• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Jumat, Oktober 23, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Merawat Hafalan, Menggantung Harapan, Perjuangan Putra Minas Taklukkan Industri Migas

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
21 Oktober 2026
Merawat Hafalan, Menggantung Harapan, Perjuangan Putra Minas Taklukkan Industri Migas

Ramadhan Wirandi, seorang Floorman di Rig 58.1 | Foto: Bertuahpos / Melba Ferry Fadly

Share on FacebookShare on Twitter

Ibarat kata, “garis tangan seseorang tak ada yang tahu.” Tapi usaha tak pernah mengkhianati hasil. Seperti perjuangan Randi, seorang penghafal Al-Quran yang bermimpi menjadi perwira Pertamina. Bagaimana putra dari tanah Minas itu menaklukkan industri migas?

BERTUAHPOS.COM — Di bawah terik, di tengah hamparan lahan gersang, di balik deru suara mesin, sebuah rig berdiri kokoh bak menara baja. Struktur besi menjulang itu dipenuhi kabel, pipa, katrol dan berbagai peralatan yang saling bertaut satu sama lain. Pemandangan di sini terlihat rumit sekali.

Dari atas lantai anjungan yang terhubung dengan struktur besi itu, seorang perwira Pertamina bergegas menuruni anak tangga. Seragam khas pekerja migas yang membalut tubuhnya, tak lagi cerah seperti sediakala. Maklum, campuran keringat, debu dan percikan cairan minyak, membuat warna merah, putih dan biru itu memudar. Kehitaman. Helm hijau tua yang menutupi kepalanya, juga mulai buram. Sejurus kemudian, ia buru-buru beranjak ke barak. Lalu, keluar dengan seragam baru.

Perwira itu bernama Ramadhan Wirandi. Usianya 24 tahun. Ia seorang Floorman magang di Rig 58.1 lapangan migas Duri, Wilayah Kerja (WK) Rokan. Tepatnya di DSF 4E-0605C. Di sini, ia bersama rekan-rekannya tengah menyelesaikan pengeboran sumur minyak di bawah payung PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI).

Floorman rig merupakan anggota kru yang bertugas melakukan pengeboran minyak dan gas. Mereka bekerja di garis depan lantai anjungan bor untuk membantu operasional harian. “Seperti itu tugas saya di sini,” kata Randi, sapaan akrabnya, saat berbincang dengan Bertuahpos.com, di area pengeboran kala itu, Selasa, 29 September 2026.

Namun, upaya Randi untuk sampai ke titik ini, tak semudah yang dibayangkan. Ada semangat dan perjuangan yang tak kenal lelah. Ada harapan yang terus dipupuk. Ada impian yang harus direngkuh untuk masa depan. Ada sejumlah perut yang harus diberi makan. Ada “mantra” doa yang terus komat-kamit di atas sajadah—tak pernah putus dari sang ibu dan ayah. Semua itu telah membentuk mental Randi. Membuatnya berani untuk berdiri di kaki sendiri.

Berawal dari Beasiswa Tahfiz Quran

Matanya menerawang. Ia mengenang apa yang terjadi sekitar 6 tahun silam. Saat ia masih remaja SMA, lahir dan tumbuh di lingkungan perusahaan migas terbesar di Indonesia, tepatnya di Minas Jaya, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Kala itu, pikirannya masih berkecamuk. Masa depan seperti apa yang akan dijalaninya kelak. Kadang, ia senyum-senyum sendiri saat membayangkan tubuh kurusnya dibalut APD kebanggaan itu. Seragam merah, putih, biru. Bagaimana rasanya jadi bagian dari setiap tetes minyak yang mengalir di dalam pipa besi itu.

“Sebagai anak tempatan, tentu saya ingin sekali bekerja di Pertamina,” ujarnya seraya mengenang mimpi lama.

Namun, Randi cukup realistis. Ia sadar hidup tak dijalani dalam bayang-bayang angan. Bisa sekolah saja, sudah syukur. Meskipun ia percaya bahwa segala kemungkinan bisa saja terjadi, tapi Randi tak mau larut pada hal-hal yang tak pasti.

Semua berjalan apa adanya. Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku SMA, tahun 2020, ia melanjutkan pendidikan di Universitas Lancang Kuning (Unilak), Jurusan Pendidikan Biologi.

