah berunding mereka putuskan menyerahkan ke yang paling dipercaya diantara mereka yaitu Rasulullah. 

Dengan kerendahan hati Rasul membentangkan kain dan memberikan satu sisi kain pada setiap kepala suku, sehingga hajar aswad bisa diletakkan bersama-sama. Integritas juga membuat beliau diakui bahkan oleh pembencinya. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, Al-Masur bin Mukhramah, keponakan Abu Jahal, anak dari saudari perempuannya, bertanya kepada Abu Jahal tentang pribadi Nabi Muhammad SAW. “Wahai pamanku, apakah kalian menuduh Muhammad itu berdusta?” “Wahai anak saudariku, demi Allah! Sungguh ia digelari Al-Amin di tengah-tengah kami. Kami sama sekali tak pernah mencoba menyebutnya pendusta,” kata Abu Jahal. 

Dari kisah di atas, tergambar jelas betapa integritas sangat bernilai dan wajib ditempa di usia muda. Mengapa usia muda? Karena di rentang usia ini manusia merumuskan konsensus dari pergulatan dalam kehidupan: benar atau salah; baik atau buruk. Ketika orang di masa muda terbiasa melakukan hal baik, insya Allah baiklah di masa tuanya, begitu sebaliknya. Makanya rentang usia ini mendapat perhatian besar dalam Islam. Sebagaimana hadist menyebutkan bahwa satu dari lima hal yang kelak di tanya di hari kiamat adalah tentang masa muda untuk apa dihabiskan. Juga dari 7 golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah SWR kelak diantaranya seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah (HR. al-Bukhari). 

Oleh karenanya para pemuda perlu menaruh perhatian penting terhadap usia mereka, karena apa yang ditanam hari ini itulah yang akan dituai esok hari. Terkait integritas satu-satunya cara untuk membentuknya dengan komitmen dan konsistensi. Bukan soal hasil tapi soal proses; bukan semata kuantitas tapi kualitas. Sebagaimana hadits Nabi: “amalan paling dicintai Allah SWT adalah yang berkesinambungan walau sedikit” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tantangan Lebih Berat

Memupuk integritas sejak usia muda akan membentuk pribadi kokoh. Ibarat benteng yang tahan dari berbagai serangan. Apalagi tantangan ke depan sungguh berat. Godaan tak hanya Narkoba, Miras dan pergaulan bebas, tapi juga kompetisi materi tak terkendali berikut kesewenangan, kebohongan dan ketidakadilan yang seolah hal biasa bahkan dipoles agar tampak baik. Di sisi lain diperparah hilangnya keteladanan dari orang yang dituakan dan dihormati serta pemegang amanah. 

Suara kritikan pemuda dianggap miring dan dipojokan dengan berbagai tudingan. Bahkan eksistensi pemuda coba dikebiri. Bagi pemuda sekarang jelas sebuah kegamangan luar biasa. Namun itu bukan akhir segalanya. Optimisme harus tetap ada. Bisa jadi semua untuk mendidik pemuda saat ini lebih dewasa dan melahirkan generasi lebih baik kedepannya. Yang terpenting sekarang mempersiapkan diri secara seksama. 

Diawali niat dan mencari lingkungan yang baik sebagai tempat persemaian karakter dan potensi. Karena memilih lingkungan faktor penting. Sekuat apapun iman dan karakter seseorang jika di lingkungan bobrok boleh jadi akan terkontaminasi. Kita sering dengar cerita diriwayatkan dalam sebuah hadits, tentang seorang pemuda yang membunuh 99 orang lalu sadar dan ingin bertaubat. 

Ketika berjumpa seseorang dia bertanya apa Tuhan akan mengampuninya dan dijawab “tidak!”, dia pun membunuh orang itu. Dengan keinginan bertaubat masih kuat, ia berjumpa orang lain dan kembali bertanya apa dia akan diampuni Tuhan, orang itu menjawab: “iya” karena rahmat-Nya lebih luas dari segala dosa. Sang pemuda pun disuruh ke sebuah kampung dimana di sana berkumpul orang saleh.  Singkat cerita di perjalanan meninggal dunia. Karena jaraknya lebih dekat ke kampung, dia diampuni dan masuk syurga. 

Kisah pemuda tersebut menyiratkan bahwa perjuangannya bertaubat tak cukup modal kesadaran pribadi dan meminta ampun. Untuk menunjukkan komitmennya si pemuda harus mencari lingkungan kondusif.

Dengan idealisme, komitmen dan dukungan lingkungan maka akan lahir pemuda yang diharapkan menjadi motor perubahan yang mampu menciptakan lingkungan yang baik pula. Saya yakin, di tengah beratnya tantangan yang dipaparkan di atas, masa pemuda bangsa untuk bangkit dan melakukan perbaikan tinggal menunggu waktu. Kuncinya bagaimana pemuda sadar akan tanggung jawab perubahan dan berani berkata: inilah saya. Bukan  mengikut arus apalagi yang nyata-nyata membawa ke keburukan. 

Sebagaimana sejarah saat para pemuda dulu bersumpah bertumpah tanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu. Walaupun kemerdekaan tidak langsung terjadi, tapi komitmen telah mereka ucapkan. Seiring waktu mampu mendorong ke arah perubahan. Namun itu tidak bisa diraih jika paradigma para pemuda masih memposisikan diri sebatas agent of change. Pemuda seharusnya menjadi director of change. Umat dan bangsa selalu merindukan para pemuda untuk kembali menyatukan hati dan pikiran untuk kepentingan bangsa menuju kejayaannya.

*Anggota DPRD Provinsi Riau