• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Sabtu, Oktober 3, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Kisah di Balik Kriuknya Melayu Crackers, Kulit Ikan Patin Berstranformasi Menjadi Oleh oleh Premium

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
12 Agustus 2026
Proses produksi oleh-oleh khas Riau keripik kulit ikan patin Melayu Crackers (Malakers) | Foto: Bertuahpos / Melba.

Proses produksi oleh-oleh khas Riau keripik kulit ikan patin Melayu Crackers (Malakers) | Foto: Bertuahpos / Melba.

208
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM — Mungkin Anda pernah bertanya, bagaimana bisa kulit ikan patin diolah menjadi keripik yang gurih? Padahal dulu, ia hanya hanya sesuatu yang dianggap tidak bernilai. Berlemak, amis. Tidak ada juga yang mau repot-repot mengolahnya, apalagi untuk dijual kembali. Namun, semua itu menjadi berbeda di tangan Founder Melayu Crackers Indonesia, Yulia Desli, S.Si, M.Si, yang biasa akrab disapa Una Uci.

Lantas, bagaimana kulit ikan bisa menjadi sesuatu yang menjanjikan cuan? Apa rahasia di balik oleh oleh khas Riau itu? Dan bagaimana popularitasnya bisa bertahan di tengah ketatnya persaingan bisnis oleh oleh di Kota Bertuah?

Pada Sabtu, 8 Agustus 2026, Bertuahpos berkunjung ke rumah produksi fish skin Melayu Crackers (Malakers) itu, di Jalan Serasi, Gang Serasi II Nomor 16, Pekanbaru, Riau. Saat pintu kaca dibuka, satusan kemasan keripik olahan dari kulit ikan patin itu tertata rapi. Ruang depan dari bangunan ini terlihat seperti gerai oleh-oleh kecil.

Ditemani Una Ici, kami diajak berkeliling bangunan itu. Bagian pertama, kami mengunjungi tempat drop bahan baku. Di sini, terlihat banyak kotak-kotak freezer untuk penyimpanan kulit ikan patin, setelah diterima dari suplier. Lalu, beranjak ke bagian belakang yang menjadi tempat progolahan produk.

Di sini, kulit ikan patin yang sudah dibersihkan, di marinasi dengan racikan sendiri, di goreng dengan suhu tertentu. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini sebelum diajak ke ruang pengemasan.

Di ruangan ini, para pekerja terlihat lebih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Mereka menggunakan celemek, sarung tangan, penutup kepala hingga masker mulut yang tertutup rapat. Obrolan hanya terjadi sekedarnya saja. Lagi pula suara berisik dari minyak panas hampir tak ada jeda selama proses produksi. Salah satu pekerjaan yang tidak boleh dilewatkan, yakni memisahkan kulit-kulit yang masih menempel usai digoreng.

Setelah puas berkeliling, Una Ici kemudian mengajak kami melihat-lihat ruang pengemasan. Persis di sebelah ruang penggorengan itu. Di sini kulit ikan patin yang sudah menjadi keripik, dikemas ke dalam packing premium zipper sesuai dengan rasanya. Malakers menyediakan tiga jenis rasa unggulan mereka, yakni; rasa balado dalam kemasan merah, barbekyu di kemasan hijau, dan original pada kemasan kuning. Warna-warna ini dipilih bukan asal sedap dipandang mata. Secara filosofi, ketiganya merepresentasikan warna ciri khas Melayu Riau.

Para karyawan tampak sibuk dengan keripik kulit ikan di dalam baskom alumunium di atas meja besar itu. Sejumput demi sejumput di masukkan ke dalam kemasan, ditimbang, lalu direkat dengan alat khusus. Produk akhir ini lah yang nantinya akan dikirim ke gerai oleh-oleh, dan di pajang di rak ruang depan tadi.

Kulit Ikan Patin Berstranformasi Menjadi Oleh-oleh Premium
Rumah produksi oleh-oleh khas Riau keripik kulit ikan patin Melayu Crackers di Jalan Serasi, Gang Serasi II, Pekanbaru | Foto: Dok Melayu Crackers.

Kami kemudian beranjak ke ruangan lainnya yang difungsikan sebagai kantor dan keperluan administrasi, sebelum kembali ke ruangan utama untuk mendengarkan kisah Una Ici merintis usaha dari awal hingga kini.