Kebetulan, ada info dari seorang teman tentang program Pesantren Mahasiswa di kampusnya. Program itu diluncurkan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Riau. Ini semacam program beasiswa yang menyasar para tahfiz Quran.

Berkat didikan lama orang tuanya, hafalan beberapa surat masih di luar kepala. Peluang itu pun tak disia-siakan. Lumayan lah, untuk mengurangi beban keluarga. Setelah mendaftar, ia pun lulus seleksi administrasi. Lalu lanjut tes hafalan secara langsung.

“Alhamdulillah, saya berhasil sebagai penerima beasiswa,” ujar anak bungsu dari 5 bersaudara itu. Sejak saat itu, ia mulai menghafal Al-Quran—terutama mengkhatamkan juz 30.

Seiring berjalannya waktu, Randi kian menyadari, bahwa ia tak mungkin bergantung pada orang tuanya. Maklum, sang ayah, Bahasman, tidak punya pekerjaan tetap setelah pensiun dari supir oplet. Sedangkan sang ibu, Fitri Hanum, hanya menjual sarapan pagi di teras rumah.

Kondisi ekonomi keluarga yang kembang-kempis, membuatnya semakin mengerti akan satu hal. Ia harus mampu berdiri sendiri. Bukan berarti menyalahkan keadaan. Hanya saja, ia ingin berbuat lebih untuk keluarga terkasih.

Tapi, hasratnya untuk belajar juga kian tak terbendung. Berbekal kemampuan akademik, Randi mencoba peruntungan lain dengan memanfaatkan program Beasiswa Umum Berprestasi untuk Anak Siak (BETUNAS) dari pemerintah setempat. Syukurnya, beasiswa ini lah yang membuatnya bertahan, hingga pendidikan S1-nya tuntas (2022-2024).

Masalahnya, tekanan demi tekanan realitas kehidupan terus mendera, setelah ia menyandang gelar sarjana pendidikan biologi. Ada satu petuah ibu yang terus terngiang di kepalanya; “bahwa ilmu yang didapat harus bermanfaat bagi orang lain.” Petuah itu mendorongnya untuk mengabdikan diri di Sekolah Alam Indonesia Pekanbaru.

Peluang Putra Daerah untuk Berkarir di Industri Migas

Suatu ketika—tepatnya sekitar 5 bulan setelah ia menjalani profesi sebagai guru—Ketua RT di tempat tinggalnya, meneruskan informasi penting di WA grup warga. Informasi itu berisi pemberitahuan soal kegiatan sosialisasi oleh pihak kecamatan tentang Program Vokasi Migas PHR tahun 2025. Program ini dijalankan lewat Universitas Muhammadiyah Riau.

Salah satu syaratnya, memiliki surat keterangan tidak mampu dan surat domisili. Dari persyaratan yang dibutuhkan, Randi merasa dirinya mampu untuk ikut serta dalam program ini. Entah kenapa, semangat belajarnya bergairah kembali.

“Kebetulan saya warga yang tinggal di Ring 1 wilayah operasi PHR, tepatnya di Kecamatan Minas, kawasan Meranti,” ujarnya.

Sebagai putra daerah, ia yakin bahwa ini lah peluang yang tunggu-tunggu. Peluang yang pernah ia impikan saat di bangku SMA dulu; mengenakan seragam kebanggan merah, putih, biru, sebagai seorang perwira Pertamina.

Rig 58.1 lapangan migas Duri, Wilayah Kerja (WK) Rokan
Ramadhan Wirandi (helm hijau) saat berada di anjungan Rig 58.1 lapangan migas Duri, Wilayah Kerja (WK) Rokan | Foto: Bertuahpos / Melba Ferry Fadly.

Kesempatan itu pun tak disia-siakan. Setelah mendaftar, Randi menjalani berbagai tahapan. Seleksinya sangat ketat. Saingannya kuat. Apalagi rata-rata peserta merupakan putra daerah setempat dari beberapa kecamatan yang masuk dalam wilayah ring 1 PHR.

Tahap awal adalah tes psikologi. Lalu, seleksi tertulis. Jumlah peserta disaring menjadi 50 orang. Kemudian, lanjut tes wawancara. Sebanyak 26 orang yang gagal harus rela pulang. Hanya tersisa 24 peserta untuk mengikuti medical check-up (MCU).

