DI tengah ancaman perubahan iklim, keterbatasan sumber daya alam, dan kesenjangan pembangunan desa–kota, Indonesia kini dihadapkan pada pilihan penting, yakni membangun dengan pendekatan ekonomi sirkular.
Ekonomi sirkular adalah sistem yang dirancang untuk meminimalkan limbah dan memaksimalkan penggunaan sumber daya dengan menjaga nilai produk, bahan, serta material selama mungkin.
Model pembangunan ini telah berhasil diterapkan di sejumlah negara maju seperti Belanda, Jerman, Jepang, Denmark, dan Finlandia.
Beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Singapura dan Indonesia, juga mulai menunjukkan kemajuan, terutama dalam pengelolaan sampah.
Kepala Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa, dan Konektivitas BRIN, Suci Wulandari, menegaskan ekonomi sirkular bukan lagi konsep akademis, melainkan kebutuhan nyata untuk menjawab tantangan zaman.
“Keberhasilan ekonomi sirkular membutuhkan dukungan teknologi, pendanaan, kelembagaan, hingga infrastruktur. Karena itu, model partisipatif menjadi kunci,” ujarnya.
Pentingnya keterlibatan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas desa, hingga masyarakat luas menjadi sorotan utama agar transformasi menuju ekonomi sirkular berjalan inklusif dan berkelanjutan. Inisiatif produk unggulan desa berbasis sirkular dinilai mampu memperkuat ekonomi lokal sekaligus mengurangi jurang desa–kota.
Dosen Ilmu Lingkungan UNS, Siti Khoiriyah, mencontohkan riset bertajuk “Model Ekonomi Sirkular dalam Pengelolaan Sampah: Pendekatan Berbasis Partisipasi Masyarakat.” Menurutnya, prinsip reuse, remanufacture, recycle, dan recovery harus menjadi budaya bersama.
“Masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton, melainkan pelaku utama. Lewat bank sampah atau komunitas zero waste, warga bisa mengurangi limbah sekaligus memperoleh manfaat ekonomi,” jelasnya.
Program bank sampah terbukti mendorong masyarakat memilah sampah, mengelola secara mandiri, dan menekan volume sampah yang masuk ke TPA. Meski masih menghadapi kendala fasilitas, edukasi, hingga resistensi budaya, Siti optimistis ekonomi sirkular berbasis partisipasi masyarakat adalah solusi berkelanjutan bagi Indonesia.
Dengan dukungan kebijakan yang konsisten serta pemberdayaan masyarakat, potensi besar ekonomi sirkular diyakini bisa diwujudkan untuk menjawab tantangan pembangunan ke depan.***









