• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Rabu, Oktober 28, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Jumlah Investor Pasar Modal Riau Justru Melonjak di saat IHSG Anjlok, Apa yang Terjadi?

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
28 Oktober 2026
Jumlah Investor Pasar Modal Riau Justru Melonjak di saat IHSG Anjlok, Apa yang Terjadi?

Kepala Perwakilan BEI Riau Emon Sulaeman | Foto: Bertuahpos / Melba Ferry Fadly.

Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM — Jumlah investor pasar modal di Riau mencapai 711.432 orang per Agustus 2026, hampir dua kali lipat dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebanyak 380.482 orang.

Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Riau, Emon Sulaeman, menjelaskan pertumbuhan ini berlangsung ketika pasar saham Indonesia menghadapi tekanan tajam, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun ke level 6.071,14 pada 30 September 2026.

Data tersebut memperlihatkan penambahan jumlah investor tidak selalu bergerak searah dengan kenaikan harga saham, sementara nilai transaksi dan aktivitas perdagangan tetap perlu dibaca sebagai indikator yang berbeda.

“Kontras antara pertumbuhan investor daerah dan pelemahan indeks nasional menjadi salah satu gambaran penting perkembangan pasar modal sepanjang 2026,” katanya dalam Media Gathering bertajuk Perkembangan Pasar Modal di Riau pada Selasa, 27 Oktober 2026, di Pekanbaru.

IHSG mencapai rekor tertinggi 9.134,80 pada 20 Januari 2026, sebelum turun ke 6.071,14 pada akhir September. Penurunan sekitar 33,5% dari puncak tersebut menunjukkan besarnya tekanan yang terjadi di pasar saham dalam periode itu.

Kapitalisasi pasar juga menyusut mengikuti penurunan indeks, dari rekor Rp16.640 triliun pada 19 Januari 2026 menjadi Rp10.695 triliun. Dengan demikian, nilai kapitalisasi pasar berkurang sekitar 35,7% dari puncaknya.

Jika dibandingkan dengan penutupan akhir 2025 di level 8.646,94 pada 30 Desember, IHSG telah melemah sekitar 29,8% hingga 30 September 2026. Pergerakan ini berbalik dari tren beberapa tahun sebelumnya, ketika indeks menutup perdagangan di level 5.979,07 pada 2020, 6.581,48 pada 2021, 6.850,62 pada 2022, 7.272,80 pada 2023, dan 7.079,91 pada 2024.

Kapitalisasi pasar Indonesia sebelumnya meningkat dari Rp6.970 triliun pada 2020 menjadi Rp8.256 triliun, Rp9.499 triliun, Rp11.674 triliun, dan Rp12.336 triliun pada periode berikutnya. Nilainya kemudian mencapai Rp15.849 triliun pada 2025, sebelum menyentuh rekor Rp16.640 triliun pada Januari 2026.

Investor Riau Bertambah 330.950 Orang dalam Delapan Bulan

Menurut data yang dipaparkan Emon, di tengah tekanan pasar tersebut, jumlah investor Riau justru meningkat secara signifikan. Setelah tercatat sebanyak 220.397 orang pada 2023 dan 253.037 orang pada 2024, jumlahnya naik menjadi 380.482 orang pada akhir 2025.

Dalam delapan bulan pertama 2026, sebanyak 330.950 investor baru bergabung sehingga total investor di Riau mencapai 711.432 orang per Agustus. Secara tahunan, pertumbuhan jumlah investor meningkat dari 14,8% pada 2024 menjadi 50,4% pada 2025 dan 87% pada 2026.

Dengan capaian itu, jumlah investor Riau telah mencapai sekitar 3,2 kali lipat dibandingkan posisi 2023. Total tersebut setara dengan sekitar 2,2% dari 32,2 juta investor pasar modal nasional.

“Pertumbuhan jumlah investor menunjukkan semakin luasnya partisipasi masyarakat Riau dalam pasar modal, tetapi angka tersebut tidak dengan sendirinya menggambarkan keuntungan investasi atau tingkat aktivitas setiap investor,” jelasnya.