Rasa haru dan bangga kian tak terbendung, saat namanya muncul dalam daftar 24 peserta yang akan dikarantina selama 3 bulan di Indonesia Drilling Training Center (IDTC) di Indramayu, Jawa Barat.

“Setelah proses panjang itu lah, akhirnya saya bisa bekerja di lingkungan rig PDSI,” kata Randi.

Di sini, ia banyak belajar tentang drilling dan pengeboran. “Setidaknya ada 5 hal yang betul-betul melekat di kepala saya,” ujarnya meyakinkan. Kelimanya hal itu menjadi sistem paling utama dalam kegiatan pengeboran sumur migas.

Pertama, hoisting system, yakni sistem yang berkaitan dengan pengangkatan peralatan pengeboran. Kedua, sistem yang menghasilkan putaran untuk proses pengeboran (rotating system).

Lalu, ketiga, power system sebagai penyedia tenaga untuk mengoperasikan berbagai peralatan rig. Keempat, sistem sirkulasi fluida atau lumpur pengeboran (circulating system) dan kelima, sistem pengendalian sumur untuk membantu mencegah terjadinya semburan tidak terkendali (Blowout Preventer (BOP) system).

Pelatihan ini menjadi bekal penting sebelum ia terjun langsung ke lingkungan kerja rig, bersama dengan PDSI.

“Kami banyak belajar selama karantina. Tidak hanya teori, kami juga dibekali ilmu tentang aspek keselamatan, berbagai peralatan di rig, serta cara kerja sistem pengeboran sumur minyak,” jelasnya.

Kini, 5 bulan sudah Randi ikut dalam aktivitas pengeboran sumur di WK Rokan sebagai floorman rig magang. Ia telah menjadi bagian dari Rig 58.1 di bawah naungan PDSI. Kendati demikian, masih banyak yang harus dipelajari, terutama di awal-awal turun ke lokasi sebagai perwira magang.

Secara teori, tentu ia sudah sangat familiar dengan alat dan perkakas yang digunakan untuk ngebor sumur. Namun secara praktik, ia mengakui belum sepenuhnya paham dengan sistem kerja secara keseluruhan. “Saat magang ini lah saya belajar semuanya.”

Pihak perusahaan juga memaklumi posisi Randi di lapangan. Setiap tugas dan tanggung jawabnya tetap dipantau oleh mentor dan mandor. Saat ini, statusnya masih Success Services Employee (SSE) di bawah pendampingan sang mentor, Ali Akbar.

Setelah berbulan-bulan bekerja, ada banyak pengalaman baru yang ia dapatkan. Di sini, Randi belajar bagaimana idealnya proses pengeboran dilakukan, bagaimana rangkaian pipa dicabut dan dipasang kembali, termasuk proses memasang casing, lalu berlanjut hingga ke tahap well completion dan proses test pumping sampai akhirnya minyak dapat keluar dari sumur.

Namun, salah satu hal yang paling berkesan adalah, “saya akhirnya memahami bagaimana minyak bisa keluar dari dalam bumi. Saat itu lah saya sadar betapa kayanya bumi Riau ini.”

Tak hanya itu, ia juga semakin mengerti bahwa pekerjaan di rig punya risiko yang sangat tinggi. Hampir semua pekerjaan di lingkungan rig merupakan critical job, sehingga setiap pekerjaan harus dilakukan dengan memperhatikan prosedur keselamatan.

Bagaimana Program Vokasi Migas Tercetus?

Sejak lama, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) telah mengucurkan program beasiswa untuk putra daerah. Namun entah kenapa, rasanya masih ada sebuah tanggung jawab yang belum selesai.

Atas dasar itu, muncul gagasan untuk menghadirkan sebuah program yang fokus pada penguasaan keahlian terapan atau keterampilan praktis (vokasi). Namanya Program Vokasi Migas PHR. Program ini telah diluncurkan sejak 2024 lalu.

Karena bersifat khusus, biaya yang dikucurkan tentu tidak sedikit. PHR sebagai perusahaan migas, biasanya akan mempertimbangkan asas manfaat lebih luas untuk mengucurkan program CSR mereka.

