BERTUAHPOS.COM — Bank Indonesia (BI) mendorong penguatan ekonomi syariah Indonesia untuk meningkatkan daya saing dan memperbaiki posisi dalam peta industri halal global. Meski menempati peringkat keempat dunia dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia masih memiliki ruang untuk memperbesar peran di tengah persaingan dengan negara lain.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan Indonesia berada di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi dalam pemeringkatan tersebut. Namun, Indonesia berhasil menempati peringkat pertama dunia pada sektor modest fashion atau busana muslim yang mengedepankan kesopanan.
“Jadi dalam laporan State of the Global Islamic Economy di tahun 2025-2026, Indonesia berada di posisi empat dunia, tapi apakah ini kita puas? Insyaallah tidak, karena kita sebagai negara muslim terbesar,” ujar Destry saat membuka Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 2026 di Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2026.
Menurut Destry, jumlah penduduk muslim terbesar di dunia menjadi salah satu potensi yang dapat mendukung pengembangan ekonomi syariah Indonesia. Potensi tersebut perlu diikuti penguatan ekosistem, kolaborasi antarpemangku kepentingan, dan transformasi digital agar mampu menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Persaingan juga berkembang di kawasan Asia Tenggara. Destry menyoroti Filipina dan Thailand yang semakin agresif mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah, terutama sektor keuangan.
“Jadi setelah Malaysia, sekarang kita akan melihat Filipina dan Thailand. Jadi dua negara ini, ini sekarang mereka mengembangkan ekonomi keuangan syariahnya, khususnya di keuangan syariahnya secara cukup agresif,” kata Destry.
Perkembangan tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia untuk memperkuat fondasi industri syariah yang telah terbentuk. BI menilai sinergi antarpemangku kepentingan dan pemanfaatan teknologi digital diperlukan agar Indonesia mampu mempertahankan daya saing di tingkat regional sekaligus meningkatkan posisinya di pasar global.
Destry juga menekankan bahwa pasar ekonomi syariah tidak terbatas pada negara dengan mayoritas penduduk muslim. Prinsip inklusivitas, keadilan dalam distribusi manfaat pembangunan, dan keberlanjutan lingkungan dinilai relevan bagi berbagai kalangan, termasuk di negara dengan populasi muslim yang relatif kecil.
Nilai-nilai tersebut juga dapat diterapkan dalam pengembangan model bisnis konvensional. Dengan cakupan penerapan yang lebih luas, ekonomi syariah berpeluang berkembang sebagai bagian dari sistem ekonomi yang mendorong akses keuangan dan manfaat pembangunan secara lebih merata.
BI mendorong penguatan kolaborasi melalui penyelenggaraan ISEF sebagai wadah pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah nasional. Melalui sinergi tersebut, BI ingin mempercepat pertumbuhan sektor syariah sekaligus meningkatkan kemampuan Indonesia menghadapi persaingan industri halal dunia.









