BERTUAHPOS.COM — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mencatat pelemahan pada pembukaan perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, di tengah tekanan yang masih menyelimuti pasar keuangan global.
Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.851 per dolar AS, turun enam poin atau setara 0,03 persen dari Rp17.845 per dolar AS pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance pada waktu yang sama mencatat rupiah justru bergerak sedikit menguat ke Rp17.784 per dolar AS, naik satu poin dari Rp17.785 per dolar AS pada pembukaan.
Mata uang Garuda masih tertekan meski dolar AS juga mendapat tekanan seiring beredarnya laporan tentang kebuntuan draf perdamaian antara AS dan Iran.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai nilai tukar rupiah saat ini masih memiliki ruang rebound yang cukup besar jika bauran kebijakan atau policy mix antara fiskal dan moneter membaik. Ia memperkirakan rupiah berpotensi menguat kembali ke kisaran Rp16.800 hingga Rp17.000 per dolar AS apabila koordinasi fiskal dan moneter berjalan solid.
“Level rupiah saat ini menurut saya terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya,” kata Fakhrul dalam keterangannya dikutip dari Antara.
Ia menegaskan bahwa stabilisasi nilai tukar rupiah tidak bisa hanya dibebankan kepada Bank Indonesia semata, melainkan membutuhkan keseimbangan bauran kebijakan antara instrumen fiskal dan moneter secara bersamaan.
Fakhrul mencatat bahwa pasar kini tengah mencermati konsistensi arah kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia secara seksama. Koordinasi kebijakan dinilai sangat krusial di tengah tekanan global yang besar, terutama mengingat Bank Indonesia baru saja menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin ke level 5,25 persen.
Langkah kenaikan BI-Rate tersebut merupakan sinyal bahwa Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari sisi moneter. Namun Fakhrul menekankan bahwa tanpa dukungan kebijakan fiskal yang seimbang dan pembagian beban yang proporsional, ruang penguatan rupiah akan tetap terbatas di tengah derasnya tekanan eksternal yang belum mereda.