“Artinya, dengan biaya yang dikeluarkan, cakupan penerima manfaat jadi lebih banyak. Berbeda dengan program vokasi, dananya cukup besar tapi penerima manfaatnya sedikit. Sebab itu program ini benar-benar selektif,” kata Senior Officer Community Involvement Development PHR Zona Rokan, Muhammad Wildan, kepada Bertuahpos, akhir September lalu.

Senior Officer Community Involvement Development PHR Zona Rokan
Senior Officer Community Involvement Development PHR Zona Rokan, Muhammad Wildan

Tahun 2025, PHR melakukan assessment untuk mengetahui bidang pekerjaan apa saja yang dibutuhkan, agar bisa disesuaikan dengan program yang diluncurkan.

Perusahaan kemudian menyurvei dan mewawancarai sejumlah perusahaan rig serta kontraktor untuk memetakan kebutuhan tenaga kerja di industri migas. Dari hasil survei dan wawancara itu, diketahui bahwa perusahaan butuh tenaga kerja yang memiliki sertifikasi keahlian sesuai standar industri.

“Namun, setelah kami evaluasi secara internal, sertifikasi tidak bisa diberikan kepada mereka yang sudah bekerja. Karena itu, kami mengubah fokus program kepada masyarakat yang belum bekerja,” ujar Wildan.

Salah satu yang menjadi konsentrasi program, yakni adanya jaminan manfaat dari penerima. Dengan kata lain, program ini tidak berhenti hanya pada tahap pelatihan, tetapi juga memberikan kesempatan bekerja bagi para pesertanya. Atas dasar itu, PHR sepakat MoU dengan PDSI.

PHR sebagai pelaksana program, bertanggung jawab terhadap biaya pelatihan hingga tuntas. Lalu PDSI menjadi pihak penyedia sarana dan prasarana pelatihan, hingga pendidikan magang. Sistem kolaborasi seperti ini, tidak hanya menghasilkan SDM baru yang mumpuni, tapi jadi lebih efektif dan efisien.

“Setiap tahapannya terukur dan hasil yang ingin dicapai lebih pasti,” jelas Wildan.

Lewat kerja sama ini, perusahaan berharap kebutuhan tenaga kerja di industri migas, khususnya di bidang rig, dapat terpenuhi.

Dalam pelaksanaan program, diprioritaskan masyarakat yang tinggal di ring 1 wilayah operasional PHR—sebagai sasaran pemberdayaan. Meski demikian, perusahaan juga tetap membuka tahap seleksi awal bagi masyarakat umum. Hasilnya, sekitar 30 persen peserta yang mengikuti program ini, juga berasal dari luar ring 1.

“Kami tidak bisa memaksakan seluruh peserta harus berasal dari ring 1 karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti proses seleksi,” tambahnya.

Tahun 2025, total ada 60 peserta yang mengikuti Program Vokasi Migas PHR. Rinciannya, 24 peserta untuk bidang Roughnecker, 12 peserta untuk motorist, dan 24 peserta untuk floorman. Khusus floorman, bidang ini sudah masuk kategori pekerjaan yang membutuhkan keterampilan alias skill khusus.

Peserta wajib mengikuti kursus dengan durasi sekitar 2-3 bulan. Kemudian dilanjutkan dengan program magang. Tahapan ini menjadi penting, sebab peserta tidak serta-merta bisa langsung bekerja di industri migas setelah menyelesaikan pelatihan di IDTC, Indramayu. Mereka tetap butuh pengalaman dan pengenalan terhadap kondisi kerja di lapangan.

“Karena itu, kami berkolaborasi dengan PDSI dan para peserta mendapatkan kesempatan magang di perusahaan ini,” tambah Wildan.

Pada periode tersebut, PDSI juga memiliki proyek pemboran baru bernama IDES, yang menggunakan 4 rig PDSI. Rekrutmen tenaga kerja kemudian banyak dilakukan untuk mendukung kebutuhan proyek tersebut.

Selain dari rig baru, ada juga kebutuhan tenaga kerja dari rig yang sudah beroperasi sebelumnya. Dari total 60 peserta Program Vokasi Migas PHR tahun 2025, sebanyak 51 orang sudah berhasil bekerja di industri migas.

Pada tahap awal pelaksanaan program ini, PHR sempat melakukan Focus Group Discussion (FGD). Saat itu, masih banyak masyarakat belum percaya, dan masih menimbang-nimbang seperti apa dan bagaimana manfaat dari program ini.

