BERTUAHPOS.COM — Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026 ditutup melemah 0,46 persen ke level Rp18.049 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.966 per dolar AS.
Menurut ekonom Universitas Riau Dahlan Tampubolon, APBN saat ini berada dalam posisi terjepit. Beban utang kian berat akibat nilai tukar rupiah yang melemah, sementara ruang fiskal makin sempit.
“Jadi, stop dulu ambisi proyek mercusuar yang tidak jelas multiplier effect-nya ke ekonomi rakyat kecil,” tegasnya, Kamis, 5 Juni 2026.
“Fokuslah ke efisiensi belanja yang benar-benar pro-rakyat dan mampu mensubstitusi barang impor, bukan malah menambah utang untuk proyek yang sekadar gaya-gayaan,” ujarnya.
Dahlan juga menyoroti ketergantungan kronis Indonesia pada dolar AS dalam transaksi internasional. Ia mendesak pemerintah untuk serius menerapkan Local Currency Transaction (LCT) dengan mitra dagang utama.
“Kenapa masih repot pakai dolar kalau kita bisa bayar menggunakan mata uang lokal? Ketergantungan pada dolar ini jadi kerentanan ekonomi yang harus kita putus sekarang juga, bukan besok,” katanya.
Dahlan mengingatkan dampak pelemahan nilai tukar rupiah juga dirasakan langsung oleh masyarakat Riau lewat harga-harga kebutuhan yang mulai merangkak naik. Ia pun menekankan perlunya membedah situasi ini dengan logika ekonomi yang jernih dan apa adanya.
Secara fundamental, Dahlan menyebut pelemahan rupiah ini merupakan akumulasi dari kondisi Interest Rate Parity yang tidak berpihak pada Indonesia. Bunga obligasi Amerika Serikat yang tengah menarik memicu modal asing keluar massal dari Indonesia menuju instrumen dolar yang dianggap lebih aman.
“Ketika capital outflow lebih deras dari yang masuk, hukum permintaan dan penawaran bekerja tanpa ampun. Dolar banyak dicari, rupiah ditinggalkan, ya nilainya anjlok,” jelasnya.
Dahlan juga menyoroti kondisi neraca pembayaran Indonesia yang dinilainya sedang megap-megap. Ketergantungan terlalu lama pada surplus perdagangan komoditas, sementara impor bahan baku industri masih sangat tinggi, membuat neraca berjalan langsung tertekan begitu harga komoditas global bergejolak.
“Ini bukan sekadar fluktuasi harian, tapi bom waktu struktural yang selama ini kita abaikan,” tegasnya.
Terkait peran Bank Indonesia, Dahlan mengakui BI sudah bekerja keras lewat instrumen moneter seperti kenaikan suku bunga dan intervensi di pasar valuta asing. Namun ia mengingatkan bahwa kebijakan moneter tidak akan cukup jika disiplin fiskal pemerintah tidak dijaga.
“Kalau fiskal pemerintah tidak disiplin dan terus memaksakan belanja tidak produktif, intervensi moneter BI itu ibarat menambal bendungan bocor pakai plester. Sebanyak apa pun cadangan devisa kita, bakal terkuras habis,” pungkas Dahlan.