Aktivitas transaksi investor Riau ikut meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Nilainya naik dari Rp25,7 triliun pada 2023 menjadi Rp29,6 triliun pada 2024, sebelum melonjak 104% menjadi Rp60,4 triliun sepanjang 2025.

Hingga Agustus 2026, nilai transaksi investor Riau telah mencapai Rp47,8 triliun atau sekitar 79% dari total transaksi sepanjang 2025.

Tekanan Global dan Domestik Membayangi Pasar

Emon menyebut, pergerakan pasar saham berlangsung di tengah sejumlah risiko eksternal dan domestik. Dalam paparannya, BEI mencatat ketegangan geopolitik Amerika Serikat dan Iran masih tinggi, sementara inflasi yang tinggi membuat Federal Reserve atau The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga ketat.

The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75–4,00%. “Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi bergerak di kisaran 4–5%, kondisi yang dalam paparan tersebut disebut turut menekan pasar negara berkembang,” jelasnya.

Di sisi lain, Amerika Serikat dan Tiongkok sepakat menghentikan sementara perang tarif. Pemerintah Indonesia juga menargetkan penyempitan defisit fiskal menjadi 2,4% dari produk domestik bruto (PDB), sedangkan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada 5,75%.

Dia turut menyinggung isu MSCI terkait status stand-alone market dan perombakan atau reshuffle kabinet. “Namun, data yang tersedia tidak merinci dampak kedua isu tersebut terhadap pergerakan IHSG maupun keputusan investor,” katanya.

Menurut Emon, berbagai faktor itu menjadi latar bagi pelemahan pasar pada 2026, tetapi data yang tersedia belum mengukur kontribusi masing-masing faktor terhadap penurunan indeks. Karena itu, koreksi IHSG tidak dapat diatribusikan hanya kepada satu faktor berdasarkan informasi tersebut.

Pasar Modal Nasional Membesar, Aktivitas Investor Ikut Berubah

Di balik volatilitas harga saham, fondasi pasar modal nasional terus membesar dari sisi jumlah perusahaan tercatat dan investor. Jumlah perusahaan tercatat meningkat dari 521 pada 2015 menjadi 713 pada 2020, kemudian mencapai 962 perusahaan pada September 2026.

Masih menurut Data BEI Riau, kenaikan jumlah perusahaan tercatat mencapai sekitar 37% pada periode 2015–2020 dan 34% pada periode 2020–September 2026. Pertumbuhan ini memperluas pilihan instrumen saham yang tersedia bagi investor di pasar domestik.

Pertumbuhan jumlah investor bahkan lebih tajam. Dari sekitar 434 ribu investor pada 2015, jumlahnya meningkat menjadi 3,9 juta pada 2020 atau naik 795%, lalu mencapai 32,2 juta pada September 2026, setara kenaikan sekitar 726% dibandingkan 2020.

Data tahunan investor saham, obligasi, dan reksa dana mencatat 3,881 juta pada 2020, 7,489 juta pada 2021, 10,311 juta pada 2022, 12,168 juta pada 2023, 14,871 juta pada 2024, dan 20,348 juta pada 2025. Jumlah tersebut kemudian mencapai 32,167 juta pada September 2026.

Dari total tersebut, investor C-Best tercatat sebanyak 10,252 juta atau sekitar 31,9%. Sementara itu, jumlah investor aktif tahunan meningkat dari 750 ribu pada 2020 menjadi 3,232 juta pada September 2026.

Di antara kedua periode itu, investor aktif tahunan tercatat 1,676 juta pada 2021, 1,721 juta pada 2022, 1,528 juta pada 2023, 1,668 juta pada 2024, dan 2,561 juta pada 2025. Perkembangan ini menunjukkan kenaikan jumlah investor yang melakukan transaksi setidaknya dalam periode tahunan, meski jumlah investor terdaftar secara keseluruhan jauh lebih besar.

Jumlah investor aktif bulanan meningkat dari 294 ribu pada 2020 menjadi 1,424 juta pada September 2026. Investor aktif mingguan naik dari 180 ribu menjadi 834 ribu, sedangkan investor aktif harian bertambah dari 95 ribu menjadi 394 ribu.

