BERTUAHPOS – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuka perdagangan awal pekan, Senin, 6 April 2026, dengan tren negatif.
Mata uang Garuda terpantau melorot akibat terseret sentimen negatif global yang dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Penguatan indeks dolar yang terus menanjak membuat posisi rupiah kian terdesak hingga mendekati level psikologis baru.
Mengutip data Bloomberg pada pukul 09.06 WIB, rupiah di pasar spot merosot 19 poin atau sekitar 0,11 persen ke posisi Rp16.999 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi beriringan dengan naiknya indeks dolar sebesar 0,23 persen ke level 100,25.
Kondisi ini memperpanjang tren koreksi setelah pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026) pekan lalu, rupiah bertengger di level Rp16.980 per dolar AS.
Analis senior dari MUFG Bank, Lloyd Chan, dalam laporan risetnya menyebutkan bahwa mata uang di kawasan Asia saat ini menghadapi tekanan besar.
Sulitnya menemukan solusi damai antara Washington dan Teheran membuat pelaku pasar cenderung mengalihkan aset mereka ke mata uang safe haven seperti dolar AS.
Ketidakpastian ini diprediksi akan berlangsung selama sinyal de-eskalasi belum muncul ke publik.
“Risiko geopolitik tetap menjadi pendorong utama sentimen pasar,” ujar analis mata uang senior tersebut, merujuk pada meningkatnya ancaman Presiden Trump terhadap Iran.
Lebih lanjut, Chan memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah dapat memicu guncangan pada sektor energi global.
Bagi negara-negara di Asia, kenaikan harga energi tidak hanya mengancam stabilitas inflasi domestik, tetapi juga berisiko memperburuk neraca transaksi berjalan dan menghambat laju pertumbuhan ekonomi kawasan secara keseluruhan.
Tekanan ini tidak hanya dialami oleh rupiah. Chan menambahkan bahwa sejumlah mata uang regional seperti won Korea Selatan, peso Filipina, dan baht Thailand kemungkinan akan tetap ‘rentan’ terhadap fluktuasi dolar.
Data LSEG mengonfirmasi fenomena ini, di mana peso Filipina tercatat menguat 0,5 persen ke level 60,480, sementara won Korea dan baht Thailand juga menunjukkan pergerakan yang fluktuatif di tengah ketidakpastian global.***









