BERTUAHPOS.COM — Garuda Indonesia mengonfirmasi rencana konsolidasi dengan Pelita Air Service masih dalam tahap kajian dan pembahasan bersama pemegang saham. Maskapai pelat merah ini memastikan belum ada keputusan final mengenai bentuk maupun mekanisme penggabungan dua entitas penerbangan nasional tersebut.
Corporate Secretary Group Head Garuda Indonesia Andreas Tumpal H. Hutapea menyatakan, bahwa kajian dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai aspek strategis. Proses ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem penerbangan nasional sekaligus mendukung keberlanjutan transformasi perseroan.
“Rencana konsolidasi yang melibatkan Garuda Indonesia Group dan Pelita Air saat ini masih berada dalam tahap kajian dan pembahasan pada tingkat pemegang saham dan bersama para pihak terkait, sesuai dengan kewenangan masing-masing,” ujar Andreas, dikutip dari Bisnis.com, Senin, 10 Agustus 2026.
Kajian konsolidasi ini berlangsung di tengah upaya perseroan menghadapi volatilitas harga bahan bakar dan dinamika geopolitik global. Garuda Indonesia menyiapkan sejumlah strategi mitigasi untuk menekan biaya operasional yang berpotensi meningkat akibat faktor eksternal tersebut.
Perseroan mengoptimalkan jaringan dan kapasitas berdasarkan profitabilitas rute serta meningkatkan utilisasi dan produktivitas armada. Program efisiensi konsumsi bahan bakar dan pengendalian biaya operasional juga terus diperkuat secara berkelanjutan.
“Ke depan, fokus perseroan adalah mendorong agar perbaikan kinerja operasional dapat secara bertahap terkonversi menjadi perbaikan bottom line melalui peningkatan pendapatan, optimalisasi jaringan, peningkatan produktivitas armada, efisiensi biaya, serta penguatan disiplin finansial,” kata Andreas.
Garuda Indonesia mencatat perbedaan antara EBITDA yang telah positif dengan posisi laba bersih yang masih mencatatkan kerugian. Beban depresiasi dan amortisasi yang bersifat nonkas serta beban keuangan terkait kewajiban sewa menjadi penyebab utama selisih tersebut.
Dari sisi tarif, perseroan mengacu pada ketentuan pemerintah termasuk Tarif Batas Atas dan mekanisme fuel surcharge. Kebijakan harga tiket domestik tetap mempertimbangkan keberlanjutan kinerja usaha di tengah kondisi pasar yang kompetitif.
“Perseroan senantiasa menjaga keterjangkauan tarif bagi masyarakat dengan tetap memperhatikan keberlanjutan kinerja usaha, serta mempertimbangkan kondisi pasar, permintaan, dan tingkat kompetisi,” ujar Andreas.
Garuda Indonesia juga mengoptimalkan kapasitas kursi yang belum terserap melalui strategi dynamic pricing dan revenue management. Program pemasaran seperti Garuda Indonesia Travel Fair dan Garuda Online Travel Fair menjadi andalan untuk meningkatkan keterisian penumpang.
Perseroan menargetkan peningkatan Seat Load Factor berjalan seiring dengan perbaikan pendapatan dan yield pada setiap rute. Kapasitas pada penerbangan reposisi armada juga dioptimalkan agar dapat dikomersialkan secara maksimal.
“Setiap perkembangan yang bersifat material akan disampaikan oleh perseroan sesuai dengan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku. Kami berkomitmen menjaga transparansi kepada seluruh pemangku kepentingan,” kata Andreas.









