BERTUAHPOS.COM — Potensi imbal hasil dividen menjadi salah satu hal yang dapat dicermati investor ketika pasar saham mengalami koreksi.
Berdasarkan data BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), rata-rata dividend yield tertimbang indeks IDX High Dividend 20 berpotensi mencapai 10,3%, dengan enam saham di dalamnya menawarkan yield di atas 10%.
Namun, peluang tersebut tetap perlu dinilai berdasarkan fundamental emiten dan kepastian pembagian dividen.
Analis BRIDS Abida Massi Armand menjelaskan, penurunan harga saham dapat meningkatkan rasio dividen terhadap harga pasar.
Kondisi ini berpotensi menarik bagi investor yang mempertimbangkan pendapatan dividen, terutama jika perusahaan masih memiliki fundamental yang terjaga.
“Ketika harga jatuh, pasti dividend yield itu akan lebih tinggi. Jadi, koreksi ini memicu sebuah potensi atau peluang bagi kyang belum berinvestasi di pasar saham. Salah satunya adalah dividen,” ujar Abida dalam paparan BRIDS.
IDX High Dividend 20 merupakan indeks yang memuat 20 saham dengan karakteristik pembagian dividen menarik.
Sejumlah kriteria yang digunakan mencakup konsistensi pembagian dividen selama tiga tahun berturut-turut, likuiditas perdagangan, tingkat dividend yield, serta free float atau porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan oleh publik.
Komposisi indeks tersebut berasal dari beragam sektor, mulai dari perbankan, komoditas, telekomunikasi, hingga konsumer.
Meski mencakup sejumlah industri, sektor perbankan menyumbang sekitar 50% dari bobot indeks karena beberapa bank memiliki rekam jejak pembagian dividen yang konsisten.
Abida menyebut rata-rata imbal hasil tertimbang indeks tersebut berada di sekitar 10,3%.
Angka itu menggambarkan potensi berdasarkan harga saham dan perhitungan indeks, bukan jaminan bahwa investor akan menerima tingkat pengembalian yang sama setiap tahun.
“Kalau kita rata-ratakan indeks High Dividend 20 ini, terdapat dividend yield tertimbang rata-rata sekitar 10,3%. Jadi, kalau membeli semua saham yang ada di indeks ini, potensi return setiap tahunnya ada di angka 10,3%,” kata Abida.
Data harga saham pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026 menunjukkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) memiliki potensi dividend yield sebesar 12,6%, ketika sahamnya berada di level Rp2.750.
Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menawarkan potensi yield 14,8% dengan harga saham Rp3.660.
Selain kedua bank tersebut, PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) juga memiliki potensi dividend yield sebesar 14,8%.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa penurunan harga saham dapat membuat rasio imbal hasil dividen terlihat lebih tinggi, selama besaran dividen yang dibagikan perusahaan tetap sesuai dengan asumsi perhitungan.
Bagi investor, kondisi tersebut membuka ruang untuk menilai kembali saham berdasarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba, konsistensi pembagian dividen, dan harga pasar saat pembelian.
Prospek pertumbuhan laba emiten pada tahun ini juga menjadi salah satu faktor yang mendorong ekspektasi investor berorientasi fundamental.
“Meski demikian, yield tinggi tidak otomatis berarti saham lebih aman atau pembagian dividen pasti berlangsung,” jelasnya.
Imbal hasil aktual bergantung pada keputusan perusahaan mengenai pembagian dividen dan perubahan harga saham setelah investor melakukan pembelian.
Abida menilai koreksi pasar dapat menjadi kesempatan untuk mencermati perusahaan yang memiliki fundamental solid dan rutin membagikan dividen.
“Semakin turun harganya, semakin menarik dividennya. Jadi, investor bisa mencermati saham-saham yang membagikan dividen rutin setiap tahunnya,” ujarnya.









