• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Senin, Oktober 5, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Perang Aceh di Mata Belanda: Wabah, Lumpur, dan Parang Pejuang

Romi J. by Romi J.
15 April 2021
240
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – 24 Januari 1874, pasukan Belanda berhasil menguasai Keraton Aceh. Mereka kemudian beranggapan perang akan segera selesai, Aceh sudah ditaklukkan.

Namun, kenyataan berkata sebaliknya. Mulai tahun 1874 hingga tahun 1878, pasukan Belanda menghadapi kesulitan di Aceh.

Dikutip dari buku Nino Oktorino berjudul ‘Perang Terlama Belanda: Kisah Perang Aceh 1873-1913’ (hal. 59-71), pasukan Belanda di Aceh menghadapi tiga momok menakutkan ketika mencoba menaklukkan wilayah Aceh, yakni wabah penyakit, lumpur, dan parang pejuang Aceh yang mampu membelah bahu hingga ke jantung.

Ada tiga jenis wabah penyakit saat perang Aceh, yakni kolera, disentri, dan tifus. Tahun 1874, dari 8.000 pasukan, Belanda kehilangan 1.700 akibat wabah dan pertempuran. Ini masih diluar ribuan lain yang harus diungsikan lebih awal karena terluka atau sakit.

Sementara, tahun 1876, Belanda kehilangan 1.400 prajurit akibat wabah, yang membuat serangan ke kedudukan pejuang Aceh ditunda sembari menunggu bantuan dari Jawa.

Memasuki wilayah pedalaman Aceh juga tidak mudah. Medan yang berlumpur membuat meriam-meriam terperosok. Sementara, gerak laju prajurit terseok-seok.

Belum lagi ketika perang berlangsung, parang para pejuang Aceh menjadi momok. Beberapa prajurit kemudian memakai zirah ala ksatria untuk melindung bahu dan jantung mereka dari parang pejuang Aceh.

Pada tahun 1880, Belanda sudah menghabiskan 160 juta gulden, atau sekitar Rp1,3 triliun untuk Perang Aceh. Mereka juga mengerahkan rata-rata 3.000 pasukan orang Eropa, 5.000 pasukan pribumi, dan 100 orang Afrika. (bpc4)

Tags: BelandaPerang acehperang aceh belandawabah
Share6Tweet4Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Romi J.

Romi J.

Editor: Hendra
Diterbitkan oleh PT Citra Media Bertuah. Kirim informasi di sekitar Anda ke 0852 7260 5868 - redaksi@bertuahpos.com

Berita Terkait

Warga di Riau Diminta Waspadai Penyakit Cacar Monyet, Sudah Ada Temuan Kasus?
Berita Pilihan

Warga di Riau Diminta Waspadai Penyakit Cacar Monyet, Sudah Ada Temuan Kasus?

...

Read moreDetails
Wabah Bakteri Pemakan Daging

Sudah 1.000 Kasus Terinfeksi, Heboh Wabah Bakteri Pemakan Daging STSS di Jepang

wabah flu burung di australia

Filipina Larang Impor Unggas dari Australia Akibat Wabah Flu Burung

Delano Diego Heijden, Pemain Feyenoord yang Bakal Dinaturalisasi

Kutang

Asal Usul Nama Kutang di Indonesia

batubara indonesia, batubara eropa

Kehilangan Gas Rusia, Negara di Eropa Mau Tak Mau Lirik Batubara

Next Post

Jadi Pahlawan Kemenangan City, Foden Dapat Pujian Pep

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.