BERTUAHPOS.COM — Sebuah gigi geraham berusia sekitar 59.000 tahun yang ditemukan di dalam Gua Chagyrskaya, Siberia, Rusia, mengungkap bukti mengejutkan tentang operasi gigi tertua di dunia yang pernah tercatat dalam sejarah ilmu pengetahuan. Gigi milik seorang Neanderthal itu menyimpan tanda-tanda prosedur invasif yang tampaknya dilakukan menggunakan alat batu kecil untuk mengikis kerusakan dan meredakan rasa sakit akibat lubang dalam yang mencapai ruang pulpa.
Menurut arkeolog Ksenia Kolobova dari Institut Arkeologi dan Etnografi Cabang Siberia Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, gigi tersebut merupakan contoh tertua yang diketahui dari operasi gigi invasif dan menjadi bukti penting tentang kemampuan kognitif Neanderthal. Temuan ini dipublikasikan pada 13 Mei dalam jurnal ilmiah PLOS One dan langsung memantik perhatian komunitas ilmuwan internasional.
“Ini penting karena membuktikan bahwa Neanderthal memiliki kemampuan kognitif yang canggih, termasuk perencanaan, keterampilan motorik yang tepat, dan strategi medis yang disengaja — yang menantang pandangan usang bahwa perilaku kompleks seperti itu hanya dimiliki oleh manusia modern,” kata Kolobova, dikutip dari The Japan Time, Minggu, 31 Mei 2026.
Kolobova juga menegaskan bahwa prosedur operasi gigi tertua di dunia ini bukan tindakan sederhana, melainkan membutuhkan serangkaian kemampuan kognitif yang kompleks. “Prosedur ini membutuhkan diagnosis sumber rasa sakit, pemahaman bahwa pengangkatan jaringan yang membusuk dapat memberikan kelegaan, pemilihan alat batu yang tepat secara sengaja, dan pelaksanaan pengeboran yang presisi dengan gerakan jari yang terkontrol,” jelasnya.
Gigi geraham yang menjadi bukti operasi gigi tertua di dunia itu ditemukan di Gua Chagyrskaya, situs kaya fosil Neanderthal di tepi kiri Sungai Charysh di kaki Pegunungan Altai, Siberia selatan. Lubang dalam pada gigi tersebut mencakup hampir seluruh permukaan pengunyah dan mencapai ruang pulpa — tempat ujung saraf dan pembuluh darah berada.
Para peneliti menyimpulkan bahwa lubang berbentuk khas dengan pola alur mikroskopis ini merupakan modifikasi yang disengaja, bukan kerusakan yang terjadi secara alami. Bukti keausan rutin pada gigi juga menunjukkan bahwa individu Neanderthal tersebut masih hidup cukup lama setelah menjalani prosedur operasi gigi itu.
Antropolog sekaligus penulis utama studi, Alisa Zubova dari Museum Antropologi dan Etnografi Peter Agung atau Kunstkamera di St. Petersburg, menyebut temuan ini selaras dengan pemahaman ilmu kedokteran gigi modern. “Hal ini sesuai dengan pemahaman modern tentang pengobatan lesi karies yang dalam,” ujar Zubova.
Lydia Zotkina, ahli jejak dari Institut Arkeologi dan Etnografi yang juga menjadi penulis bersama studi ini, melakukan eksperimen replikasi menggunakan alat kecil dari jasper — sejenis kuarsa yang serupa dengan alat yang ditemukan di Gua Chagyrskaya dari masa pendudukan Neanderthal. Hasilnya menunjukkan bahwa gerakan memutar atau mengebor dengan tangan menggunakan alat batu kecil merupakan teknik paling efektif untuk menghasilkan lubang dengan bentuk serupa.