Namun, setelah program berjalan dan menunjukkan hasil, kepercayaan masyarakat mulai tumbuh. Sekarang informasi mengenai ini sudah banyak diberitakan dan beredar di media sosial. “Tahun 2027, program ini kembali kami laksanakan,” ujarnya.

Persepsi soal SDM lokal sulit bersaing di industri migas sejatinya terbantahkan dengan hadirnya Randi dan beberapa perwira hasil didikan Program Vokasi Migas PHR yang bekerja di Rig 58.1 lapangan migas Duri WK Rokan (DSF 4E-0605C).

Dengan mengikuti pelatihan dan memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan, masyarakat sekitar dapat mengembangkan keterampilan sekaligus mengisi kebutuhan tenaga kerja di industri pengeboran.

“Mereka cukup cekatan secara kemampuan,” kata Asisten Manajer untuk wilayah HO DSF PDSI, Kristanto Wibowo.

Keterlibatan PDSI di Program Vokasi Migas PHR, merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk berkontribusi dalam pengembangan kualitas SDM Indonesia—khususnya generasi muda di sekitar wilayah operasi industri hulu migas.

Asisten Manajer untuk wilayah HO DSF PDSI, Kristanto Wibowo | Foto: Bertuahpos / Melba Ferry Fadly.

PDSI percaya bahwa SDM adalah sebuah keniscayaan bagi keberlanjutan industri energi. Minyak bisa dieksplorasi. Teknologi bisa diperbaharui. Tapi SDM yang unggul tidak mungkin datang dengan sendiri.

Manager Communication Relation & CID PT Pertamina Drilling Services Indonesia, Meddenia Ayu Wulandari Yuliastuti, menjelaskan bahwa PDSI ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman praktis di industri pengeboran migas, agar peserta mendapatkan gambaran nyata mengenai standar kompetensi dan kebutuhan di dunia kerja. Keinginan itu pun terwujud lewat program Vokasi Migas PHR.

“Bagi kami, program vokasi seperti ini sama dengan investasi sosial jangka panjang untuk memperluas akses generasi muda terhadap peluang kerja dan meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal,” katanya kepada Bertuahpos dalam wawancara tertulis, Rabu, 14 Oktober 2026.

Dia menyebut, program CSR yang berdampak bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat agar mampu berkembang secara mandiri dan mengambil bagian dalam pembangunan industri energi nasional.

Mampukah SDM Lokal Bersaing di Industri Migas?

Menurut Meddenia, kemampuan dan potensi SDM lokal sebenarnya sangat besar. Hanya saja, bagaimana potensi tersebut mendapatkan akses terhadap pendidikan, pelatihan, pengalaman praktik, dan sertifikasi kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri, tentu menjadi tantangan tersendiri.

Dalam praktiknya, industri migas memang mematok standar tinggi. “Terutama kalau kita bicara aspek teknis, kedisiplinan, keselamatan kerja, dan kepatuhan terhadap prosedur,” sambungnya.

Namun, kata dia, hal itu bukanlah sebuah dinding tak tak bisa ditembus. Oleh sebab itu, perlu adanya pembekalan yang tepat, pendampingan yang konsisten, dan kemauan yang kuat untuk terus belajar. Dengan begitu, SDM lokal punya kesempatan yang sama untuk berkembang dan bersaing.

Program Vokasi Migas PHR menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan potensi generasi muda dengan kebutuhan nyata di sektor industri. Lewat program ini, PDSI ingin mendorong perubahan cara pandang.

“Bagi kami, tenaga kerja lokal itu bukan pelengkap. Mereka itu aset strategis yang dapat berkontribusi dalam operasional industri migas,” tegas Meddenia.

Lagi pula, keberhasilan program ini tidak diukur dari selesainya pelatihan, kompetensi yang terus meningkat, kepercayaan diri, etos kerja, dan kesiapan peserta untuk memasuki dunia kerja, turut menjadi indikator penting yang harus diperhatikan.

“Ini menjadi tanggung jawab bersama. Kami berharap semakin banyak talenta lokal yang mampu membuktikan kualitasnya melalui kompetensi dan profesionalisme,” ujarnya.

Apa Tantangan Terbesarnya?

Salah satu tantangan dalam pelatihan vokasi adalah mempertemukan latar belakang pengetahuan dan pengalaman peserta yang beragam. Sementara mereka harus dididik dengan standar kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri migas.

