Perusahaan Pembalut Indonesia Akan Diakuisisi Perusahaan Pampers Amerika

Jumat, 04 September 2020 09:30
Perusahaan Pembalut Indonesia Akan Diakuisisi Perusahaan Pampers Amerika
Ilustrasi

BERTUAHPOS.COM — PT Softex Indonesia, produsen pembalut wanita, akan diakuisisi oleh produsen popok bayi Huggies — Kimberly-Clark Corp — dengan nilai US$1,2 miliar, atau setara dengan Rp17,64 triliun.

Kimberly-Clark Corp sendiri sudah tercatat di New York Stock Exchange dengan kode saham KMB. Akuisisi Kimberly-Clark tersebut akan dibayar secara tunai kepada sejumlah pemegang saham Softex, termasuk CVC Capital Partners Asia Pacific.

Advertisement

Tujuan akuisisi perusagaan pembalut ini guna meningkatkan ekspansi perusahaan di Asia Tenggara, begitu laporan yang ditulis di CNBC Indonesia.

Dalam situs resmi perusahaan itu tercatat bahwa Kimberly-Clark Corp merupakan perusahaan publik dengan fokus pada manufaktur. Pusat utama perusahaan itu berada di Texas, AS. Thomas J Falk yang jadi CEO-nya.

Baca: Banyak Saham Dilepas, IHSG Terpangkas 19 Poin

Beberapa produk perusahaan yakni tisu toilet Cottonelle, tisu wajah Kleenex, serta popok Huggies.

Laporan yang diterbitkan Reuters Kimberly-Clark mengatakan bahwa Softex akan membantu untuk perluasan pasar perusahaan di Indonesia. 

Keputusan ini juga atas pertimbangan meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap popok sekali pakai.

“Pasar popok di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai US$ 1,6 miliar [Rp 24 triliun], terbesar keenam di dunia,” kata Kimberly-Clark, dikutip Reuters, Jumat (4/9).

Adapun sekitar 80% dari penjualan tahunan Softex senilai US$ 420 juta atau Rp6,2 triliun berasal dari popok, sedangkan sisanya dari produk perawatan wanita dan dewasa.

Manajemen Kimberly-Clark menilai, ada lonjakan penjualan di AS seiring dengan tingginya permintaan produk perseroan selama pandemi Covid-19. 

Perseroan juga menegaskan akuisisi tersebut tidak akan berdampak besar pada laba per saham yang disesuaikan pada tahun 2020 dan 2021. “Pembelian (akuisisi) akan dibiayai melalui utang dan uang tunai,” kata manajemen. (bpc2)