Pasar modal nasional juga didukung 88 anggota bursa, terdiri atas 61 anggota lokal dan 27 anggota patungan. Meski jumlah pelaku bursa tersebut mencerminkan luasnya infrastruktur perdagangan, sekitar 81% total nilai transaksi dikelola oleh 20 perusahaan efek teratas.

Pilihan Instrumen Investasi Semakin Beragam

Per September 2026, BEI mencatat 962 saham dengan kapitalisasi pasar Rp10.695 triliun atau sekitar US$598 miliar. Pasar obligasi juga mencakup 138 obligasi, dengan nilai outstanding obligasi pemerintah mencapai Rp6.983 triliun atau US$391 miliar dan obligasi korporasi Rp560 triliun atau US$31 miliar.

Emon menjelaskan, selain saham dan obligasi, bursa menyediakan instrumen investasi lain dengan karakteristik yang berbeda. Terdapat 49 produk exchange-traded fund (ETF) dengan dana kelolaan Rp14 triliun atau sekitar US$1 miliar, serta tujuh efek beragun aset dengan nilai Rp3 triliun atau US$188 juta.

Selain itu, Pasar juga mencatat tiga real estate investment trust (REIT) dengan dana kelolaan Rp10 triliun atau sekitar US$1 miliar. Lalu, terdapat 529 waran terstruktur dengan kapitalisasi Rp3,56 triliun atau sekitar US$199 juta.

Untuk perdagangan derivatif, bursa menyediakan enam jenis kontrak berjangka, yakni Single Stock Futures, IDX LQ45 Futures, IDX30 Futures, KBIA MSCI CHK Futures, Indo Govt Bond Future, dan Basket Bond Futures.

“Keberadaan berbagai instrumen ini memperluas pilihan produk di pasar modal, meski setiap instrumen memiliki mekanisme, risiko, dan karakteristik transaksi yang berbeda,” katanya.

Investor Ritel Mengambil Porsi Lebih Besar

Komposisi kepemilikan pasar juga mengalami perubahan. Porsi investor ritel meningkat dari 13,1% pada 2020 menjadi 18,6% pada September 2026, sementara investor institusi domestik menguasai 43,4% dan investor institusi asing turun menjadi 38,0% dari 49,1% pada 2020.

Emon menyebut, perubahan komposisi kepemilikan tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya kontribusi investor ritel dalam aktivitas transaksi harian.

Pada September 2026, investor ritel menyumbang 52,1% dari rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp20,8 triliun, sedangkan institusi asing berkontribusi 34,9% dan institusi domestik 13,0%.

Setahun sebelumnya, investor ritel mencakup 47,3% dari rata-rata nilai transaksi harian Rp15,5 triliun. Investor asing menyumbang 38,3% dan institusi domestik 14,4%, sedangkan sepanjang 2025 porsi ritel mencapai 50,4% dari rata-rata transaksi harian Rp18,1 triliun.

Data tersebut memperlihatkan bahwa ritel menjadi kelompok terbesar dalam komposisi transaksi harian pada September 2026. Namun, porsi transaksi harian dan porsi kepemilikan merupakan dua ukuran berbeda sehingga tidak dapat dipertukarkan ketika menilai pengaruh investor terhadap pasar.

Nilai dan Frekuensi Perdagangan Nasional Meningkat

Masih menurut data BEI Riau, rata-rata nilai transaksi harian nasional mencapai Rp20,8 triliun pada September 2026, naik 15,4% dibandingkan Rp18,1 triliun sepanjang 2025. Pada periode yang sama, frekuensi transaksi meningkat 36,3% menjadi 2,433 juta kali, sementara volume perdagangan naik 28,6% menjadi 39,0 miliar saham.

Pergerakan nilai transaksi sebelumnya tidak selalu meningkat setiap tahun. Nilainya tercatat Rp13,4 triliun pada 2021, Rp14,7 triliun pada 2022, Rp10,7 triliun pada 2023, dan Rp12,9 triliun pada 2024, sebelum naik menjadi Rp18,1 triliun pada 2025.

