BERTUAHPOS — Pemerintah mempercepat target swasembada pangan pada tahun 2025, dengan sasaran utama yakni komoditas beras. Upaya itu dilakukan dengan cara meningkatkan luasan area tanam, pengembangan inovasi, pemanfaatan teknologi, hingga menggenjot jumlah produksi.
Bicara swasembada pangan tentu tidak hanya mentok pada tanaman padi. Sejumlah komoditas pangan lain atau pangan pendamping beras tetap punya andil besar demi terwujudnya cita-cita ini (terutama komoditas pangan penyumbang inflasi).
Namun, masalah utamanya bukan itu, melainkan terbatasnya ketersediaan lahan pertanian terutama di kawasan perkotaan, termasuk di Kota Pekanbaru. Padahal, optimalisasi pemanfaatan lahan nganggur cukup efektif sebagai dukungan nyata terhadap target swasembada pangan pemerintah.
Pesatnya pembangunan infrastruktur dan kawasan perumahan menyebabkan lahan pertanian di Kota Bertuah semakin menyusut. Di sisi lain, terbatasnya daya beli masyarakat diperkirakan berdampak besar terhadap luasan lahan nganggur di Kota Bertuah.
Menurut data Pemerintah Kota Pekanbaru, pada tahun 2020 ada sekitar 3,3 ribu hektare lebih lahan nganggur yang belum termanfaatkan dan luasnya diperkirakan terus meningkat. Fakta ini sejatinya bukan tantangan, melainkan solusi efektif dan efisien dalam upaya mewujudkan target swasembada pangan, yakni dengan mengoptimalkan potensi lahan tidur menjadi lahan pertanian.
Seperti yang dilakukan Zul, sapaan akrab Zulkarnaini (37). Ia berhasil memanfaatkan lahan nganggur menjadi kebun timun. Kelihatannya memang kecil, tapi cara ini cukup membuat Zul bangga karena telah berkontribusi terhadap pengendalian inflasi daerah, membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang di sekitarnya, dan menjadi bagian dari secuil asa swasembada pangan komoditas pendukung beras, walau skalanya masih kecil.
Sekitar awal tahun 2025 lalu, Zulkarnaini berinisiatif menyewa lahan nganggur seluas 7.500 meter persegi dari pemiliknya di Jalan Bandes RT05-RW01, Pekanbaru. Dari jumlah itu hanya 3.500 meter persegi yang ditanami timun dengan jumlah 6.000 lubang tanam.
“Ini lahannya kami sewa. Dari 3.500 bibit yang kami tanam, buah timun yang bisa dipanen mencapai sembilan ton. Waktu tanam hingga panen kurang dari tiga bulan,” katanya kepada Bertuahpos, belum lama ini.
Setelah menyewa lahan tersebut, ia melakukan olah tanah setelah membersihkan area yang akan ditanam dari semak belukar. Tanah digemburkan sebelum dibentuk bedeng-bedeng tanam. “Sebelum jadi bedeng, tanahnya dicampur dulu dengan pupuk. Ada tiga jenis pupuk yang saya pakai, yakni pupuk kandang, dolomit, dan Phonska,” ujarnya.
Untuk pupuk kandang, Zul menggunakan kotoran ayam. Sedangkan dolomit ia menggunakan merek DFA (produksi PT Anugerah Dolomit Indonesia) dan Phonska. Ketiga pupuk ini dicampur dengan takaran khusus, diaduk rata dengan media tanam, lalu dibentuklah bedeng-bedeng tanam menggunakan alat berat. “Setelah bedengnya jadi, didiamkan dulu sekitar tujuh hingga 10 hari,” jelas Zul.
Sambil menunggu, ia mulai mempersiapkan bibit. Adapun perlakuan terhadap bibit timun juga tidak sembarangan. Bibit direndam dengan insektisida Bassa 50 EC selama delapan hingga 10 jam. Setelah itu, bibit sudah siap masuk ke lubang tanam.
