• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Senin, November 2, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Insentif Migas Dinilai Kurang Menarik, Investor Asing Mundur dari Proyek Kilang Indonesia

Pembangunan kilang tidak bisa hanya mengandalkan Pertamina. Perusahaan pelat merah itu sudah menanggung banyak investasi dari sektor hulu hingga hilir.

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
13 Oktober 2025
Insentif Migas Dinilai Kurang Menarik

Fasilitas CEOR di Blok Rokan dalam tahap pengembangan untuk meningkatkan produksi migas | Foto: Bertuahpos / Melba Ferry Fadly.

Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS — Pakar industri migas menilai insentif yang diberikan pemerintah terhadap perusahaan minyak dan gas bumi (migas) — yang ingin berinvestasi di proyek kilang di Indonesia masih belum cukup menarik.

Kondisi ini disebut menjadi penyebab lambatnya pembangunan kilang baru dan ekspansi kilang eksisting di dalam negeri.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, Senin, 13 September 2025, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menjelaskan bahwa pembangunan kilang membutuhkan investasi besar, namun tingkat pengembalian (return) relatif kecil.

Selain itu, industri hilir migas di Indonesia masih diatur pemerintah sehingga harga produk kilang tidak bisa sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar.

“Karena itu, biasanya perusahaan seperti Pertamina akan membentuk joint venture atau kerja sama lain untuk menekan biaya modal,” ujar Komaidi.

Namun, menurut Komaidi, calon mitra kerap meminta kompensasi dalam bentuk insentif pajak agar proyek lebih ekonomis.

Sayangnya, perbedaan pandangan antara pelaku usaha dan pemerintah membuat kesepakatan sulit tercapai.

“Yang rasional secara bisnis belum tentu diterima pemerintah dari sisi penerimaan negara,” jelasnya.

Ia menambahkan, insentif yang ditawarkan pemerintah sering kali lebih rendah dari harapan investor.

Pemerintah juga khawatir pemberian insentif tinggi akan mengurangi penerimaan negara.

Akibatnya, sejumlah calon investor asing seperti Saudi Aramco, Kuwait Petroleum, dan Iran akhirnya mundur dari proyek kilang di Indonesia.

Komaidi menegaskan bahwa pembangunan kilang tidak bisa hanya mengandalkan Pertamina. Perusahaan pelat merah itu sudah menanggung banyak investasi dari sektor hulu hingga hilir.

“Kalau Pertamina berdiri sendiri, sulit. Kalau pemerintah tidak mau kasih insentif, ya harus siapkan dana dari APBN,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti lambannya investasi kilang baru Pertamina.

Dia menilai sejak krisis 1998 belum ada pembangunan kilang baru, yang membuat impor BBM terus meningkat setiap tahun.

“Pertamina belum bangun kilang baru, padahal impor BBM dari Singapura makin tinggi,” ujarnya dalam rapat dengan Komisi XI DPR RI, Selasa, 30 September 2025).

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menanggapi kritik tersebut dengan menyebutnya sebagai masukan berharga. 

Dia memastikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan akan beroperasi pada November 2025.

Proyek ini diharapkan meningkatkan kapasitas distilasi minyak dari 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari, sehingga total kapasitas nasional naik menjadi 1,26 juta barel per hari pada akhir tahun.

Saat ini, anak usaha Pertamina, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), mengelola enam kilang utama: Dumai, Plaju, Cilacap, Balikpapan, Balongan, dan Kasim. Total kapasitas pengolahannya mencapai sekitar 1 juta barel per hari.***

Tags: bisnisenergiindustri
Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Jepang Siapkan Pengurangan Subsidi Bensin Mulai Desember 2026, Apa yang Terjadi?
Ekonomi

Jepang Siapkan Pengurangan Subsidi Bensin Mulai Desember 2026, Apa yang Terjadi?

...

Read moreDetails
Proses produksi oleh-oleh khas Riau keripik kulit ikan patin Melayu Crackers (Malakers) | Foto: Bertuahpos / Melba.

Kisah di Balik Kriuknya Melayu Crackers, Kulit Ikan Patin Berstranformasi Menjadi Oleh oleh Premium

Garuda Indonesia-Pelita Air Masih Bahas Rencana Konsolidasi

Garuda Indonesia-Pelita Air Masih Bahas Rencana Konsolidasi

Proyek Mangkrak PLTU Koto Ringin di Siak Diusulkan Jadi Pembangkit Hijau

Proyek Mangkrak PLTU Koto Ringin di Siak Diusulkan Jadi Pembangkit Hijau

Danantara Gabung KSSK untuk Perkuat Investasi, Fokus ke Pertumbuhan Ekonomi

Danantara Gabung KSSK untuk Perkuat Investasi, Fokus ke Pertumbuhan Ekonomi

Pemprov Riau Dorong ASN Kelola Usaha Budidaya Ayam Petelur Skala Kecil

Pemprov Riau Dorong ASN Kelola Usaha Budidaya Ayam Petelur Skala Kecil

Next Post
UHC Riau 99% Setelah Kuota Ditambah

UHC Riau 99% Setelah Kuota Ditambah

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.