Frekuensi transaksi juga bergerak dari 1,295 juta kali pada 2021 menjadi 1,306 juta pada 2022, lalu turun menjadi 1,180 juta pada 2023 dan 1,132 juta pada 2024. Angka tersebut meningkat setelahnya, sementara volume perdagangan masing-masing tercatat 20,6 miliar saham pada 2021, 23,9 miliar pada 2022, 19,8 miliar pada 2023, dan 19,9 miliar pada 2024.

Rincian perdagangan menunjukkan nilai transaksi saham meningkat dari Rp13.372 miliar pada 2021 menjadi Rp20.847 miliar pada September 2026. Di antara kedua periode tersebut, nilainya tercatat Rp14.707 miliar pada 2022, Rp10.746 miliar pada 2023, Rp12.851 miliar pada 2024, dan Rp18.066 miliar pada 2025.

Perdagangan obligasi pemerintah mencatat kenaikan volume dari Rp55.624 miliar menjadi Rp60.057 miliar. Volume obligasi korporasi meningkat lebih tajam, dari Rp1.383 miliar menjadi Rp9.459 miliar.

Sementara itu, nilai transaksi waran turun dari Rp49,85 miliar pada 2021 menjadi Rp14,64 miliar pada September 2026. Transaksi rights mencapai Rp6,42 miliar setelah tercatat Rp1,71 miliar pada 2025.

Waran terstruktur, yang mulai diterbitkan pada September 2022, mencatat transaksi Rp24,37 miliar pada September 2026, naik dari Rp10,02 miliar sepanjang 2025.

Pada September 2026, transaksi ETF mencapai Rp1,15 miliar, REIT Rp0,01 miliar, efek beragun aset Rp0,12 miliar, dan kontrak berjangka Rp0,02 miliar, dengan angka terakhir bersifat sementara.

Investor Muda Mendominasi Profil Nasional

Berdasarkan data per Agustus 2026, Emon menjelaskan bahwa jumlah investor laki-laki mencakup 64,49% dari total investor nasional, sedangkan perempuan 35,51%.

“Porsi laki-laki meningkat dibandingkan 62,15% pada Agustus 2024 dan 62,97% pada Agustus 2025,” ujarnya.

Dari sisi usia, kelompok di bawah 30 tahun mendominasi dengan porsi 55,25%. Kelompok usia 31–40 tahun menyumbang 25,39%, usia 41–50 tahun 11,42%, usia 51–60 tahun 5,38%, dan kelompok di atas 60 tahun 2,56%.

Karyawan menjadi kelompok pekerjaan terbesar dengan porsi 59,49%, meningkat dari 40,06% pada 2025 dan 32,73% pada 2024. Kategori karyawan dalam data tersebut mencakup pegawai negeri, pegawai swasta, dan guru.

Sebaliknya, porsi pelajar turun menjadi 10,86% dari 19,21% pada 2025 dan 24,46% pada 2024. Wirausaha mencakup 10,58%, ibu rumah tangga 3,20%, dan kategori pekerjaan lainnya 15,87%.

Profil pendidikan juga berubah dalam data tiga tahun terakhir. Porsi lulusan SMA turun menjadi 30,69% pada Agustus 2026, dari 52,58% pada Agustus 2024 dan 44,52% pada Agustus 2025.

Porsi lulusan sarjana turun menjadi 13,90%, dibandingkan 25,24% pada Agustus 2024 dan 21,33% pada Agustus 2025. Lulusan diploma juga menyusut menjadi 3,09% dari 6,26% dan 5,05% pada dua periode sebelumnya.

Porsi lulusan magister turun menjadi 1,23%, dari 2,42% pada Agustus 2024 dan 1,96% pada Agustus 2025. Sementara itu, kategori pendidikan lainnya meningkat menjadi 51,09%, dibandingkan 13,50% pada Agustus 2024 dan 27,14% pada Agustus 2025.

