BERTUAHPOS — Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Jumat, 19 Desember 2025, seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan tekanan geopolitik global.
Pada penutupan perdagangan Jumat sore, 19 Desember 2025, rupiah ditutup melemah 27 poin terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di level Rp16.750 per USD. Padahal, pada awal sesi perdagangan rupiah sempat menguat sekitar 5 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.723 per USD.
Pelemahan rupiah terjadi setelah Amerika Serikat merilis data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) inti November 2025 yang mencatat penurunan terendah sejak awal 2021. Data tersebut menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda, namun belum sepenuhnya mengubah sentimen pasar.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai pasar masih bersikap skeptis terhadap peluang pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
“Seiring melandainya inflasi, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed seharusnya meningkat. Namun pelaku pasar masih ragu karena data ketenagakerjaan AS tetap solid,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, dilansir dari Investor.id.
Selain CPI, pelaku pasar juga menantikan rilis Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Core PCE) yang menjadi indikator inflasi utama The Fed, serta Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan yang dijadwalkan rilis dalam waktu dekat.
Dari sisi eksternal, rupiah turut tertekan oleh sentimen geopolitik global. Pasar mencermati sikap Presiden AS Donald Trump terkait konflik Rusia–Ukraina. Trump menyatakan optimisme bahwa pembicaraan damai dengan Rusia mendekati titik terang menjelang pertemuan pejabat kedua negara akhir pekan ini.
Namun, analis memperingatkan bahwa potensi sanksi lanjutan terhadap sektor energi Rusia justru dapat memicu risiko gangguan pasokan minyak global.
“Langkah tambahan yang menargetkan minyak Rusia berpotensi menimbulkan risiko pasokan yang lebih besar bagi pasar global,” jelas Ibrahim.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari meningkatnya ketegangan di kawasan Karibia, khususnya antara Amerika Serikat dan Venezuela. Pemerintahan Trump berencana memperketat blokade terhadap kapal tanker yang terkait sanksi Venezuela.
“Belum jelas bagaimana AS akan menegakkan kebijakan pemblokiran kapal tanker Venezuela, padahal negara tersebut menyumbang sekitar 1 persen pasokan minyak global,” tambahnya.
Kombinasi faktor ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik tersebut membuat pergerakan rupiah masih rentan terhadap tekanan dalam jangka pendek.***









