Pendapatan Garuda terhempas cuaca buruk

Rabu, 17 April 2013 19:35

Cuaca buruk yang melanda sejumlah kawasan di Indonesia dan sejumlah negara di awal tahun 2013 rupanya ikut menghambat pertumbuhan pendapatan maskapai nasional Garuda Indonesia.

Terbukti, sepanjang kuartal pertama 2013, maskapai pelat merah ini mencatatkan penurunan laba operasi (operating income) secara konsolidasi sebesar 20,7 persen menjadi US$20,1 juta (Rp 195,4 miliar). Penurunan disebabkan oleh menurunnya load factor perseroan terutama bulan Januari karena cuaca buruk.

Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar mengatakan, load factor perseroan turun di sepanjang Januari 2013 menjadi 63,7 persen dari 77,1 persen di 2012. Kondisi cuaca yang buruk pada Januari 2013 memberikan pengaruh terhadap load factor perseroan. Namun demikian, load factor di dua bulan berikutnya mengalami peningkatan, yaitu di atas 78 persen.

“Load factor Januari turun cukup signifikan, perbedaannya tahun lalu hampir 14 persen. Januari itu udara tidak bersahabat, Jakarta banjir itu sangat mempengaruhi. Orang mengcancel flight, menunda keberangkatan,” kata Emir di Jakarta, Selasa (30/4/2013).

Baca: Pemko Pekanbaru Berminat Beli Kebun Sayur Warga

Dia meyakini, operating loss sebesar US$20,1 juta ini hanya disebabkan oleh faktor keterisian tersebut. Dari hitungan Emir, jika load factor Januari 2013 sama dengan Januari 2012 makan operating loss tidak akan sebesar ini.

Selain akibat keterisian, penurunan juga disebabkan oleh investasi besar-besaran yang dilakukan di anak usahanya, Citilink. Saat ini anak usaha yang bergerak di pesawat kelas murah tersebut memberikan kontribusi kerugian sekitar US$15 juta di sepanjang Januari. Kerugian tersebut berasal dari kerugian load factor.

Namun demikian, per akhir Maret, Garuda membukukan pertumbuhan pendapatan operasional sebesar 12,5 persen menjadi US$807,2 juta. Sedangkan pendapatan penumpang mengalami pertumbuhan 13,3 persen menjadi US$677,4 juta.

Angkutan penumpang perseroan tumbuh 20,7 persen (secara 3 bulanan) menjadi 5,6 juta penumpang. Sedangkan angkutan kargo tumbuh 24 persen menjadi 81.334 ton.