BERTUAHPOS — Risiko meningkatnya kredit bermasalah kini tengah disorot oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Terutama di kalangan anak muda. Mereka menjadi kelompok paling percaya diri terhadap kemampuan dalam perencanaan keuangan. Namun, Generasi Z (Gen Z) sebenarnya kelompok paling rentan terjerat Pinjaman Daring (Pindar).
Temuan tersebut sejalan dengan survei Jakpat pada paruh kedua 2025 yang melibatkan 2.089 responden, terdiri dari Gen Z (40%), Milenial (39%), dan Generasi X (21%). Riset ini mengulas perilaku penggunaan layanan fintech, mulai dari e-wallet, perbankan digital, Buy Now Pay Later (BNPL/paylater), hingga pinjaman daring, P2P lending, dan crowdfunding.
Hasil survei menunjukkan 93% responden menggunakan e-wallet, disusul pay later 31% dan Pindar berbentuk uang tunai 11%. Selain itu, 44% responden tercatat menggunakan layanan perbankan, dengan 89% di antaranya memakai mobile/internet banking dan 50% memanfaatkan digital banking.
Dalam aspek literasi, 79% responden mengaku percaya diri dengan kemampuan perencanaan keuangan. Gen Z bahkan mencatat skor pemahaman tertinggi, yakni 4,11 dari 5, sedikit di atas Milenial dan Gen X yang sama-sama berada di angka 4,09. Namun, kepercayaan diri ini tidak berbanding lurus dengan praktik keuangan yang sehat.
Head of Research Jakpat, Aska Primardi, dalam keterangan tertulisnya melihat adanya paradoks pada Gen Z. “Gen Z menilai dirinya paling memahami perencanaan keuangan, tetapi justru menjadi segmen paling rentan terjerat pindar ketika menghadapi kondisi keuangan mendesak,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mengacu pada data OJK yang menunjukkan lonjakan 763% year on year (YoY) pada pinjaman perseorangan macet lebih dari 90 hari untuk peminjam usia di bawah 19 tahun per Juni 2025.
Menurut Aska, risiko ini dipicu oleh penggunaan dana pinjaman yang bersifat konsumtif. Riset Jakpat mencatat 56% Gen Z menggunakan pindar untuk pengeluaran harian dan 42% untuk pembayaran tagihan, meskipun 55% menyebut kebutuhan mendesak sebagai alasan utama.
“Anggaran Gen Z sering terserap gaya hidup seperti konser dan gawai terbaru, sementara Milenial dan Gen X cenderung memakai pindar untuk kebutuhan yang benar-benar urgent,” jelasnya.
Faktor kemudahan akses juga memperbesar risiko. Tiga alasan utama penggunaan pindar pada semester II-2025 adalah pencairan cepat (63%), proses pengajuan mudah (61%), dan persyaratan ringan (57%). Kondisi ini kerap menjerumuskan pengguna ke pola gali lubang tutup lubang untuk melunasi utang lama.
Untuk menekan risiko tersebut, Aska menekankan pentingnya edukasi literasi keuangan yang lebih spesifik bagi Gen Z, disertai intervensi restrukturisasi utang. Ia mendorong regulator, institusi keuangan, dan penyedia pindar untuk tidak hanya fokus pada penyaluran dana, tetapi juga pada pencegahan risiko dan kesehatan finansial jangka panjang.
Gen Z pinjaman daring