Pekanbaru Menjadi Pusat Investor Riau

Di tingkat daerah, Kota Pekanbaru menjadi pusat investor pasar modal di Riau dengan 171.708 Single Investor Identification (SID) pasar modal dan 78.895 SID saham per Agustus 2026. Jumlah investor pasar modal di ibu kota provinsi itu mencakup sekitar 24% dari total 711.432 investor Riau.

Kabupaten Kampar menempati urutan berikutnya dengan 82.865 SID pasar modal dan 17.378 SID saham. Kabupaten Bengkalis berada di posisi selanjutnya dengan 72.378 SID pasar modal dan 18.926 SID saham.

Kabupaten Indragiri Hilir mencatat 58.627 SID pasar modal dan 11.605 SID saham, sedangkan Rokan Hilir memiliki 58.447 SID pasar modal dan 11.001 SID saham. Kabupaten Siak mencatat 50.040 SID pasar modal dan 13.303 SID saham, sementara Rokan Hulu memiliki 46.308 SID pasar modal dan 9.754 SID saham.

Kota Dumai mencatat 43.663 SID pasar modal dan 13.594 SID saham. Adapun Indragiri Hulu memiliki 42.119 SID pasar modal dan 8.698 SID saham, Pelalawan 41.519 dan 9.300, serta Kuantan Singingi 28.638 dan 6.071.

Kabupaten Kepulauan Meranti berada pada posisi terbawah dengan 15.120 SID pasar modal dan 3.875 SID saham. Jika dijumlahkan, data SID pasar modal di 12 kabupaten dan kota tersebut mencapai 711.432.

Investor Riau Didominasi Usia di Bawah 31 Tahun

Berdasarkan data profil investor Riau yang mencakup 197.107 SID memperlihatkan dominasi kelompok usia muda. Investor berusia 18–25 tahun berjumlah 72.448 SID atau 36,75%, sedangkan kelompok usia 26–30 tahun mencapai 49.971 SID atau 25,35%.

Kelompok usia 31–40 tahun tercatat 45.998 SID atau 23,34%, sementara kelompok usia di atas 40 tahun berjumlah 28.690 SID atau 14,55%. Dengan komposisi tersebut, investor berusia di bawah 31 tahun mencakup sekitar 62% dari basis data profil yang dipaparkan.

Dari sisi pekerjaan, pegawai swasta menjadi kelompok terbesar dengan 71.287 SID atau 36,17%. Pelajar berada di urutan berikutnya dengan 37.858 SID atau 19,06%, disusul pengusaha sebanyak 32.545 SID atau 16,51% dan kategori lain-lain sebanyak 34.532 SID atau 17,52%.

Pegawai negeri tercatat 7.511 SID atau 3,80%, sedangkan ibu rumah tangga berjumlah 7.499 SID atau 3,80%. Guru dan dosen mencatat 3.392 SID atau 1,72%, TNI dan Polri 1.434 SID atau 0,73%, serta pensiunan 1.049 SID atau 0,53%.

Porsi pelajar dalam profil investor Riau sekitar 1,8 kali porsi nasional yang sebesar 10,86%. Porsi pengusaha Riau juga lebih besar dibandingkan porsi wirausaha nasional sebesar 10,58%, meski kedua angka itu berasal dari kategori dan basis data yang perlu dibaca secara cermat.

Data profil Riau tersebut mencakup 197.107 SID, berbeda dari total 711.432 investor pasar modal Riau yang dilaporkan per Agustus 2026. Karena itu, distribusi usia dan pekerjaan dalam profil tersebut tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh investor di provinsi ini tanpa penjelasan tambahan mengenai cakupan datanya.

Sebaran Galeri Investasi Belum Merata

Riau memiliki 36 Galeri Investasi (GI) yang berperan sebagai bagian dari jaringan edukasi pasar modal. Jumlah itu terdiri atas 25 GI kampus, empat GI edukasi, lima GI desa, satu GI kafe, dan satu GI yayasan.

“Pekanbaru menjadi daerah dengan jumlah GI terbanyak, yakni 21 unit, disusul Kampar dengan tujuh unit. Bengkalis memiliki tiga GI dan Kota Dumai dua GI, sedangkan Rokan Hulu, Siak, dan Indragiri Hilir masing-masing memiliki satu GI,” ujar Emon.

