BERTUAHPOS.COM — Bank Indonesia (BI) mengandalkan penguatan ekspor dan stabilitas nilai tukar untuk menghadapi tekanan dana asing terhadap rupiah.
Gubernur BI Destry Damayanti menilai minimnya arus dana asing membuat pasokan dolar menipis di tengah permintaan yang tinggi.
“Tentunya ini kan akan merambah ke negara-negara lain, termasuk negara berkembang yang selama ini kita banyak mendapatkan inflow juga dari negara-negara maju,” kata Destry dalam wawancaranya di Metro TV, dikutip Kamis, 28 Oktober 2026.
Destry menjelaskan kondisi global dengan imbal hasil tinggi dan potensi kenaikan Fed Fund Rate membuat perekonomian dunia memasuki era lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Dampaknya, arus dana asing ke Indonesia terbatas dan pasokan dolar minim.
“Jadi kalau suplai sudah terbatas, sementara kita punya permintaan-nya kan tinggi, harga minyaknya naik, berarti kan kita harus punya kebutuhan untuk biaya kebutuhan dolar juga lebih tinggi,” ujarnya.
Otoritas moneter berusaha menyamakan pergerakan rupiah dengan pergerakan mata uang lain di emerging market secara keseluruhan.
Destry juga menyoroti perlunya peningkatan ekspor untuk menambah devisa yang masuk ke Indonesia.
“Makanya mungkin berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah, termasuk bagaimana lebih memperhatikan, memfokuskan ekspor itu agar tidak terjadi transfer pricing atau under invoice, itu saya rasa hal yang positif ya,” katanya.
Destry memaparkan masih banyak potensi ekspor yang tidak tergarap dan menjadi pekerjaan rumah pemerintah ke depan.
Dia menegaskan BI berperan memperkuat stabilitas di tengah sentimen global dan guncangan domestik.
“Nah, ini yang terus kita, terus terang memang kita berusaha untuk meningkatkan juga untuk memonitor, benarkah ini ada yang mendasarinya? Karena kita benar-benar ingin meningkatkan tata kelola dari supply demand valas di domestik,” kata Destry.
Destry mengingatkan pentingnya menjaga volatilitas minimal agar dunia usaha mendapat kepastian arah gerak rupiah.
“Bahwa kalau ada timing menguat dia pasti akan tetap menguat, tapi kalau lagi ada tekanan yang tinggi, ada sentimen dan sebagainya, dia akan melemah. Jadi dia bergerak di koridor seperti itu,” pungkasnya.
Sebagai informasi, rupiah menutup perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026 melemah 0,17% di level Rp18.183/US$.
Posisi itu menjadi yang terlemah sepanjang sejarah setelah sempat menyentuh ATL di Rp18.188/US$ pada siang hari.
Pelemahan rupiah diperparah aksi penjualan di pasar obligasi. Kenaikan imbal hasil terjadi di semua tenor, dengan tenor 3 tahun naik 13,6 bps menjadi 7,26% dan tenor 12 tahun naik 10,8 bps menjadi 7,59%, sementara tenor acuan 10 tahun naik 5,9 bps menjadi 7,61%.*









