BERTUAHPOS.COM — Selalu ada cerita di balik aroma kopi. Minuman sejuta umat itu, acap menyimpan kisah-kisah unik di balik rasa pahitnya. Di tengah hiruk-pikuk Kota Pekanbaru, hadir sebuah kafe yang menawarkan lebih dari sekadar rasa. Tapi, menjadi ruang bagi mereka yang tidak sama dengan kita. Tempat bagi setiap orang punya kesempatan untuk belajar dan bekerja. Inilah, Ruang Setara.
Seperti di banyak tempat di Indonesia, Kopi sejak lama telah menjadi bagian dari budaya, dan terus berkembang. Termasuk di Kota Pekanbaru. Di tengah kesibukan kota, tepat di salah satu sudut di Jalan Abdullah Munsyi, Kecamatan Sail, hadir sebuah kisah tentang Ruang Setara.
Kafe ini menyuguhkan sesuatu yang tak biasa, karena setiap pesanan, racikan kopi di balik bartender, hingga suguhan menu makanan dari dapur, berasal dari tangan orang-orang istimewa, penyandang disabilitas teman tuli, atau biasa dikenal dengan istilah Tuna Rungu.
Ruang Setara, rasanya sudah cukup kuat untuk menyampaikan nilai filosofis di balik nama itu. Siapapun, dan dari kalangan mana pun, tetap bisa berinteraksi sambil menikmati secangkir kopi di sini. Konsep kesetaraan yang tidak hanya disemat pada sebuah nama, tapi melekat dalam setiap suasanyanya.
“Sebelumnya SKK Migas dan PHR (PT Pertamina Hulu Rokan) membuat sebuah koperasi. Namanya Melangkah Bersama Disabilitas Mandiri,” kata Pengawas di Kafe Ruang Setara, Lianny Rumondor, pertengahan September 2026 lalu.
Kafe ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Komunitas Penyandang Disabilitas PT Pertamina Hulu Rokan. Tujuannya untuk menghadirkan ruang inklusif, sekaligus membuka akses kerja dan kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas.
Konsep inklusi, langsung diterapkan dengan mengajak para tamu berinteraksi menggunakan bahasa isyarat saat memesan menu di kafe ini. Sebelumnya, ada 195 penyandang disabilitas dilibatkan dalam pelatihan dan kesempatan menjalankan berbagai usaha produktif. Mereka dibekali keterampilan sebagai barista, pelaku usaha kuliner, pengelola layanan laundry sepatu, hingga terapis pijat tuna netra.
Kehadiran Cici, Boy, Reni dan Yulia di Ruang Setara, bukan atas dasar iba atau semacamnya. Mereka direkrut seperti para pencari kerja lain, menyerahkan dokumen kelayakan, hingga melewati tahapan tes wawancara. “Semuanya diperlakukan layaknya profesional,” jelas Supervisor Kafe Ruang Setara, Cici Seprianis.
Namun, yang membuat kafe ini istimewa bukan hanya menu yang disajikan, tetapi pengalaman interaksi yang ditawarkan. Pengunjung bisa berkomunikasi langsung dengan teman tuli yang bekerja di sini.
Berbagai petunjuk dan gambar juga tersedia untuk membantu pengunjung memahami cara berinteraksi, sehingga suasana terasa lebih mudah dan nyaman.
“Pengalaman berkomunikasi dengan mereka akan lebih terasa unik dan menyenangkan,” tambah Lianny.
Yulia, termasuk teman tuli yang aktif menyapa pengunjung. Tak jarang pula, ia menjadi mentor untuk para tamu yang ingin belajar bahasa isyarat secara dadakan.
Ia dengan senang hati mengajarkan bahasa isyarat sederhana yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Mungkin cara ini bisa membuat ia merasa setara dengan para pengunjungnya yang normal dalam berkomunikasi.
Bagi pengunjung, ini merupakan kesempatan untuk membangun interaksi yang lebih dekat dengan teman Tuli. “Awalnya, saya ikut pelatihan barista dulu. Oh, ternyata bikin kopi itu cukup mudah,” ujarnya dengan bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh Lianny.
Dari secangkir kopi, pengunjung tidak hanya mendapatkan rasa dan suasana, tetapi juga pengalaman baru tentang komunikasi, keberagaman, dan ruang yang lebih inklusif.
Menjalin hubungan pekerjaan di ruang dan tempat yang sama seperti ini, memang bukan perkara mudah. Komunikasi menjadi tantangan utamanya.
“Dulu, di masa-masa awal, mis komunikasi sering terjadi antar teman tuli maupun teman dengar. Tak jarang, situasi seperti itu berhulu pada emosi,” jelas Lianny.
Satu-satunya cara yang bisa dilakukan membangun hubungan emosional lewat komunikasi intens.
Kini, suasana kerja mulai berubah. Mereka sudah lebih memahami satu sama lain, bahkan bisa bercanda bersama.
Teman dengar juga ikut belajar bahasa isyarat, sementara teman Tuli terus meningkatkan kemampuan komunikasi dan pemahaman melalui pengalaman serta literasi.
Tahun 2025, jumlah penyandang disabilitas dalam kategori sedang dan berat mencapai lebih dari 54 ribu jiwa. Dari jumlah itu sekitar dari 22 ribu jiwa berstatus sebagai pekerja. Sisanya, lebih dari 32 ribu jiwa belum memiliki pekerjaan.
Ruang Setara merupakan upaya Pertamina Hulu Rokan, untuk mengubah paradigma pemberdayaan penyandang disabilitas, agar tidak hanya memperoleh akses, tetapi juga kesempatan untuk bekerja, berinteraksi, dan hidup mandiri.
Berinteraksi menggunakan bahasa isyarat dalam aktivitas sehari-hari menjadi pengalaman penting untuk membangun rasa empati pengunjung terhadap mereka, para penyandang disabilitas.
Ke depan, Ruang Setara ini tidak hanya menjadi tempat yang jauh lebih besar dari sekadar berjualan kopi. Tempat ini diharapkan dapat menciptakan ruang yang mempertemukan teman Tuli dan teman dengar melalui pengalaman yang sederhana, ngobrol, belajar, berkegiatan, dan saling memahami satu sama lain.
Mereka sadar akan keterbatasan itu, sehingga tak butuh validasi. Mereka mengerti bahwa kekurangan diri bukan untuk diratapi. Tapi di Ruang Setara, keterbatasan itu seolah tertutupi dengan semangat juang yang jauh lebih besar dari apa yang kita kira.*