Berdasarkan peta dalam paparan BEI, lima daerah belum tercatat memiliki GI, yakni Rokan Hilir, Indragiri Hulu, Pelalawan, Kuantan Singingi, dan Kepulauan Meranti. Kepulauan Meranti juga merupakan daerah dengan jumlah investor pasar modal paling sedikit, yakni 15.120 SID.

Hingga September 2026, kegiatan edukasi pasar modal di Riau tercatat sebanyak 340 kali. Dari total kegiatan tersebut, 47% berupa literasi, 27% aktivasi, 24% inklusi, dan dua% pendalaman pasar modal.

Sebaran GI dan kegiatan edukasi menjadi bagian penting dalam upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai pasar modal. Namun, data yang tersedia belum menunjukkan hubungan sebab-akibat antara jumlah GI, intensitas edukasi, dan pertumbuhan investor di masing-masing kabupaten atau kota.

Pertumbuhan Investor Perlu Dibaca Bersama Kualitas Partisipasi

Data pasar modal Riau pada 2026 memperlihatkan dua perkembangan yang berjalan bersamaan, yakni jumlah investor meningkat pesat, sementara IHSG dan kapitalisasi pasar mengalami koreksi tajam dari rekor awal tahun.

“Nilai transaksi Riau yang mencapai Rp47,8 triliun hingga Agustus juga menunjukkan besarnya aktivitas perdagangan, meski angka tersebut belum menjelaskan distribusi transaksi berdasarkan kelompok investor,” ujarnya.

Di tingkat nasional, kenaikan investor aktif, meningkatnya porsi transaksi ritel, serta bertambahnya pilihan instrumen memperlihatkan perkembangan pasar yang tidak hanya bergantung pada pergerakan indeks.

Pada saat yang sama, dominasi investor muda dan terkonsentrasinya Galeri Investasi di sejumlah daerah menjadi aspek penting dalam membaca jangkauan partisipasi pasar modal.

Bagi Riau, tantangannya bukan hanya menambah jumlah SID, tetapi juga memperluas pemahaman masyarakat tentang risiko, karakteristik instrumen, dan cara berinvestasi sesuai kebutuhan masing-masing.

Data yang tersedia menunjukkan ruang pertumbuhan tersebut, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan tingkat literasi, kualitas keputusan investasi, atau keuntungan yang diperoleh investor.*

Tags: BEI Riaubursa efek indonesiaekonomi riauGaleri Investasi RiauIHSG 2026investasi sahamInvestor Muda Riauinvestor pasar modal riauInvestor Pekanbaruliterasi pasar modalPasar Modal IndonesiaTransaksi Saham Riau
Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Usia 18-25 Tahun Dominasi Investor Pasar Modal Riau
Ekonomi

Usia 18-25 Tahun Dominasi Investor Pasar Modal Riau

...

Read moreDetails
Prabowo Tantang MSCI, IHSG Sempat Anjlok hingga 11,6%

Aksi Jual Investor Asing Tembus Rp1,4 Triliun Usai Prabowo Tantang MSCI

Usai Tetapkan Batas ARB 7%, BEI Minta Investor Tak Bereaksi dalam Kepanikan

Usai Tetapkan Batas ARB 7%, BEI Minta Investor Tak Bereaksi dalam Kepanikan

Dirut Baru BEI Andalkan Strategi Transparansi dan Tata Kelola yang Baik

6 Saham Berpotensi Beri Dividen di Atas 10% saat Pasar Terkoreksi

OJK Sanksi Pelanggaran Saham 3 Emiten, Total Denda Rp2,1 Triliun

OJK Sanksi Pelanggaran Saham 3 Emiten, Total Denda Rp2,1 Triliun

OJK Riau Jadikan Nenas Siak Proyek Percontohan Ekonomi Daerah

OJK Riau Jadikan Nenas Siak Proyek Percontohan Ekonomi Daerah

Next Post
Indonesia Kalahkan 25 Pasar dalam Adopsi AI Multimodal

Indonesia Kalahkan 25 Pasar dalam Adopsi AI Multimodal

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.