BERTUAHPOS.COM — Kawasan Jam Gadang di Kota Bukittinggi memang tak pernah sepi pengunjung. Bangunan ikonik khas Belanda itu masih menjadi magnet yang kuat bagi wisatawan.
Rabu sore menjelang senja, 14 September 2026, saya duduk area pelataran Jam Gadang, sambil menikmati secangkir Kopi Tatungkui. Kopi Khop, istilah kerennya.
Hilir mudik silih berganti, para pedagang menjajakan berbagai jenis dagangannya. Ada cemilan, kembang gula, mainan anak-anak, gorengan, pergedel, macam-macam.
Sedang para pengunjung, pastinya berswafoto, jalan-jalan, duduk bercerita dengan rekan-rekannya, sambil menikmati suasana sore yang mulai meredup.
Sayang, kali ini saya tak bisa melihat keindahan Jam Gadang secara sempurna. Tak ada langit biru atau jingga. Karena Kota Bukittinggi memutih akibat kabut asap, sama seperti Riau.
Namun, itu tak mengurangi hangatnya suasana di sekitar bangunan jam raksasa. Ia masih berdiri kokoh seperti jaman dulu. Zaman di mana kota ini takluk di bawah penjajahan Belanda.
Ya. Jam Gadang Bukittinggi bukan sekadar menara jam ikonik di ranah minang. Menara jam setinggi 26 meter ini dibangun pada tahun 1926 oleh pemerintah kolonial Belanda.
Selain sebagai penanda waktu, Jam Gadang Bukittinggi menjadi pusat berkumpulnya masyarakat Minangkabau.
Di dalam Jam Gadang Bukittinggi terdapat ruangan khusus bernama “ruang jam”. Di sinilah mesin jam berukuran besar ditempatkan dan masih berfungsi hingga sekarang.
Pada malam hari, lampu-lampu yang menyala di sekitar Jam Gadang menciptakan pemandangan mempesona. Keindahan ini menjadi daya pikta bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Bukittinggi.
Sebagai simbol budaya, Jam Gadang Bukittinggi menginspirasi seniman dan budayawan dalam berbagai karya. Lagu daerah “Ayam Den Lapeh” bahkan bercerita tentang seorang lelaki yang menunggu kekasihnya di bawah bangunan ikonik itu.
Di balik keindahannya, Jam Gadang Bukittinggi menyimpan sejarah kelam tentang pembantaian ratusan warga sipil saat pemberontakan PRRI tahun 1958.
Peristiwa berdarah ini membuktikan bahwa di balik keindahan sebuah ikon budaya, tersimpan luka sejarah yang mendalam bagi masyarakat Minangkabau.
Sutan Iskandar, kelahiran 1947, masih mengingat kejadian itu dengan jelas. Saat berusia 12 tahun, ia menyaksikan sekelompok tentara pusat menggiring ratusan lelaki menuju Jam Gadang Bukittinggi.
“Selanjutnya saya tidak menyaksikan lagi mereka diapakan, tapi memang saya mendengar tembakan berkali-kali dari arah Jam Gadang,” kenang Sutan Iskandar seperti dikutip dari merdeka.com.
Pada 10 Februari 1958, PRRI tercetus di Padang di bawah pimpinan Letnan Kolonel Ahmad Husein. Gerakan ini awalnya merupakan koreksi politik terhadap pemerintahan Presiden Sukarno yang dianggap lebih berat ke kiri.
Sejarawan R.Z. Leirissa dalam bukunya menjelaskan bahwa kritik PRRI malah disikap keras oleh Presiden Sukarno. Presiden memerintahkan tentara menyerang Sumatera Barat melalui Operasi 17 Agustus 1958.
Kolonel Achmad Jani memimpin operasi tersebut. Sejak itulah ranah Minang dibekap perang saudara yang memilukan, dan menelan banyak korban jiwa.
Dalam buku karya Syamdani, tercatat 187 orang Minang dibunuh di dekat Jam Gadang Bukittinggi. Data ini mengacu pada artikel surat kabar Singgalang edisi 20 Januari 2000.
Ironisnya, hanya 17 orang yang teridentifikasi sebagai gerilyawan PRRI. Sementara 170 orang lainnya merupakan warga sipil yang tidak mengerti apa-apa.
“Tank-tank itu menghujani rumah-rumah penduduk dengan peluru-peluru secara membabibuta hingga musnah terbakar,” ungkap Sanur dalam surat kabar Singgalang, 2 Februari 2000.
Teror serupa juga dialami keluarga ulama Kamang bernama Kari Mangkudung. Betti Yusfa dalam makalahnya menuliskan bagaimana keluarga Kari Mangkudung musnah dibantai tentara pusat.
“Mereka hanya menyisakan seorang bayi berusia tiga bulan yang kemudian dibawa seorang tentara pusat dan sampai sekarang tidak diketahui lagi di mana rimbanya,” ungkap Z. Sutan Kabasaran.
Insiden di Desa Bansa pada 1959 turut menambah daftar kelam sejarah ini. Setidaknya adaa 3 pemuka masyarakat diperintahkan mendaki bukit lalu menjadi sasaran latihan tembak.
“Dari jarak yang cukup jauh, tentara pusat menembaki mereka satu persatu hingga mayat-mayat ketiganya bergulingan ke kaki bukit,” ungkap M. Datuk Manindieh.
Pembantaian massal juga terjadi di Kamang pada November 1959. Saat hari pasar, tentara pusat menghujani desa dengan mortir, artileri berat, dan serangan udara.
Jam Gadang Bukittinggi tetap berdiri kokoh hingga kini. Namun di balik kemegahannya, menara ini menyimpan cerita pilu yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Minangkabau.
Luka masa lalu itu kini sudah tinggal sejarah yang patut untuk terus dilestarikan. Agar negerasi penerus tahu, bahwa Tanah Air tempat kita hidup, tumbuh, dan berkembang ini, diraih dengan pengorbanan, darah dan air mata.









