BERTUAHPOS.COM — Suara gemericik air dari pipa-pipa hidroponik itu terdengar lembut. Di dalamnya, cairan nutrisi terus mengalir tanpa henti. Ribuan rumpun pakcoy dan selada tumbuh subur di atasnya. Gemuk pelepahnya. Lebar daunnya. Hijau terhampar. Sejuk dipandang.
Sejumlah bak kolam buatan, menghidupi puluhan hingga ratusan ekor ikan lele dan patin di bawahnya. Beberapa keping papan panel surya terpasang di atapnya menjadi sumber energi utama penggerak mesin pompa, dan cukup untuk penerangan seadanya.
Hidroponik ini berdiri di atas sepetak lahan di samping rumah tinggal. Memang, agak sulit dipercaya. Bagaimana bisa greenhouse sekecil itu, mampu berkontribusi besar terhadap kebutuhan gizi kelompok rentan (balita dan lansia) di Kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai.
Semua ini hadir berkat inovasi dan semangat gotong royong dari usaha pemberdayaan perempuan yang dikembangkan Kelompok Wirausaha Wanita (Wirani) Rejosari. Dari pekarangan rumah, para kader posyandu dan ibu rumah tangga mengembangkan kegiatan produktif yang hasilnya digunakan untuk mendukung gizi balita dan lansia sekaligus menambah pendapatan keluarga.
Kelompok ini tidak hanya mengandalkan penjualan hasil panen. Sayuran pakcoy dan selada ditanam secara bergantian, sedangkan ikan patin dan lele dibudidayakan dalam di bawah instalasi hidroponik. Sebagian hasilnya dimanfaatkan untuk menyediakan makanan tambahan bagi penerima layanan posyandu.
“Setiap bulan hasil panen kami digunakan untuk makanan tambahan balita di Posyandu,” kata Ketua Wirani Rejosari, Jummi Sulistiani, Kamis, 8 Oktober 2026. Kelompok ini mengutamakan keberlanjutan kegiatan agar kebutuhan makanan tambahan dapat dipenuhi secara berkala.
Untuk menjaga produktivitas, mereka mengatur jadwal tanam berdasarkan musim. Pakcoy menjadi pilihan utama ketika musim hujan. Sedangkan di musim panas, pakcoy dan selada ditanam bergantian agar ketersediaan sayuran tetap terjaga.
Instalasi hidroponik mereka saat ini memiliki 708 lubang tanam, dengan sekitar 70 lubang aktif digunakan untuk pembesaran tanaman dan pembibitan. Mereka menargetkan penambahan kapasitas menjadi 1.500 lubang tanam pada 2025 dan 15.000 lubang pada tahun berikutnya, disertai rencana memperluas jenis tanaman buah, seperti melon.
Kata Jummi, pengembangan itu juga diarahkan untuk membuka kegiatan wisata edukasi. Kelompok Wirani telah menyiapkan lahan untuk membangun greenhouse agar kapasitas budidaya dapat ditingkatkan.
Inovasi lainnya terlihat pada penggunaan energi surya. Pompa yang mengalirkan air dalam sistem hidroponik menggunakan listrik dari panel surya pada siang hari, kemudian memanfaatkan energi yang disimpan dalam baterai saat malam. Listrik PLN baru digunakan sebagai cadangan. Itupun bila cuaca mendung selama lebih dari 2 hari.
Dulu, kata Jummi, sebelum ada ke panel surya, kebutuhan listrik untuk instalasi dengan 88 lubang tanam saja menghabiskan sekitar Rp50.000 per bulan. “Sangat terbantu dengan panel surya. Perawatannya tak rumit. Paling dilap, dibersihkan. Itu pun jarang sekali,” ujarnya.
Selain menjual sayuran, Kelompok Wirani Rejosari mengolah hasil pertanian dan bahan pangan lokal menjadi produk UMKM.
