BERTUAHPOS.COM – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menerbitkan obligasi global perdananya dan langsung menjadi motor penguatan signifikan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir. Langkah korporasi ini sukses menyedot aliran dana asing senilai 1,5 miliar dolar AS yang masuk ke pasar keuangan domestik.
Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai dana hasil penerbitan utang tersebut menjadi faktor penopang utama mata uang Garuda.
“Faktor penguatan kurs Rupiah sepekan terakhir bukan karena masuknya realisasi investasi asing seperti pembangunan pabrik, melainkan salah satunya dipicu aksi Danantara menerbitkan obligasi,” kata Bhima dalam keterangannya, Sabtu, 20 Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa penerbitan utang global itu memang mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. Namun, efek positif ini hanya bersifat temporer karena berbeda fundamental dengan investasi langsung yang bisa menghasilkan pembangunan pabrik dan penciptaan lapangan kerja.
Aliran modal portofolio yang masuk dari aksi korporasi tersebut rentan keluar sewaktu-waktu. Bhima menegaskan efeknya tidak sekuat Penanaman Modal Asing yang berkontribusi langsung terhadap aktivitas ekonomi riil.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengklaim penguatan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjadi karena perbaikan persepsi investor. Menurutnya, kepercayaan pasar berhasil dipulihkan setelah pemerintah dan Danantara melakukan serangkaian langkah strategis.
“Kalau kita lihat beberapa hari terakhir ini, baik dari pasar modal kita maupun Rupiah mengalami penguatan relatif cepat juga. Penguatan ini tidak akan terjadi kalau kita tidak melakukan apa-apa,” ujar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan.
Rosan membeberkan bahwa Danantara telah melakukan roadshow ke sejumlah pusat keuangan dunia dan bertemu sekitar 122 investor global. Dari pertemuan itu, investor yang sebelumnya meragukan prospek ekonomi Indonesia mulai kembali percaya terhadap arah kebijakan pemerintah dan fundamental ekonomi nasional.
Dia menambahkan, momen kebangkitan keyakinan ini berhasil membalikkan persepsi negatif yang sempat muncul. “Setelah mereka lihat Indonesia merespons dengan baik dan benar, persepsi yang tadinya agak ragu terhadap ekonomi kita kini berubah,” ujar Rosan.
Sejak Danantara menerbitkan obligasi perdananya pada 12 Juni 2026, nilai tukar rupiah konsisten menguat ke kisaran Rp17.600–Rp17.700 per dolar AS. Level ini jauh membaik dibandingkan pekan-pekan sebelumnya yang sempat menyentuh kisaran Rp18.000.
Meski demikian, penguatan nilai tukar rupiah ini juga tidak bisa dilepaskan dari respons agresif bank sentral. Bank Indonesia (BI) kembali mengerek suku bunga acuan ke level 5,75 persen pada 18 Juni 2026 lalu.









