BERTUAHPOS – Eskalasi konflik di Timur Tengah mulai mengirimkan gelombang kejut ke pasar finansial Asia. Tekanan hebat pada sektor energi memicu lonjakan posisi short terhadap mayoritas mata uang kawasan, seiring kekhawatiran investor terhadap ancaman inflasi dan defisit neraca berjalan yang kian melebar.
Berdasarkan survei terbaru Reuters pada Senin, 23 Maret 2026, investor kini berbalik bearish terhadap hampir seluruh mata uang utama Asia. Won Korea Selatan dan Dolar Taiwan menjadi korban paling terdampak, dengan lonjakan posisi short ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Guncangan ini dipicu oleh terhambatnya jalur distribusi minyak dan gas di Selat Hormuz yang mendorong harga minyak dunia melesat di atas USD100 per barel. Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi negara-negara importir energi di Asia.
“Konflik kemungkinan tetap tinggi dalam beberapa pekan ke depan dengan harga Brent bertahan tinggi. Kondisi ini membuat mata uang seperti won, rupee, dan peso lebih rentan,” ungkap Jeff Ng, Kepala Strategi Makro Asia di SMBC, dalam analisisnya.
Won Korea Selatan dan Rupiah Dalam Tekanan Hebat
Di pasar spot, Won Korea Selatan mencatatkan sejarah kelam dengan menembus level 1.500 per dolar AS untuk pertama kalinya sejak 2009. Situasi ini memaksa otoritas setempat menghentikan sementara perdagangan saham guna menstabilkan pasar.
Kondisi serupa membayangi Indonesia. Sentimen negatif terhadap Rupiah terus meningkat hingga mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Tekanan bertambah setelah lembaga pemeringkat internasional, Moody’s dan Fitch Ratings, mengubah prospek Indonesia menjadi negatif.
Merespons hal ini, Bank Indonesia (BI) memilih untuk mempertahankan suku bunga di level 4,75% sambil terus aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas). Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa pihaknya tengah menyiapkan amunisi baru untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda.
“Bank sentral akan meluncurkan kebijakan baru terkait transaksi valuta asing guna mendukung rupiah,” tegas Perry Warjiyo.
Thailand Merosot, Malaysia dan Singapura Bertahan
Di Asia Tenggara, Baht Thailand harus rela jatuh ke level terendah sejak Mei 2024 akibat ketergantungan tinggi pada impor energi dan melambatnya sektor pariwisata. Sebaliknya, Ringgit Malaysia dan Dolar Singapura menunjukkan ketahanan yang lebih solid.
Malaysia diuntungkan oleh statusnya sebagai eksportir energi bersih, sementara Singapura didukung oleh kebijakan moneter yang ketat. Yuan China juga terpantau masih cukup tangguh berkat data ekonomi domestik yang solid di tengah badai global.
Kini, pasar terus memantau perkembangan di Selat Hormuz. Jika harga minyak mentah terus merangkak naik, bank-sentral di Asia diprediksi akan menunda pelonggaran kebijakan moneter demi menahan laju inflasi impor yang kian nyata.***(AI)