***

Semua itu bermula pada tahun 2018 silam. Sang suami yang merupakan praktisi di sektor perikanan mendapat tawaran fish skin atau kulit ikan patin dari para koleganya. “Awalnya bingung juga mau dibuat apa,” ujar wanita yang akrab disapa Una Ici itu kepada Bertuahpos, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Meski demikian, Una Ici melihat ada potensi ekonomi yang besar dari bahan baku itu. Mulailah mereka melakukan riset untuk mendalami bagaimana cara mengolah kulit ikan patin menjadi produk yang bernilai, hingga lahirnya Fish Skin Melayu Crackers (Malakers). Uji coba dilakukan berkali-kali hingga akhirnya menemukan formula yang menghasilkan tekstur garing dan rasa yang gurih tanpa amis.

“Lama banget, Setahunan gitu ada kali, uji cobanya untuk menemukan resepnya. Kalah-kalah ini bikin tesis. Karena kami harus buka jurnal kulit ikan patin itu bagaimana bentukannya, cocoknya dengan bumbu apa,” katanya.

Nama Melayu Crackers dipilih untuk merepresentasikan identitas budaya Riau. Kemasan didesain dengan warna khas Melayu yaitu kuning, merah, dan hijau lengkap dengan ikon ikan bertanjak.

Produk ini unik karena menggunakan bahan baku yang sebelumnya dianggap tidak bernilai ekonomi. Bahan baku kulit ikan patin diperoleh dari para pengusaha fillet di Kampar dan Pekanbaru. Kerja sama ini saling menguntungkan karena pengusaha fillet hanya membutuhkan daging ikan, sementara Melayu Crackers menampung kulitnya.

“Bayangkan, kalau kita punya ikan patin 1 ton, maksimal jadi kulit itu cuma 5 persen (50 kg). Itu kulit yang masih ada lemaknya, kalau kita bersihkan, hasilnya paling maksimal 60 atau 50 persen. Itu semakin susut setelah menjadi keripik siap jual,” jelas Una Ici.

Fish Skin Malakers diproduksi dengan kontrol kualitas yang ketat. Kulit ikan patin yang di terima dari suplier harus di suhu beku 18 derajat Celsius. Standarnya memang seperti itu. Bahan baku ini kemudian dibersihkan dengan air mengalir untuk proses pembuangan lemak, lalu dimarinasi dengan racikan bumbu segar yang diolah sendiri.

Kisah di Balik Kriuknya Melayu Crackers, Kulit Ikan Patin Berstranformasi Menjadi Oleh-oleh Premium
Founder Melayu Crackers Indonesia, Yulia Delsi atau Una Ici | Foto: Bertuahpos / Melba.

Sementara proses penggorengan juga dilakukan dengan standar yang ketat, menggunakan thermogun untuk memastikan suhu minyak tepat. Waktu penggorengan juga diukur dengan stopwatch, bukan sekadar perkiraan visual yang biasa dilihat dari warna kulit di penggorengan.

“Kalau dulu mungkin untuk panas minyaknya masih kira-kira. Kalau ini nggak bisa gitu. Sudah ada standar suhunya,” ujarnya.

Menurut Una Ici, standar operasional prosedur yang ketat itu justru sangat membantu dirinya agar terhindar dari kegagalan produksi. Bahkan, semua alat ukur termasuk timbangan dan thermometer wajib dikalibrasi secara berkala.

Rumah produksi Melayu Crackers kini memiliki kapasitas produksi hingga 700 kemasan per hari. Jumlah tersebut masih bisa ditingkatkan dengan penambahan sumber daya manusia.

Keunggulan utama keripik kulit ikan patin Malakers tentu saja pada kandungan gizinya yang didominasi protein mencapai 15 persen dan 0 persen karbohidrat, sehingga cocok dijadikan sebagai camilan alternatif yang rendah karbohidrat.

Hal ini tentu saja berbeda dengan cemilan pada umumnya yang tinggi karbohidrat karena bahan bakunya cenderung dicamur tepung. “Saja juga tidak bilang ini camilan sehat, tapi cemilan tinggi protein rendah karbohidrat,” kata Una Ici.

Dari sisi perizinan, Melayu Crackers telah mengantongi SNI dan HACCP. Kelengkapan legalitas ini menjadi bukti bahwa seluruh proses produksi sudah terstandarisasi secara nasional.