Setelah tujuh hingga delapan hari, tahap pemupukan pertama dilakukan menggunakan insektisida dan fungisida, tujuannya agar tanaman tidak terserang jamur. Proses pemupukan dapat dilakukan melalui lubang tanam yang sudah disediakan di celah-celah tanaman, paling tidak empat hari sekali.
“Jenis pupuknya ada dua, yakni pupuk kocor dan pupuk daun. Untuk pupuk kocor, saya biasa pakai pupuk kotoran ayam, tambah EM4, terus dicampur sama gula putih ataupun gula merah, kita ekstrak selama tujuh sampai sepuluh hari. Untuk pupuk daun saya pakai MKP,” jelas Zul.
Di lahan sewa ini, Zul menanam timun jenis Bitara. Jenis ini, kata dia, memiliki berbagai keunggulan dibanding varietas timun lainnya. Selain lebih produktif, masa panennya juga singkat dan perawatannya tidak sulit. Selain itu, hasil panen akan lebih optimal jika perawatan dan pemupukan dilakukan dengan takaran yang tepat.
“Dari awal tanam hingga panen pertama waktunya lebih kurang 55 hari atau kurang dari tiga bulan kita sudah bisa panen. Dari tanam 6.000 batang, hasil panennya sekitar sembilan ton bersih,” ujarnya.
Menurut Zul, timun merupakan salah satu komoditas pangan penunjang beras yang paling ekonomis karena siklus masa panennya singkat. “Secara ekonomi sangat cepat perputarannya jika dibandingkan dengan jenis tanaman lain,” tambahnya.
Jika rata-rata harga per kilogramnya Rp3 ribu, maka rata-rata omzetnya mencapai Rp27 juta, sedangkan modal yang dibutuhkan kurang dari setengahnya. Secara manfaat, timun merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura yang cocok untuk mendukung makanan bergizi yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Dia menilai, potensi lahan tidur di Kota Pekanbaru sangat cocok untuk mendukung target swasembada pangan pemerintah, terutama untuk jenis tanaman pendamping beras. Selain timun, ada cabai, terong, dan jagung yang bisa dioptimalkan produksinya dengan memanfaatkan lahan nganggur.
“Kalau lahan nganggur itu bisa dimaksimalkan, Pekanbaru setidaknya tidak lagi bergantung pada provinsi lain untuk ketahanan pangan kita sendiri,” jelasnya. “Apalagi dengan tingginya konsumsi masyarakat saat ini, sektor pertanian bisa menjadi ladang usaha baru untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” tambah Zul.
Selain itu, hadirnya produk berkualitas dari Pupuk Indonesia membuat petani sangat terbantu, terutama dalam hal meningkatkan kualitas dan produktivitas hasil panen. “Perbandingannya jauh sekali. Kalau pakai pupuk, produktivitasnya bisa meningkat hingga 80%,” ungkapnya.
Ia juga mendukung peran aktif Pupuk Indonesia untuk mendorong petani memanfaatkan lahan nganggur demi tercapainya target swasembada pangan. Menurutnya, cara ini merupakan salah satu strategi yang patut dicoba dalam meningkatkan luas lahan dan hasil panen di sektor pertanian ke depannya.
Saat ini, Zul tidak lagi mengelola lahan sewa itu, setelah ia mendapat tawaran untuk mengelola lahan nganggur seluas 10 hektare di kawasan Okura, Pekanbaru. Di lahan ini, Zul memperbanyak jenis tanaman hortikultura dengan sistem yang lebih jelas dan terukur.
Menurut Ketua Petani Milenial (KPM) Riau, Ade Putra Daulay, semangat ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan dorongan, tapi harus ditularkan. Khususnya, dari lingkungan terkecil walau hanya dengan memanfaatkan lahan nganggur, seperti yang dilakukan Zulkarnaini.
Namun, kunci keberhasilannya juga tak bisa lepas dari uluran banyak pihak dalam mengambil perannya masing-masing. Termasuk PT Pupuk Indonesia (Persero) dengan berbagai program unggulannya.