Dana dari penjualan tersebut kembali dimanfaatkan untuk mendukung operasional dan menyiapkan makanan tambahan, termasuk bakso patin. Menu lainnya disesuaikan dengan kebutuhan dan selera anak-anak, seperti olahan sayuran, bayam, dan tempe.
Kelompok ini juga memproduksi biskuit, brownies, dan keripik berbahan tepung sorgum. Bahan bakunya diperoleh dari Alam Tani—kelompok petani binaan PT Pertamina Patraniaga Refinery Unit Dumai—di Kelurahan Tanjung Palas yang mengembangkan sorgum di lahan gambut.
Community Development Officer PT Pertamina Patraniaga Refinery Unit Dumai, Audina Reihan, mengatakan pemanfaatan sorgum tersebut menghubungkan kegiatan pemberdayaan perempuan dengan usaha pertanian kelompok binaan lainnya.
“Produk olahan itu juga pernah digunakan dalam pendampingan anak-anak dengan kondisi stunting dan BGM (Bawah Garis Merah),” jelasnya.
Menurut Audina, dari 39 anak yang didampingi kelompok sebelumnya, sekitar 15–16 anak dilaporkan kembali ke kondisi normal. Kini, ketika kasus stunting di wilayah pendampingan disebut telah menurun drastis, kegiatan kelompok semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan kelompok rentan lainnya, yakni balita dan lansia.
Perubahan fokus itu sejalan dengan pembentukan Wirani Rejosari pada 2025 sebagai kelanjutan Kelompok Sehati. Kelompok sebelumnya merupakan bagian dari program binaan yang dulunya diampu oleh PT Pertamina Kilang Internasional (KPI) Refinery Unit II Dumai (sebelum menjadi PT Pertamina Patraniaga Refinery Unit Dumai). Ada 13 posyandu di Kelurahan Jaya Mukti dan Tanjung Palas, yang dilibatkan—dengan periode pembinaan berakhir pada 2024 lalu.
Bagi Audina, pengembangan usaha produktif menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok. Hidroponik dan budidaya ikan mendukung kebutuhan gizi, sedangkan pengolahan sorgum membuka peluang pendapatan dari produk pangan lokal.
Salah satu indikator keberhasilan dari program pembinaan seperti Wirani, mereka harus mampu menjadi kelompok yang mandiri dalam kurun waktu 3-4 tahun. Setiap program ada PIC-nya, sehingga proses pemantauan dan evaluasi dapat dilakukan secara berkala, hingga target kemandirian itu terwujud.
“Alhamdulillah, kelompok ini sudah beberapa kali kami ikutsertakan dalam berbagai kegiatan dan ajang penghargaan di tingkat nasional yang diselenggarakan Pertamina. Harapan saya, kelompok ini nantinya juga bisa menularkan keberhasilannya kepada kelompok-kelompok lain,” kata Area Manager Communication, Relations, & CSR Refinery Unit Dumai PT Pertamina Patra Niaga, Tengku Muhammad Rum.
Di kelompok Wirani Rejosari, Refinery Unit Dumai memberikan bantuan cukup beragam. Mulai dari membangun atau penyediaan balai sebagai tempat kegiatan, penyediaan instalasi hidroponik, termasuk panel surya yang kini dipakai untuk menunjang kebutuhan listriknya.
Para anggota yang terlibat di dalamnya, juga aktif diberikan pelatihan yang berkaitan dengan pengolahan produk, diikutsertakan dalam beberapa kegiatan yang diselenggarakan perusahaan, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan ekspor.
Dia menyadari, bahwa masih ada banyak kelompok masyarakat yang masih perlu dibina, Refinery Unit Dumai berusaha melakukan upaya tersebut secara bertahap. Rum menyebut, upaya yang dilakukan juga tidak muluk-muluk. Bahkan, kisah sukses dari local hero, justru muncul dari langkah-langkah kecil.
“Harapan kami, berbagai bantuan dan pelatihan tersebut bisa menjadi bekal bagi kelompok agar mampu mandiri,” ujarnya.*