Una Ici menyebut, bahwa Malakers sejak awal telah dirancang sebagai oleh-oleh khas Riau yang modern, namun tetap praktis dibawa dalam perjalanan. Kemasan dilengkapi zipper, sehingga bisa ditutup kembali jika keripik belum habis dikonsumsi.

Kisah di Balik Kriuknya Melayu Crackers, Kulit Ikan Patin Berstranformasi Menjadi Oleh-oleh Premium
Oleh-oleh khas Riau keripik kulit ikan patin Melayu Crackers (Malakers) | Foto: Bertuahpos / Melba.

Untuk harga produk mulai dari Rp26 ribu hingga hingga Rp41 ribu per kemasan. Tersedia juga paket oleh-oleh ekonomis berupa enam kemasan isi 100 gram seharga Rp220 ribu sudah termasuk dus eksklusif.

Untuk kebutuhan oleh-oleh dalam jumlah banyak, tersedia kemasan kecil isi 10 buah seharga Rp250.000, juga sudah free dus. Kemasan kecil ini cocok bagi pelancong yang ingin membawa banyak buah tangan dengan keterbatasan bagasi. “Selain dari kemasan, untuk oleh-oleh juga kita packing seaman mungkin sehingga nggak bakalan rusak,” jelas Una Ici.

Pasar terbesar Melayu Crackers saat ini masih didominasi penjualan offline. Konsumen dapat langsung membeli di rumah produksi atau melalui berbagai pameran UMKM yang diikuti secara rutin. Selain itu, Malakers juga sudah tersedia di banyak gerai oleh-oleh di Pekanbaru. Bahkan di toko oleh-oleh Viera di Jalan Melati, Panam, Malakers menjadi salah satu produk yang disandingkan dengan talam durian.

Una Ici berharap produknya bisa semakin dikenal luas sebagai oleh-oleh khas Riau. Ia ingin setiap orang yang berkunjung ke Pekanbaru memiliki cerita yang bisa dibawa pulang dalam bentuk keripik kulit patin.

Selama ini, ikan patin memang sangat identik dengan kuliner khas Riau selain baung dan tapah. Namun, olahannya masih sebatas kuliner siap saji untuk makan berat, menjadi menu istimewa di banyak jamuan. Namun, faktanya para pelancoh hanya bisa membawa cerita saat mereka meninggalkan Riau.

“Mereka makan ikan patin di restoran khas Melayu dan hanya mendapat pengalaman sebatas itu. Tapi kalau untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh, bisanya cuma bawa ceritanya aja. Kami mencoba supaya cerita itu bisa dibawa pulang dengan keripik kulit ikan patin Melayu Crackers,” kata Una Ici menutup ceritanya.

Tags: bisnisekonomioleh olehriau
Share5Tweet3Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Plt Gubernur Riau Minta ASN Bekerja Ekstra Tahun Ini “Jangan Ada yang Santai"
Regional

Riau Perluas Basis Penerimaan demi Optimalkan Pendapatan Daerah

...

Read moreDetails
Kualitas Udara Pekanbaru Tidak Sehat, AQI 179 Pagi Ini

Kualitas Udara Pekanbaru Tidak Sehat, AQI 179 Pagi Ini

Alquran Berornamen Tionghoa Simbol Pengikat Silaturrahmi PSMTI dan LAM Riau

Alquran Berornamen Tionghoa Simbol Pengikat Silaturrahmi PSMTI dan LAM Riau

Data Luasan Lahan Terbakar di Pekanbaru 2026

Data Luasan Lahan Terbakar di Pekanbaru 2026

Kronologi Kematian Gajah Sumatra Diego di PLG Minas

Kronologi Kematian Gajah Sumatra Diego di PLG Minas

Pemprov Riau Terapkan WFA ASN untuk Urai Macet Mudik, Pelayanan Publik Dipastikan Tetap Jalan

BPJPH Dorong Penguatan Ekonomi Syariah Riau lewat Kawasan Industri Halal

Next Post
Yamaha New R15 Connected Meluncur dengan Grafis Anyar, Dibekali Teknologi VVA dan Y-Connect 

Yamaha New R15 Connected Meluncur dengan Grafis Anyar, Dibekali Teknologi VVA dan Y-Connect 

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.