BERTUAHPOS.COM — Sebanyak 15 perusahaan perkebunan sawit pemegang konsesi tercatat memiliki jumlah titik panas (hotspot) terbanyak di Indonesia selama periode 1 Januari hingga 31 Agustus 2026, berdasarkan kajian Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi).
Temuan ini menyoroti pentingnya pengawasan aktivitas perkebunan dan pengelolaan lahan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang berulang kali terdeteksi memiliki titik panas.
Dalam laporan berjudul “Kajian Peta Aktor: Siapa di Balik Api?”, Eksekutif Nasional Walhi menelusuri konsesi perusahaan dengan menggunakan data penginderaan jauh.
Hasil pemetaan menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan dalam daftar tersebut berada di Pulau Kalimantan, khususnya Provinsi Kalimantan Barat.
Walhi menggunakan data titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi dari sejumlah sumber, yakni NASA FIRMS, MODIS, VIIRS, dan SiPongi milik Kementerian Kehutanan.
Kajian tersebut menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif serta analisis spasial untuk menelusuri jejak korporasi yang terhubung dengan lokasi terdeteksi panas.
Berdasarkan hasil pemetaan, PT Mekar Karya Kahuripan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menempati urutan pertama dengan 312 titik panas. Posisi berikutnya ditempati PT Sinar Karya Mandiri, yang juga berlokasi di Ketapang, dengan 254 titik panas.
PT Kayung Agro Lestari di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, berada di urutan ketiga dengan 229 titik panas. Sementara itu, PT Arjuna Utama Sawit di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, mencatat 165 titik panas selama periode pengamatan.
Di urutan berikutnya, PT Ragam R. R. di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, memiliki 131 titik panas. PT Sungai Putri Agro Sawit di Kabupaten Ketapang mencatat 126 titik panas, sedangkan PT Kalbar Inti Plantation di Kabupaten Melawi terdeteksi memiliki 116 titik panas.
Daftar tersebut berlanjut dengan PT Benua R. R. di Kubu Raya sebanyak 93 titik panas dan PT Bumi Subur Lestari, juga di Kubu Raya, sebanyak 77 titik panas. PT Panca Surya Agrindo Sejahtera di Kabupaten Pelalawan, Riau, mencatat 73 titik panas selama periode yang sama.
Di luar Kalimantan Barat, Walhi juga memasukkan PT Sumber Mardhika Graha di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, dengan 69 titik panas.
PT Agro Majusejahtera di Ketapang mencatat 61 titik panas, sementara PT Gelora Sawita Makmur di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, terdeteksi memiliki 50 titik panas.
Dua perusahaan lainnya masing-masing mencatat 46 titik panas. Keduanya adalah PT Jalin Vaneo di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, dan PT Globalindo Alam Perkasa di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
Dominasi perusahaan yang berada di Kalimantan Barat memperlihatkan konsentrasi temuan titik panas pada sejumlah wilayah perkebunan di provinsi tersebut.
Ketapang muncul beberapa kali dalam daftar, termasuk melalui PT Mekar Karya Kahuripan, PT Sinar Karya Mandiri, PT Kayung Agro Lestari, PT Sungai Putri Agro Sawit, dan PT Agro Majusejahtera.
Walhi menyusun kajian ini untuk mengidentifikasi perusahaan yang terindikasi memiliki keterkaitan dengan kejadian karhutla serta menelusuri aktor di balik entitas perusahaan tersebut.
Pendekatan analisis spasial digunakan untuk menghubungkan data titik panas dengan lokasi konsesi, sedangkan metode kuantitatif dan kualitatif menjadi bagian dari proses penelusuran.
Meski demikian, jumlah titik panas dalam pemetaan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa perusahaan terkait menjadi penyebab kebakaran.
Data tersebut merupakan indikator yang digunakan dalam kajian Walhi untuk menelusuri lokasi dan keterkaitan korporasi, sehingga penetapan tanggung jawab atas kebakaran memerlukan pembuktian lebih lanjut.
Laporan tersebut menempatkan data penginderaan jauh sebagai dasar untuk memetakan persebaran titik panas pada konsesi perkebunan selama delapan bulan pertama 2026.
Walhi menggunakan hasil pemetaan itu sebagai bagian dari upaya mengidentifikasi perusahaan yang terindikasi bertanggung jawab atas karhutla dan menelusuri aktor yang terhubung di balik entitas tersebut.









