Masyarakat Bisa Dapat Uang dari Sekat Kanal

Kamis, 10 Maret 2016 16:50

BERTUAHPOS.COM (BPC), PEKANBARU – Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Poead menyebutkan bahwa lewat program pemerintah melakukan restorasi gambut melalui sekat kanal, akan memberikan pemasukan secara finansial kepada mayarakat tempatan.

“Namanya pertanian di lahan basah. Ini sepenuhnya nanti akan menjadi peluang pendapatan baru bagi masyarakat,” katanya, Kamis (10/03/2016).

Dalam menjalankan tugas untuk memperbaiki gambut, seluas 600 ribu hektar untuk tahun pertama ini, kata Nazir, masyarakat akan dilibatkan. Baik dalam permodalan untuk menggarap pertanian di lahan basah itu, atau pun bantuan pendampingan dari pihak akademisi dan NGO.

Bantuan tersebut, tidak hanya sebatas itu. Tapi hingga pada peluang untuk membuka pasar. “Jadi hasilnya, masyarakat bisa jual dan menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat se tempat. Jadi ada dua program yang akan berjalan. Pertama, soal restorasinya, kedua, masyarakat yang berada di sekitar lahan gambutun mendapatkan manfaat langsung dari restorasi tersebut,” katanya.

Baca: Pakar: Panglima TNI Pengganti Gatot Seharusnya Angkatan Udara

BRG untuk tahun pertama menetapkan sebanyak 600 ribu hektar lahan gambut harus diselamatkan. Kabupaten Kepulauan Meranti jadi target awal oleh lembaga itu untuk dilakukan pemulihan.

Nazir mengatakan jika memang harus mengikuti Peraturan Presiden (Perpres), BRG menargetnya sebanyak 2 juta hektar lahan gambut di tahan air yang harus terselamatkan, atau diretorasi.

“Ini dalam artian keadaan ekologisnya harus diperbaiki. Terutama bagaimana menjadikan lahan gambut itu selalu basah dan lembab. Idealnya jika pun dilempar obor, tanah itu tidak terbakar karena gambutnya lembab,” katanya.

Dia menambahkan, dari pengalaman sebelumnya, di pulau Sumatera dan Kalimantan sendiri, bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumaber Daya Alam (BKSDA), LSM dan universitas, meyakini bahwa upaya sekat kanal yang akan dilakukan bisa berhasil membuat gambut basah.

Untuk di Riau sendiri, Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi target utama restorasi gambut dari 600 ribu hektar tersebut. Namun demikian, melihat kondisi gambut di Dumai, Bangkalis dan Siak, pihak BRG tidak boleh lupa.  Dengan kata lain tidak seakan-akan hanya fokus di wilayah meranti saja. Sementara di daerah lain terabaikan.

“Kami akan langsung meluncur ke Dumai lewat darat melitasi Siak dan Bangkalis untuk dapat berinteraksi dan melihat langsung di lapangan,” sambungnya.

Penulis: Melba