Meddenia menyebut, dunia pengeboran itu punya karakteristik pekerjaan yang sangat spesifik. Prosedur operasionalnya sangat ketat. Budaya keselamatannya harus menjadi prioritas dalam setiap aktivitasnya.

Area rig 58.1 lapangan migas Duri, Wilayah Kerja (WK) Rokan DSF 4E-0605C | Foto: Bertuahpos / Melba Ferry Fadly.
Area rig 58.1 lapangan migas Duri, Wilayah Kerja (WK) Rokan DSF 4E-0605C | Foto: Bertuahpos / Melba Ferry Fadly.

Jadi, peserta tidak cukup hanya paham teori. Mereka perlu membangun kedisiplinan, teliti, mampu untuk bekerja sama, komunikasi, serta sadar bahwa setiap pekerjaan harus dilaksanakan sesuai prosedur keselamatan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pendekatan pelatihan yang dilakukan PDSI dilakukan secara terstruktur; menghubungkan materi pembelajaran dengan kondisi dan kebutuhan nyata di lapangan.

Penguatan pemahaman teknis harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter kerja, pengenalan budaya HSSE (Health, Safety, Security, and Environment), serta pembiasaan terhadap standar operasional industri.

“Kami juga memandang pentingnya kolaborasi antara PHR, PDSI, dan seluruh pihak yang terlibat agar materi pelatihan tetap relevan dengan kebutuhan industri. Dengan pendekatan tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memiliki pola pikir dan sikap kerja yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan dunia profesional,” kata Meddenia.

Atas dasar itu, PDSI berharap agar Program Vokasi Migas PHR dapat terus berlanjut dan berkembang. Program seperti ini, kata Meddenia, dapat menjadi salah satu model pengembangan SDM lokal yang berkelanjutan, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan industri energi nasional.

Ke depan, PDSI ingin semakin banyak generasi muda di sekitar wilayah operasi migas mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kompetensi, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Dia berharap, manfaat program ini tentu tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat berlanjut pada terbukanya peluang karir, meningkatnya kemandirian ekonomi, dan tumbuhnya tenaga kerja lokal yang kompeten.

Meddenia menyebut, PDSI meyakini pengembangan SDM merupakan bagian penting dari upaya mendukung ketahanan energi nasional. Industri migas membutuhkan tenaga kerja yang profesional, adaptif, berorientasi pada keselamatan, dan siap menghadapi perkembangan teknologi.

Kolaborasi antara perusahaan, lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat merupakan kunci untuk membangun ekosistem vokasi yang kuat. Dengan sinergi tersebut, program ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta, tetapi juga menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.

“Kami sangat ingin melihat generasi muda daerah tumbuh menjadi talenta unggul yang mampu berkontribusi bagi industri energi Indonesia. Bukan hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri, tetapi menjadi bagian dari tenaga profesional yang ikut menggerakkan industri dan mendukung masa depan energi nasional,” harapnya.

Merawat Hafalan, Gantungkan Harapan

Sebagai seorang ibu, Fitri Hanum, tak henti-hentinya mengucap syukur atas apa yang sudah dicapai putranya, Ramadhan Wirandi. “Lewat program PHR, akhirnya anak saya bisa bekerja di Migas,” katanya kepada Bertuahpos, 19 Oktober 2026.

“Sepengetahuan kami, tak sembarang orang bisa kerja di migas. Saya tentu bangga dan senang dengan apa yang sudah dicapai Randi,” sambungnya.

Hanum menyadari bahwa anak bungsunya itu tengah mulai menata masa depan. Sebagai orang tua, ia tidak pernah memaksa kehendak. Baginya, Randi berhak atas pilihannya sendiri.

Namun, wejangan demi wejangan tak pernah luput, sebagai bentuk nasehat agar sang anak tak salah langkah. Terutama soal hafalan Al-Quran. “Ya, sering-sering lah ngulang hafalan. Terutama setiap habis salat,” ujar Hanum.

“Harapan saya, ya… semoga dapat membahagiakan orang tua tentunya. Semoga karir Randi di dunia migas ini berjalan lancar dan diberkahi oleh Allah SWT,” tambahnya.