Di Kota Pekanbaru, ada beberapa komoditas yang dianggap sangat sensitif terhadap inflasi. Dari sini bisa ditelaah, komoditas mana yang memungkinkan untuk bisa digarap sendiri oleh warga, terutama varian pangan pendamping beras, seperti cabai, timun, sayur-mayur, dan lain-lain.
“Petani itu jangan ditanya bagaimana cara menanam, mereka sudah mahir. Yang dibutuhkan petani sekarang adalah akses. Bagaimana mereka bisa dapat pupuk bersubsidi? Bagaimana mereka bisa ikut program-program pemberdayaan? Kalau ini bisa dimaksimalkan, petani tidak hanya menjadi garda terdepan dalam swasembada pangan, tapi menjadi indikator puncak keberhasilan pemerintah atas target yang ingin dicapai,” katanya.
Pada prinsipnya, PT Pupuk Indonesia (Persero) terus memberikan dorongan kepada para petani untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan hasil usaha tani lewat Program Makmur. Kualitas pupuk dinilai menjadi faktor utama peningkatan produktivitas pertanian. Pembukaan akses produk pupuk unggulan kepada petani menjadi penting untuk dilakukan.
Dalam sebuah artikel berjudul Program Makmur: Bentuk Peduli Pupuk Indonesia Sejahterakan Petani yang rilis di laman resmi pupuk-indonesia.com (23 Juli 2025), bagi Pupuk Indonesia, petani tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Tanpa mereka, ketersediaan bahan pangan seperti beras, jagung, dan sayuran akan terganggu—yang berimbas pada stabilitas sosial dan ekonomi.
Kendati demikian, perseroan juga menyadari bahwa petani menghadapi berbagai kendala yang menjadi penghambat dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka. Sehingga dibutuhkan solusi tepat agar pertanian nasional dapat berkembang secara berkelanjutan dan mampu menjawab kebutuhan pangan masa depan.
Pola pemupukan tidak presisi, krisis regenerasi, hingga alih fungsi lahan diakui sebagai tantangan besar terhadap pertanian di Indonesia. Menanggapi berbagai tantangan tersebut, Pupuk Indonesia hadir dengan komitmen untuk mendukung petani agar mampu mengatasi hambatan-hambatan tersebut.
Melalui Program Makmur, Pupuk Indonesia berupaya menghadirkan solusi terpadu yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendorong transformasi pertanian menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
Implementasi Program Makmur berjalan dengan pendekatan yang terstruktur dan melibatkan berbagai pihak terkait, mulai dari petani, penyuluh, hingga mitra bisnis. Melalui kolaborasi ini, program tidak hanya fokus pada penyediaan pupuk dan teknologi, tetapi juga pada pembinaan berkelanjutan yang memastikan petani dapat mengoptimalkan potensi lahan dan sumber daya yang ada secara maksimal.
Peran penyuluhan menjadi salah satu pilar utama dalam keberhasilan Program Makmur. Para penyuluh pertanian tidak hanya memberikan pengetahuan teknis mengenai pemupukan presisi dan teknik budidaya modern, tetapi juga mendampingi petani secara langsung di lapangan.
Dengan pendampingan intensif ini, petani mampu mengadopsi praktik-praktik terbaru yang meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lahan. Selain itu, penyuluhan juga berperan dalam membangun kesadaran petani akan pentingnya manajemen usaha tani yang efektif dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Pupuk Indonesia memahami bahwa para petani di berbagai daerah memiliki semangat tinggi dalam mengembangkan sektor pertanian. Namun dalam perjalanannya, masih terdapat tantangan, terutama terkait keterbatasan akses terhadap pupuk berkualitas secara berkelanjutan.
Melalui upaya peningkatan distribusi, edukasi pemupukan berimbang, serta dukungan terhadap program-program pemerintah, Pupuk Indonesia berharap dapat mendorong peningkatan produktivitas hasil tani. Dengan demikian, petani dapat semakin mandiri dan memiliki kemampuan untuk mengakses pupuk komersial yang sesuai kebutuhan lahannya.***