Mimpi Randi sebagai perwira Pertamina baru saja dimulai. Hari-harinya yang kini cukup sibuk di anjungan, tak membuat ia lupa untuk mengulang firman sang Maha Rahman. Ia yakin hafalan Al-Quran telah menjadi juru bimbing atas apa yang selama ini ia impikan.

“Alhamdulillah, sekarang saya sudah hafal juz 30. Pelan-pelan tetap berusaha untuk muraja’ah (mengulang) dan menambah hafalan,” kata Randi.

Dorongan dari diri sendiri untuk tetap menjadi hafiz Quran, juga mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya dan keempat saudaranya. Terlebih, sang Ibu yang sering bertindak sebagai alarm lewat petuahnya, “antara pekerjaan dan hafalan harus selalu seiring sejalan.”

Randi bertekad untuk terus meningkatkan kemampuan dan kompetensinya. Ia sadar posisinya saat ini masih di anak tangga pertama sebagai floorman rig. Suatu hari, jika ada kesempatan, ia ingin naik ke jenjang atau posisi yang lebih tinggi.

Namun, itu bukan target ambisius yang harus dicapai dalam tenggat waktu tertentu. Setiap langkah memang harus diperhitungkan. Tapi, ia juga butuh duduk sejenak untuk menikmati apa yang ada di sekitarnya.

Bagi Randi, sederhana saja. Bagaimana juz 30 tetap lancar dilafalkan. Jumlah hafalan semakin bertambah. Bekerja sebaik mungkin—sebagai bentuk pengabdian untuk negeri.

Kini, ia mulai berani menyusun kerangka masa depan, seperti apa yang telah diimpikan. Pelan-pelan saja. Semua, ada tahapannya. Terlebih, apa yang sudah dicapai, telah berkontribusi besar terhadap ekonomi keluarganya.

Bukan hal yang mustahil pula, jika suatu saat nanti, Randi dan putra daerah lainnya akan dilibatkan dalam kegiatan operasional rig yang lebih besar seperti migas nonkonvensional (MNK).

Terlebih, PDSI kini tengah memperkuat perannya dalam mendukung pengembangan MNK di Indonesia, dengan teknologi dan kapabilitas pengeboran tingkat tinggi sebagai upaya untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Lagi pula, perusahaan itu telah berpengalaman dalam mendukung eksplorasi potensi MNK melalui pengeboran sumur Gulamo DET-1 pada 2023 dan Kelok DET-1 pada 2024 bersama PHR. Kedua sumur yang menjadi bagian dari rekam jejak perusahaan dalam mendukung eksplorasi sumber daya MNK di Indonesia.

“Ini kesempatan saya untuk membangun karir,” ujar Randi, menutup cerita.*

Tags: industri migasLapangan Durimigas riauMinasPDSIPertaminaPertamina DrillingphrRig PDSI
Share10Tweet6Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Pertamina Mengerahkan Sejumlah Upaya Percepat Pemulihan Layanan BBM di Bali
Nasional

Pertamina Patra Niaga Percepat Pemulihan Layanan BBM di Bali, Termasuk Penguatan Pasokan hingga 57,9 Juta Liter

...

Read moreDetails
_Pengeboran eksplorasi Migas Non-Konvensional (MNK) di sumur Gulamo DET-1 di Wilayah Kerja Rokan, Riau menggunakan rig berkapasitas 1500 Horsepower (HP)

MNK Rokan: Tonggak Baru Pionir Pengembangan MNK Indonesia Oleh Pertamina

Soal BUMD, DPR Inisiasi UU Baru dan Dirjen Khusus untuk Pemberdayaan Aset Daerah

Soal BUMD, DPR Inisiasi UU Baru dan Dirjen Khusus untuk Pemberdayaan Aset Daerah

Aktivis Minta PT PHR Buka Informasi soal Bioremediasi untuk Warga Riau

Aktivis Minta PT PHR Buka Informasi soal Bioremediasi untuk Warga Riau

Peran Strategis Alih Daya PDC dalam Menopang Ketahanan Energi Nasional

Harga Baru BBM Khusus Riau per 1 April 2024

Jawaban Pertamina soal Isua Pertalite di Hapus

Next Post
Hidroponik Merawat Gizi Ala Kelompok Wirani Rejosari

Hidroponik Merawat Gizi Ala Kelompok Wirani Rejosari

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.